8

490 121 34
                                        

"Sepertinya musim dingin akan segera berakhir. Ya 'kan, Jeon?"

Jungkook yang fokus mengemudi mengangguk, menanggapi pertanyaan Yerim setelah sekian lama gadis itu terdiam di dalam mobil sambil menikmati jalanan dari kaca mobil Jungkook. Pertanyaan Yerim ada benarnya, salju sudah tak turun sejak 2 hari yang lalu, dimana itu adalah pertanda bahwa musim dingin akan segera berlalu untuk digantikan oleh musim semi.

"Kau suka musim dingin?" Tanya Jungkook, menarik perhatian Yerim untuk menoleh padanya.

"Tidak, aku suka musim semi," Jawab Yerim singkat, "Bagaimana denganmu?"

"Aku juga suka musim semi, menyenangkan sekali melihat bunga-bunga bermekaran, membuat hatiku bahagia!" Jawab Jungkook dengan senyuman, menoleh sekilas pada Yerim.

"Aku juga," Lirih Yerim sambil mengangguk beberapa kali, ada perasaan sedih yang tiba-tiba menghampiri mengingat kalau selama musim semi ia tak pernah melihat secara langsung bunga bermekaran yang biasanya sangat banyak di jalanan, trotoar, atau taman kota.

Mendengar lirihan Yerim membuat Jungkook langsung menoleh pada si gadis yang sedang duduk manis di sampingnya, "Ada apa? Kenapa suaramu sedih begitu?"

Yerim lantas menggeleng, "Maukah kau mengajakku melihat bunga bermekaran saat musim semi benar-benar telah tiba nanti?"

"Tentu saja, Kim! Kalau pun kita tak pergi bersama, kau bisa melihatnya di jalanan danau tempat kau bertemu dengan Bong, disana ada pohon besar yang kalau musim semi bunganya akan bermekaran sampai memenuhi satu sisi danau!"

Baiklah, Yerim rasa Jungkook tak paham dengan keinginannya, ia juga tak mau repot-repot menjelaskan.

"Baiklah."

Jungkook melirik Yerim yang kini membuang wajah ke jendela sebelah, menatap jalanan lagi. Pria itu menelengkan kepalanya tanda bahwa dirinya sedang bingung, hari ini sepertinya suasana hati Yerim tak cukup baik karena Jungkook tak menemukan sisi ceria Yerim hari ini.

"Kim, kau sedang sakit?"

"Tidak," Jawabnya cepat tanpa melepas pandangan dari jendela.

"Apa kau baik-baik saja?"

Yerim menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya, "Aku baik."

Kalau boleh jujur, Yerim sedang tak baik-baik saja. Maksud Yerim, ya, dia baik-baik saja, hanya saja... ia bermimpi ibunya semalam.

Bukan mimpi buruk, itu hanya mimpi singkat yang sering Yerim dapatkan, tapi sudah tak pernah ia dapatkan lagi sejak ia tinggal di Busan bersama keluarga Jeon. Itu hanyalah mimpi singkat dengan wajah sang ibu yang tak terlihat jelas di mata Yerim, terakhir kali ia melihat ibunya adalah puluhan tahun yang lalu, wajar kalau ia melupakan bagaimana wajah ibunya yang asli walau ia punya sebuah bingkai besar berisikan foto keluarga dimana ada ayah, ibu, dan dirinya disana.

Ibunya datang ke mimpinya semalam, ia ingat dengan jelas kalau ia dan ibunya sedang melangkah di sebuah lahan besar yang terpenuhi oleh tanaman lavender, bak lautan ungu. Ia dan ibunya bergandengan tangan sambil berlarian, saling tersenyum lebar satu sama lain, dan terkikik bersama. Begitu bahagia.

Sampai kemudian ibunya berhenti berlari yang otomatis membuat Yerim jadi berhenti berlari juga, senyumannya memudar melihat ibunya yang kini menatapnya sendu, "Kenapa, Bu?"

Wanita cantik yang amat begitu Yerim sayangi itu mengulas senyum tipis tulus sebelum melarikan tangannya mengusap rambut Yerim yang tergerai, "Kebahagiaanmu akan datang sebentar lagi. Katie, tak semua badai menghasilkan pelangi setelahnya, tapi kau juga harus ingat kalau ada beberapa badai yang menghasilkan pelangi setelahnya!" Katanya dengan senyuman lembut, mengundang Yerim untuk mengernyit.

ForelsketTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang