I leave you here with this ...
Enjoy, and hope you like it :)
7. Budak Kecil Itu
Saat itu, empat tahun selepas kepergian Catherine. Empat tahun berlalu sejak malam mengerikan yang merenggut nyawa istri tercintanya itu, terjadi, dan ia telah menghabiskan empat terakhir pula menjadi seorang pemburu hantu. Mengejar makhluk yang membunuh Catherine.
Jonathan memulai harinya seperti biasa, saat ia memutuskan untuk memeriksa para budak miliknya, dan menyadari ia mulai kekurangan jumlah budak perkebunan miliknya. Ia tahu, untuk beberapa waktu ia tidak terlalu memperhatikan keadaan perkebunannya, tapi saat Cruel melaporkan banyaknya budak yang mati dan melarikan diri, sudah saatnya ia membeli budak baru.
Jonathan tak membutuhkan lama untuk memilih 10 budak baru yang sehat dan mampu mengerjakan perkebunan kapas miliknya yang luas, di pasar budak. Saat ia siap pulang, matanya terkatuk sosok kecil kumal dan kotor di dalam sebuah kandang budak, menunggu giliran untuk dilelang. Kulitnya yang putih di antara beberapa budak kulit hitam anak-anak lainnya dengan rantai di leher mereka, menarik perhatian Jonathan. Ia memperkirakan usianya tak lebih dari 7 atau 8 tahun.
Anak itu duduk dengan tatapan mata polos yang pasrah. Namun Jonathan dapat melihat betapa hijaunya mata tersebut. Mata hijau yang mengingatkannya pada seseorang di masa lalu. Seseorang yang sangat ia cintai. Jantung Jonathan berhenti seketika, lalu berpacu dengan cepat. Anak itu... tidak... tidak mungkin... mungkinkah??
'Tidak mungkin...' John mencoba mengingkarinya. Tapi kata hatinya mengatakan sebaliknya. Ia menoleh pada Cruel, dan memberinya tanda.
Cruel menerimanya dengan baik, dan segera mendekati penjualnya.
"Berapa kau jual anak mulato6 itu?" tanya Cruel langsung. Ia tidak akan menyangka budak ini sepenuhnya kulit putih.
Sang penjual menoleh pada budak yang dimaksud dan memandang Tuan Tanah calon pembelinya. Terlihat dari tatapannya, sang Tuan Tanah begitu tertarik dengan budaknya, hingga tidak ingin melalui proses lelang.
"Anak itu murni kulit putih, Tuan," Penjual mengkoreksi.
"Oh? Ya, budak putih itu berapa?"
"Maaf, Tuan, Anda harus melalui lelang." Sang Penjual mencoba jual mahal.
Cruel menoleh pada tuan besarnya, dan mendapatkan gelengan sebagai jawaban.
Ia kembali pada penjualnya. "Tanpa pelelangan."
Sang penjual mengangguk setuju. "$750". Ia memasang harga tinggi untuk ukuran budak kecil7. Entah apa yang dilihat Tuan itu akan budak kecil ini, selain kulitnya yang putih, tapi terlihat jelas tuan tanah ini akan membayar berapapun untuk mendapatkannya.
Cruel menoleh kembali pada tuannya, dan mendapat anggukan, "Coba lihat dia..."
Dengan mengangguk, Cruel kembali pada penjualnya, "Keluarkan dia."
Sang penjual mengangguk penuh semangat, dan segera mengeluarkan budak yang dimaksud dengan menarik kasar rantai di lehernya, layaknya hewan liar. Dipegang kuat rantai di lehernya hingga si budak sedikit memegangi rantainya agar tidak terlalu mencekik lehernya. Mereka tidak tahu betapa liarnya budak kecil ini.
Mata Jonathan tak lepas dari budak berkulit putih itu, saat dikeluarkan dari dalam kandang. Perut Jonathan tiba-tiba mual saat anak itu dengan kepala tertunduk berdiri di hadapan. Jonathan memandangi anak ini dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tubuh kecilnya yang kotor, hanya terbalut kemeja dan celana panjang tipis yang bertambal di beberapa tempat, juga kumal dan kotor serta beraroma sangat tidak enak. Terlihat guratan merah dari rantai besi di kedua tangan dan lehernya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted (END)
Ficção HistóricaTerlahir sebagai seorang Budak Perkebunan Kapas, Tom tahu tugas dan posisinya hanya untuk melayani Sang Tuan Muda yang masih berusia 12 tahun. Dengan hanya berjarak usia 4 tahun, Tom menyayangi Terrence seperti kepada adik yang tidak pernah ia mili...
