"Jamur apa yang kau bawa Hanson?" Aurora berteriak heboh sambil tersenyum cerah saat mendapati Hanson baru saja melangkahkan kakinya di kelas
Hanson mengusap wajahnya yang sedikit kusut karena ulah sang mommy yang selalu membangungkan tidurnya dengan cara yang cukup ekstrim- seperti mengguyur sekujur tubuhnya dengan se ember air. Pria itu baru saja menjatuhkan bokongnya disamping kursi Aurora dan menatap gadis itu dengan kernyitan bingung,
"Aih! Jamur apa yang kamu maksud itu Aurora?"Hanson kembali melontarkan pertanyaan, tangannya menggaruk rambutnya yang sedikit awut-awutan
Senyum Aurora meluntur, berganti dengan desisan kesal seraya memberi cubitan kecil dilengan sahabatnya itu.
" Apa kamu lupa dengan tugas Biologi kita?!"tanya Aurora ngegas, gadis lugu itu berubah menyeramkan ketika kesal. Hanson saja sampai mengerjap terkejut dan berakhir dengan mengusap dadanya
"Sudah di guyur satu ember, lalu di cubit dan sekarang.... Apa ini! Aku di marahi. Untung aku ini adalah pria yang terlahir sabar" ya bukan Hanson namanya jika pria itu tidak selalu merasa kepedean tingkat dewa
Sementara itu, Aurora berdecak sebal. Ia malas meladeni sikap Hanson yang terkadang lebih tulalit darinya itu. Persetan dengan masalah jamur milik pria itu yang penting jamur hasil pencariannya dengan sang Ayah aman
Masih ada sisa dua puluh lima menit sebelum bell masuk berbunyi, Aurora teringat dengan Pr Kimia yang belum atau memang sengaja ia tidak kerjakan karena tidak tahu dengan cara apa ia harus mengisinya. Semua berisi rumus yang membuat kepalanya pening meski dengan melihat soalnya, ia sudah menyerah sebelum berjuang dan akan meminta bantuan kepada....
"MIYAAANN!!! Astaga! Hari ini kamu terlihat cantik sekali, apa mata ku tidak salah melihat ya..."
Miyan menaikan sebelah alisnya, menatap kegilaan Aurora yang sudah melancarkan aksinya dengan cara kuno seraya meletakkan tas ransel di bawah mejanya
"Tidak usah memuji ku, kenapa dengan mata mu? Buta? Katarak? Atau hhfftt...."
Aurora berjalan menghampiri tempat Miyan dengan cepat dan langsung membekap mulut sahabatnya itu
"Berikan saja buku pr mu, waktu ku tidak banyak, cepat!!!" rengek Aurora ditelinga Miyan dengan wajah memohon bak kucing oren yang tengah meminta ikan
Dengan mata lasernya Miyan memelototi Aurora yang masih saja membekapnya, sangat tidak tahu diri sekali gadis cantik itu
"Lepaskan dulu tangan mu dari mulut ku..."ucap Miyan dengan suara sedikit tak jelas namun Aurora mendengarnya dengan baik lantas melepaskan tangannya
"Hehehe... Maaf. Sekarang serahkan buku pr mu ayo!"
"Kau ini astaga! Apa tidak ada cara yang sedikit baik tuk meminta, kau seperti tengah merampok ku saja Rora!"gerutu Miyan namun tak urung gadis itu langsung memberi buku tugasnya kepada Aurora
"Iya iya nanti aku akan meminta dengan cara yang lebih baik lagi, sudah ya aku harus mengisi pr ku dulu... Bye!"
Miyan menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar, percuma mengajari Aurora banyak rumus kalau ujung-ujung gadis itu akan menyontek hasil kerjanya juga
"Lain kali aku tidak akan memberi mu izin untuk mencontek lagi, kamu harus berusaha agar kamu bisa sendiri tanpa bantuan ku. Mengerti Rora?!"
Aurora yang tengah berkutat dengan kerjaannya itu pun mendongak, menatap Miyan yang berdiri di samping tubuhya. Seketika wajah Aurora berubah muram
"Yasudah kalau begitu ambil saja kembali buku mu, aku tak masalah jika Mr. Grek menghukum ku sekali lagi..."Ucap Aurora seraya menyerahkan buku tugas Miyan dengan wajah melas sambil menyebut-nyebut guru kimia yang selalu menghukumnya itu
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Vampire Love Me
VampirDengan paras yang menyerupai bidadari, Aurora bagaikan bintang di mata para kaum adam. Bersinar dan memukau. Namun sayang, Aurora hanya di anugrahi kecantikan fisik, tidak dengan kepintaran otaknya Aurora begitu lugu, polos seperti kertas putih. Di...
