PALING tidak, kondisi Damar sudah jauh membaik meskipun dokter masih belum memperbolehkannya untuk pulang. Dengan pertimbangan luka dalamnya yang masih belum sembuh sempurna, Damar diminta untuk bersabar dua atau tiga hari dulu sehingga tim dokter bisa memastikan perkembangan kondisinya secara intensif. Meskipun dokter sudah memperbolehkan pemuda itu untuk mengkonsumsi makanan-dengan catatan makanan tersebut harus mudah untuk dicerna-tetap saja Damar masih belum boleh bebas bergerak karena luka jahitan di pinggangnya belum pulih dan bisa terbuka kapan saja.
Pagi itu, aku duduk di atas kursi di samping brankar Damar seraya menyapa kekasihku itu dengan semringah. Di atas pangkuanku, sudah ada nampan berisi menu sarapan yang tadi diantarkan oleh seorang perawat. Jarum pendek arlojiku sudah menunjuk angka setengah sembilan, dan kurasa, sudah tiba waktunya bagi Damar untuk menikmati sarapan.
"Pagi. Gimana keadaan kamu hari ini, Mar?" kataku membantu pemuda itu menyandarkan kepalanya pada sandaran di belakangnya. "Sudah enakan?"
Yang kusebut namanya, tak memberikan respons lain selain menyunggingkan senyum manis seraya menjatuhkan tangannya yang dingin ke tanganku. Wajahnya terlihat jauh lebih segar pagi ini meskipun tak bisa dipungkiri masih ada rona pucat di bibirnya.
"Sudah jauh lebih baik dari kemarin, Mas," katanya lembut. "Maaf kalau saya merepotkan Mas Rayin dan yang lainnya terus. Mas pasti ndak bisa tidur nyenyak selama nungguin saya di sini."
Atas apa yang keluar dari bibir Damar, tentu saja aku lekas menggeleng seraya menggenggam tangan pemuda itu dengan erat.
"Kamu nggak perlu minta maaf atas apapun, Mar," kataku sungguh-sungguh. "Sudah seharusnya aku merawat dan nungguin kamu sebab semua yang terjadi sama kamu adalah salahku. Kamu itu kekasihku, jadi aku akan melakukan apapun buat kamu. Justru sebaliknya, akulah yang seharusnya minta maaf karena semua ini terjadi karena kebodohan yang aku lakukan."
Mengabaikan kalimat terakhirku, yang dilakukan Damar selanjutnya justru menjatuhkan tangan kanannya ke pipiku. Dalam gerakan lembut, pemuda itu mengelusnya, sebelum kemudian menarik wajahku mendekatinya sehingga pemuda itu behasil mendaratkan satu ciuman lembut ke atas bibirku.
Singkat. Sederhana. Namun terasa penuh dan hangat di dalam dada.
"Mas ndak perlu terus minta maaf dan menganggap semua yang terjadi adalah salah Mas," kata Damar begitu ciuman kami terlerai dan ibu jarinya mengelap lembut ujung bibirku. "Saya nggak suka setiap ngelihat Mas Rayin sedih dan merasa bahwa Mas adalah satu-satunya yang paling bersalah atas segalanya."
Kuakui, hatiku tersentuh oleh apa yang baru saja dikatakan oleh pemuda itu. Tanpa bisa kutahan, aku menjatuhkan kepalaku ke bahunya. Membiarkan lelehan air lamat-lamat muncul dan membuat mataku terasa pedih.
"Tapi semuanya memang salah aku, Mar," kataku terisak pelan. "Aku yang udah tega berselingkuh dengan Rangga sampai ngebikin kamu marah dan pergi. I was so fucking stupid! Udah nggak terhitung lagi hal-hal jahat yang udah aku lakuin untuk menyakiti kamu. Namun pada akhirnya... kamu yang selalu kembali dan menjadi sosok yang menjadi penyelamat buat aku."
Atas apa yang kukatakan, tak pelak Damar menyunggingkan senyumannya yang candu. Dalam gerakan lembut, tangan kanannya jatuh di atas kepalaku dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
"Mas ndak perlu minta maaf atas semua yang telah terjadi termasuk dengan Mas Rangga," katanya dengan suara berat yang menenangkan. "Saya nggak berhak marah. Sebab bagaimanapun, saya juga turut bersalah karena justru pergi di saat Mas Rayin membutuhkan saya. Seharusnya, saya nggak mengacuhkan perasaan Mas yang sedang gamang hanya karena saya merasa cemburu terhadap Mas Rangga."
Mendengar kalimat terakhir Damar, pada akhirnya aku memutuskan mengangkat wajahku dan membiarkan pelukan kami saling bertubrukan. Aku tersenyum, mendapati tatapan sayu milik Damar kembali bisa kurasakan dalam jarak sedekat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASING THE BODYGUARD
General Fiction(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024) Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil. Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
