6

474 118 14
                                        

Tidak bisa tidur.

Yerim sudah menghembuskan napas lelah, mendesah, mengerang, dan berdecak berulang kali saat kantuk tak kunjung menyapa dirinya, membuatnya harus terjaga hingga pukul 3 pagi dini hari. Berakhir dengan Yerim yang terduduk kesal di ranjang sambil memukul-mukul selimut yang kini membalut pinggang hingga kakinya. Ia kesal bukan main sampai hampir menangis, menyerah sudah ia memaksa diri untuk terbawa ke alam mimpi tapi tak kunjung berhasil.

"Aku tak minum kopi," Kesalnya ingin berteriak sambil mengusap wajahnya kasar, mengingat tentang kemungkinan-kemungkinan mengapa ia tak bisa terlelap padahal seharusnya ia sudah berada di alam mimpi saat ini.

Yerim kemudian menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya dan beranjak untuk duduk di sofa jendela, tanpa rasa takut menatap ke halaman depan rumah keluarga Jeon yang kalau malam diterangi oleh lampu hangat berwarna kuning. Menyandarkan tubuhnya pada tembok, Yerim mengusap kedua lengan atasnya sambil lagi-lagi menghela napas, ia terlampau kesal pada dirinya sendiri karena tak bisa terlelap.

"Aku harus ke peternakan pukul 7 pagi, tapi ini sudah pukul 3 dan aku belum tidur!" Gerutu Yerim kesal setelah melirik jam yang terpasang di dinding.

Yerim akhirnya memakai sandal rumah dengan kakinya yang terbalut kaos kaki, melangkah dengan perlahan menuju dapur, bergerak dengan penuh kehati-hatian karena tak ingin sampai membangunkan seisi rumah, baik tuan Jeon, nyonya Jeon, sampai Jeon Jungkook. Langkah kakinya ia buat seringan dan sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara derap langkah kaki, hingga akhirnya Yerim sampai juga di dapur setelah menghabiskan waktu cukup lama dari biasanya untuk sampai ke ruang dimana segala bahan makanan milik keluarga Jeon tersimpan.

Yerim memutuskan untuk membuka kulkas, lagi-lagi dengan penuh rasa hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang mampu membuat tuan dan nyonya Jeon bangun, mengingat kamar mereka ada di lantai bawah dan tak jauh dari dapur.

Yerim menggigit bibirnya, berjongkok di depan lemari es sambil menatap isi benda pendingin itu, si gadis Kim rupanya sedang mencari minuman yang mungkin bisa membantunya tertidur. Kalau di Seoul, para pelayan akan dengan cekatan menjamunya dengan chamomile tea saat tahu dirinya tak bisa tidur, bahkan mereka biasanya juga menawarkan sedikit pijatan atau spa agar Yerim cepat-cepat pergi ke alam bawah sadar alias tertidur.

Kalau disini, ia mau minta pada siapa? Ia tak boleh menyusahkan dan manja, ia sudah bertekad pada dirinya sendiri kalau di Busan, ia akan menjadi Kim Yerim saja, bukan Kim Yerim Oxley. Jadi, ia akan berusaha mencari jalan keluar sendiri agar ia bisa tidur.

Tapi, harus mulai dari mana? Apa yang harus ia lakukan?

Lagi-lagi Yerim menyerah, dirinya tak bisa menemukan sesuatu yang mampu membuatnya cepat tidur. Jadi, Yerim menutup lemari es dan melangkah ke ruang tamu, mendudukkan dirinya di sofa beserta temaram lampu tiang ruangan yang memiliki shade hangat. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan berusaha memejamkan matanya disana, tak peduli kalau tuan dan nyonya Jeon akan menemukannya tertidur di sofa esok pagi, yang terpenting bagi Yerim saat ini adalah bagaimana agar dirinya bisa terlelap.

Belum lama Yerim memejamkan matanya berusaha memaksa diri untuk tertidur, Yerim kembali membuka matanya saat terdengar suara gemerincing dari pintu utama rumah ini, membuat gadis itu sedikit parno dan duduk tegap di tempatnya. Matanya sukses terbuka lebar saat mendengar suara yang ditimbulkan antara lubang kunci dan kunci yang diputar. Beberapa detik kemudian, Yerim mendengar kenop pintu yang diputar, menandakan seseorang membuka pintu.

Astaga, apa itu pencuri?

Yerim yang terlampau penasaran akhirnya memberanikan diri melangkah ke lorong pendek yang menghubungkan antara ruang tamu dengan pintu, bukannya ia terkejut karena melihat sosok yang membuka pintu, Yerim malah terkejut oleh teriakan yang membuatnya hampir ikutan berteriak.

ForelsketTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang