Baiklah, sebagai pengantar berbuka, mari kita lanjutkan :)
3. Dia Tetap Seorang Budak
Terrence berjalan menuju Ruang Belajar dengan tak bersemangat. Ia tidak ingin pergi, tidak dengan Tom yang masih berbaring kesakitan di kabin. Ingin ia menemani Tom, paling tidak, Tom tidak sendirian. Tapi ia tahu, tak mungkin dilakukan. Ia harus mengikuti jam kelas, atau ayahnya akan marah, dan Tom yang akan menerima konsekuensinya. Tidak, Terrence tidak akan memberi Tom rasa sakit lagi, tidak jika untuk menanggung perilakunya.
Saat Terrence berjalan memasuki ruangan, guru pribadinya, Sir Alex Williams telah menunggunya. Satu lagi alasan kenapa ia membenci jam belajarnya, karena ia tidak menyukai gurunya. Usianya hampir setengah abad, dengan tinggi badan tak melebihi tinggi ayahnya, kepala botak seperti telur, dan selalu membawa rotan. Sir Williams, sama tegasnya dengan ayahnya, dan aroma tubuhnya sangat aneh! Satu satunya yang Terrence suka dari gurunya, karena dia membawa banyak buku, yang bisa dibaca Terrence sebanyak mungkin.
Terrence melihat gurunya berdiri menunggunya dengan tak sabar.
"Selamat Siang, Tuan," Terrence menyapa sopan.
"Selamat Siang, Nak." Sir Williams menyadari Terrence berjalan seorang diri. "Di mana budakmu, Nak?" tanyanya dengan terheran.
Terrence menggigit bibirnya. Amarahnya kembali naik. Ia tahu, sebutan itu untuk Tom, dan ia tidak menyukainya.
"Maksud Anda, Tom, Tuan?" Terrence tetap tenang, mencoba menahan emosinya.
"Ya."
"Tom tidak bisa menemani saya, dia terluka tadi pagi, jadi saya suruh dia beristirahat...."
"Ah, beristirahat, apakah ayahmu mengetahuinya?" Pertanyaannya seakan menantang Terrence untuk mengatakan yang sebenarnya.
Terrence menelan ludah, "Ya, beliau tahu Sebenarnya, Ayah-lah yang menyuruh Tom beristirahat." Ia harus berbohong.
Williams mengangguk percaya.
"Tapi bagaimana jika kau berbuat kesalahan?"
"Jangan khawatir, Tuan, saya akan coba untuk tidak melakukannya."
"Tapi bagaimana JIKA kau melakukannya?" Williams kembali menekan.
"Kalau begitu, Anda harus mengoreksi saya, dan merotan saya, jika memang harus," Terrence sedikit menantang.
"Nak, kau tahu aku tidak bisa memukulmu. Ayahmu tidak akan mengizinkannya, karena itulah kau memiliki budak itu."
Terrence mengigit giginya semakin menahan marahnya, Jangan panggil Tom BUDAK!
"Saya harus menanggung sendiri apa yang saya lakukan. Jadi mari berharap saya tidak melakukan kesalahan, jadi Anda tak perlu memukul saya."
Williams menggigit bibirnya. Ia tahu Terrence Warwood sangatlah cerdas dan pandai berbicara untuk anak usia 12 tahun, tapi terkadang bocah ini tidak tahu apa yang dilakukannya, dan sering membahayakan diri sendiri.
Ditariknya napas dalam-dalam, "Baiklah, Nak, mari kita berharap, kau tidak melakukan kesalahan hari ini."
Terrence mengangguk.
"Hari ini, pelajaran kita Aljabar, bukan?"
"Iya, Tuan...." Terrence kembali mengangguk, dan siap menerima pelajarannya.
Aljabar bukanlah pelajaran yang disukai Terrence, tapi tidak membuatnya kesulitan mengikutinya. Ia dapat menjawab dan mengerjakan semua soal yang diberikan Sir Williams dengan baik. Seperti bukan hal yang sulit bagi Terrence, dan terkadang membuat Williams ketakutan, tak mampu menahan kecerdasan anak ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted (END)
Historical FictionTerlahir sebagai seorang Budak Perkebunan Kapas, Tom tahu tugas dan posisinya hanya untuk melayani Sang Tuan Muda yang masih berusia 12 tahun. Dengan hanya berjarak usia 4 tahun, Tom menyayangi Terrence seperti kepada adik yang tidak pernah ia mili...
