38. Bukti & Kejutan

358 21 0
                                        

BEGITU mobil yang kukemudikan berhasil tiba di depan stall bunga milik Bu Anna, segera kuinjak pedal rem dan membuat kuda besi tersebut terhenti. Tanpa membuang waktu, aku melangkah keluar diikuti dengan Damar yang mengekor keluar dari pintu di sebelah kiri.

Sudah bisa diterka, kios Bu Anna belum ramai ketika pagi begini. Ketika melirik arloji tadi, jarum pendeknya baru menunjuk angka sepuluh, dan suasana di sekitar pasar bunga ini juga masih didominasi oleh aktivitas para pedagang yang baru membuka kios serta mobil-mobil bak terbuka yang silih berganti menurunkan bunga-bunga segar yang baru saja dipetik dari kebun.

Aku dan Damar beranjak menuju halaman depan kios dan menemukan Bu Anna yang sedang sibuk memasukkan beberapa tangkai bunga Lily ke dalam vas pajang. Begitu melihat kami, perempuan dalam balutan terusan berwarna marun serta celemek yang tak pernah absen dikenakannya itu tersenyum sebelum kemudian membalas uluran tangan kami.

"Akhirnya Ibu bisa melihat kamu lagi, Rayn," katanya bergantian menyalami aku dan Damar. Dari wajahnya yang semringah, aku bisa tahu bahwa perempuan itu benar-benar merindukan kami. "Bagaimana kabar kalian? Damar juga sudah pulih, kan?"

Atas pertanyaan tersebut, tentu aku membalas dengan senyuman paling manis yang kubisa. "Kami berdua baik-baik saja, Bu," kataku. "Dan seperti yang Bu Anna lihat sendiri, luka Damar juga sudah sembuh meski kondisinya sempat mengkhawatirkan."

"Syukurlah kalau begitu," timpal Bu Anna mempersilakan kami duduk pada kursi plastik yang tadi diambilnya dari samping kios. "Lalu bagaimana dengan pelakunya? Apa kalian sudah melaporkannya ke polisi?"

Usai pertanyaan terakhir Bu Anna tersebut, tentu aku refleks menoleh ke arah Damar untuk mencari dukungan. Dan begitu kekasihku itu lalu menganggukkan kepala, aku kembali menolehkan wajah ke arah wanita yang kini menunggu jawabanku tersebut.

"Kami belum punya cukup bukti untuk menjebloskan para pelaku penyerangan itu, Bu," kataku dengan nada sesopan mungkin. "Kami masih perlu satu bukti kuat lagi untuk bisa menyeret preman-preman itu ke penjara, makanya kami datang ke sini pagi ini bermaksud ingin meminta bantuan kepada Bu Anna."

Bu Anna terlihat memiringkan kepala. "Bantuan?"

"Saya ingat Bu Anna sempat merekam kejadian waktu preman-preman itu berkelahi dengan Damar," kataku menjelaskan. "Dan kalau Bu Anna membolehkan, kami ingin meminta salinan rekaman tersebut supaya kami punya bukti kuat untuk melaporkan para preman itu beserta pengutusnya ke polisi."

Kulihat, Bu Anna mengangguk paham.

"Tentu saja boleh, Rayn," katanya seraya merogoh sesuatu dari kantung celemeknya. Sebuah ponsel, yang kemudian dia serahkan padaku. "Sudah beberapa hari ini Ibu nungguin kamu buat datang ke sini sebenarnya. Ibu tahu, kalau rekaman ini pasti sangat kalian butuhkan. Ibu lupa memberikannya ke kamu waktu kamu buru-buru bawa Damar ke rumah sakit."

Tentu saja, aku tak kuasa menahan haru atas pernyataan wanita itu barusan.

"Terima kasih banyak Bu Anna," kataku menyerahkan kembali ponselnya begitu video yang kami butuhkan telah tersalin di dalam ponselku. "Jika saja Bu Anna nggak merekam kejadian waktu itu, saya nggak tahu harus melakukan apa untuk menyeret preman-preman itu ke kantor polisi."

Yang kusebut namanya, tak memberikan respons lain selain tersenyum sebelum kemudian menjatuhkan tangan kanannya ke pundaku.

"Ibu hanya melakukan hal kecil, Rayn," ucapnya. "Ibu senang kalau itu bisa memberikan banyak bantuan."

Tanpa bisa menahan haru lebih lama lagi, aku memeluk tubuh Bu Anna dengan lembut sebagai ucapan atas segudang rasa terima kasih yang ingin kusampaikan padanya. Bagi sebagian orang, Bu Anna mungkin hanya seorang perempuan tua yang menjual bunga. Tapi bagiku, beliau tak ubahnya sosok ibu kedua yang kumiliki di luar rumah.

CHASING THE BODYGUARDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang