6. Kau Yang Memintanya ...

275 40 15
                                        

Masihkah kuat bernapas ??

6. Kau Yang Memintanya!

Dengan mengendap, Terrence menyelinap keluar dari kamar. Untunglah pintu tak terkunci, dan dia berhasil keluar tanpa diketahui orang.

Ia harus berhati-hati saat menuju kabin. Ia tak ingin bertemu Cruel, sebelum berhasil melihat Tom.

Terrence menghela napas lega saat berhasil lolos dari pantauan Cruel, dan sukses masuk ke dalam Kabin.

Namun ia harus kecewa saat mengetahui tak ada Tom. Di mana dia? Mungkinkah di kabin sel?

Penuh resiko, Terrence bergegas ke kabin Sel.

Ia harus menahan napas saat memasukinya. Meski bukan pertama kali ke sana, wujud dan kondisi kabin sel, jauh lebih buruk dari kabin tempat tinggal. Keadaannya tak lebih dari kandang babi. Sel-selnya sangatlah kotor. Terrence berharap Tom tidak ada di sana.

Masih dengan menahan napas, Terrence berlari mencari sel Tom. Ia sudah senang saat menemukan sosok tergeletak di salah satu sel. Tom.

Namun jantungnya berhenti seketika dengan kondisi Tom.

Dengan bertelungkup di atas jerami di lantai, tampak jelas luka-luka mengerikan di punggung itu. Tom bahkan terlihat kesulitan bernapas. Kedua kaki belakangnya tampak hitam dan mengeluarkan darah, kontras dengan warna kulitnya yang putih.

Terrence mencoba membuka pintu sel, namun terkunci. Ia hanya bisa melihat Tom dari balik jeruji, tanpa bisa menggapainya. Air matanya menetes melihat kondisi Tom. Luka-lukanya tak tertutupi pembalut apapun. Meski ia tahu para budak lainnya telah berusaha mengobatinya, tetap terlihat mengerikan. Dan ia yakin, lukanya mulai berinfeksi dengan terlihat lalat-lalat kuning hinggap di luka tersebut. Terrence tak kuat melihatnya. Air mata mengalir deras di pipinya.

"Tom..." Terrence mendesis memanggil, dengan berpegangan di antara jeruji besi.

Tak ada sahutan.

"Tom!!" Terrence mendesis agak keras.

Akhirnya sosok tersebut menoleh lirih, dan harus terkaget dengan Terrence yang berada di luar sel. Memandangnya dengan menangis.

Tom mengeluarkan sisa tenaganya, "Tu..an.., s..eda..ang.. apa.. di.. s..in..i??" Suaranya hampir tak terdengar.

"Ingin melihat keadaanmu. Oh, Tom, Maafkan aku..."

"Sa..ya.. ba..ik-ba..ik..saja. Ja..angan.. kha..wa.tir,kan, sa..ya.." Tom berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga lagi. "Ka..u.. ta..k.. bo..leh... bera..ada.. di..sini..., Tu..an! Pe..r..gi.. da..ri.. si..ni... s..ebe..lum...Cru..el me..nem..ukan..mu...." Tom tersengal sengal, berbagi tenaga untuk menahan sakit dan berbicara.

"Peduli dengan dia! Aku hanya mau dengan kamu!"

Tom menghela napas berat, "Ti..dakk.. Tua..n, sa..ya.. buk..an.. la..gi pe..layan..mu. Sa..ya tid..ak bi..sa ber..sama..mu..la..gi."

"Tapi Tom, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku masih membutuhkanmu." Tangis Terrence kembali pecah.

"Pa..sti.. bis..a., T..uan..! Ro..ssa.. ak..an.. bers..sam..a..mu,"

"Aku tidak mau dia, Tom, aku hanya mau kamu," Terrence memohon. "Kamu harus segera keluar dari sini _"

"Ng... mungkin bukan Tom yang harus keluar dari sini, tapi kau, Tuan Muda." Suara dingin dan berat, muncul mengagetkan Terrence.

Terrence mendongak dan melihat Cruel telah berdiri di belakangnya, memegang erat ganggang cambuk di pinggangnya.

"Bukankah Tuan Besar sudah melarangmu untuk bertemu dengan budak ini lagi?"

Unwanted (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang