30. Affair

385 17 1
                                        

[Full chapter sampai tamat sudah bisa dibaca di karyakarsa.com/bgstito]


SEOLAH ingin menyempurnakan pertengkaran di antara kami, Damar mengajukan cuti satu minggu untuk pulang ke Yogyakarta. Alasannya, ibunya sedang sakit dan dia perlu menjenguknya agar bisa memastikan bahwa beliau tidak kenapa-kenapa. Tadinya, aku berniat ingin menemaninya, namun karena Damar sudah lebih dulu menolak-aku masih punya beberapa pekerjaan yang tak bisa dibatalkan, omong-omong. Ditambah Damar belum siap dengan pertanyaan yang akan dilayangkan keluarganya jika aku tiba-tiba menampakkan diri di depan mereka-maka aku memilih mengalah saja dan membiarkan pemuda itu pamit ketika kereta yang akan dinaikinya sudah akan diberangkatkan. Lagipula, aku memang perlu memberikan pemuda itu waktu supaya bisa menjernihkan isi kepalanya. Apa yang terjadi di antara kami akhir-akhir ini memang tak bisa dipungkiri cukup membuatnya merasa tertekan. Dan aku harap, sekembalinya dia ke Jakarta nanti, aku akan bisa menemukan sosok lama Damar yang begitu kurindukan.

Maka sepulang dari stasiun, aku memutuskan mampir ke rumah Mami. Kebetulan, Micky juga sedang ada di sana karena ada beberapa urusan yang perlu kakakku itu bicarakan bersama Papi. Makanya setelah menyapa Papi dan laki-laki itu yang asyik membahas beberapa berkas di atas meja ruang tamu, aku memutuskan menyusul Mami yang-seperti biasa-sedang memandikan koleksi mawar dan anggreknya di pekarangan belakang.

"Hei, Mam," sapaku menjatuhkan diri ke atas kursi malas di dekat pintu. Membuat perempuan berambut ikal sebahu itu mengalihkan sejenak perhatiannya dari mawar-mawar putih yang nampak mekar dengan indahnya.

"Hei, Rayn," jawabnya menyingkirkan daun-daun layu dengan gunting di genggamannya. "Kok tumben mampir ke sini?"

"Iseng saja, Mi," jawabku sekilas ketika Mbok Ira-asisten rumah tangga Mami meletakkan lemonade dingin yang kuminta ke atas meja di sebelahku. "Tadi Rayn habis nganterin Damar ke stasiun, jadi sekalian saja mampir."

Atas apa yang kukatakan, Mami lalu bangkit dan mengemasi peralatan berkebunnya sebelum meletakkan benda-benda tersebut ke sisi pojok pekarangannya. Kemudian, setelah beliau berhasil membersihkan sisa tanah di tangannya, perempuan itu turut mengambil duduk di sebelahku.

"Apa ada sesuatu yang pengin kamu ceritakan, Sayang?" Mami mengambil cangkir teh kamomil di sampingnya. Menyesapnya dengan anggun, sebelum meletakkannya kembali ke atas meja sementara tatapannya masih tertuju kepadaku. "Mami yakin, satu-satunya alasan Damar buat pulang bukan karena ibunya. Bu Gendis hanya sakit biasa, makanya Mami yakin ada alasan lain yang membuat pemuda itu pulang."

Atas apa yang dikatakan Mami, tentu aku tak bisa menyembunyikan kedua mataku yang mendadak terasa perih. Lebih dari siapapun, Mami memang sosok yang paling mengerti keadaanku ketimbang orang lain. Tanpa perlu memberitahunya, Mami pasti sudah lebih dulu menemukan bahwa hubunganku dengan Damar sedang tidak baik-baik saja.

"Aku sama Damar bertengkar, Mam," kataku pelan-pelan. Berusaha menahan sesak di dalam dada supaya tidak membuat titik-titik di ujung mataku jatuh dan melelehi wajah. "Damar cemburu sama foto ciumanku sama Rangga yang tersebar di media. Dan dia juga keberatan dengan keputusanku menerima tawaran untuk berpura-pura berpacaran dengan laki-laki itu. Hubungan kami sedikit renggang akhir-akhir ini, dan aku sama sekali nggak menyalahkan perubahan sikapnya karena memang akulah satu-satunya pihak yang patut untuk dipersalahkan."

Maka setelah apa yang kuutarakan, aku tak bisa lagi menahan lelehan air mata tatkala perempuan itu menarik tubuhku untuk memelukku. Dengan lembut, beliau mengelus puncak kepalaku seperti yang sering dilakukannya setiap aku menangis menghampirinya ketika aku kecil dulu.

"Kamu nggak perlu terus menyesali apapun yang sudah kamu perbuat, Rayn," bisiknya dengan kata-kata lembut yang menenangkan. "Dalam hidup, memang ada kalanya kita harus mengambil sebuah keputusan yang terasa sulit. Namun alih-alih menyesalinya, yang harusnya kamu lakukan adalah melihat bagaimana pasangan kamu memberikan respons terhadap keputusan tersebut. Sebab orang yang benar-benar tulus mencintai kamu, pasti akan bisa memafkan meskipun butuh waktu untuk melakukannya."

CHASING THE BODYGUARDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang