Baiklah, mari kita lanjutkan...
Enjoy, and hope you like it :)
30. Sudut Mencekam
Tom masih duduk di tempat tidurnya. Entah sudah berapa lama ia duduk di sini. Tempat tidur kayu ini masih rapi belum digunakan, Tom hanya mendudukinya di ujung bawah tempat tidur, tidak berani merusak kerapian itu. Dan masih merasa tidak pantas berbaring di tempat tidur mewah itu. Tidak mungkin ia akan tidur di atas sini.
Setelah puas bergulat dengan benaknya, Tom menarik napas dalam-dalam, lalu beranjak ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, tak lupa dirapikan kembali seprai yang didudukinya.
Di dalam kamar mandi hanya ada bak mandi yang kosong dan gentong air. Terbayang Terrencelah yang berada di dalam sana, tak mungkin dirinya. Biasanya ia yang akan merebus air panas untuk Terrence mandi, dan ia akan menunggu di luar kamar mandi selama Terrence berendam menikmati mandinya, kecuali jika Terrence membutuhkan bantuannya. Tom tidak akan berani masuk ke dalam bak mandi itu.
Akhirnya ia hanya mengambil semangkuk air dari tempayan yang sudah disiapkan di sana, untuk menyegarkan wajahnya dan sedikit membersihkan tubuhnya dari keringat dan debu dengan menggunakan lap bersih. Ia tidak akan merepotkan siapapun untuk kebutuhannya ini. Siapalah dia, tidak pantas dilayani oleh siapapun.
Selepas membersihkan diri, Tom mengganti pakaiannya dengan yang bersih dari tas kainnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia memiliki beberapa potong pakaian layak, bagus, dan bersih, pemberian Nyonya Ellen dan Tuan Phillipe. Ia tak lagi hanya memiliki satu atau dua potong pakaian lusuh dan sudah koyak di beberapa sisi. Para budak hanya diberi satu stel pakaian baru di setiap tahun baru, itupun tidak semua budak, dan jika kau tidak bisa menjaganya dengan baik, pakailah yang kaupunya di badan.
Ia baru saja selesai berganti pakaian, saat mendengar pintu besar itu diketuk,
"Tom..., kau sudah bangun?" Suara Terrence terdengar dari luar.
Tom segera membukanya. Terlihat adiknya sudah wangi dan bersih. Sepertinya Rossa sudah memandikannya. Terrence tak sendiri, ia bersama Rossa.
"Wah, kau sudah bersih rupanya," sambut Terrence senang, dan masuk ke dalam.
"Kau tidak memanggil pelayankah?" tanya Rossa.
Tom tersenyum canggung, "Tidak perlu Rossa, aku bisa sendiri, terima kasih."
Rossa hanya tersenyum.
"Makan malam sudah siap, Tuan, ayah Anda bersama Tuan Phillipe telah menunggu di ruang makan," ucap Rossa memberitahukan masih dengan tersenyum hangat.
Sesaat Tom terkatup. "Makan malam bersama Tuan Warwood?"
Rossa mengangguk, begitu juga Terrence.
"Ayo, Tom..." Terrence mengajaknya penuh semangat.
Tom menggelengkan kepalanya, "Tidak, Terrence, aku tidak bisa makan malam bersama Tuan Besar, tidak mungkin duduk bersama beliau di meja makan," wajahnya sudah pucat.
"Tentu saja bisa, Tom," Terrence meyakinkan. "Kau putranya, bukan lagi budaknya, Tom..."
Tom terpaku. Ya, dia memang bukan lagi seorang budak, tapi duduk bersama dengan Tuan Warwood di meja makan?
"Tidak Terrence... aku tidak bisa. Bisa aku makan malam di belakang saja? Di dapur?"
"Tidak bisa, Tom! Kau bagian keluarga ini sekarang, kau harus makan bersama kami, sama-sama!"
Tom terkatup ragu.
"Ayo, Tom...," Terrence menarik tangan kakaknya keluar kamar.
Berjalan menuju ruang makan lebih menegangkan dari yang Tom perkirakan sebelumnya. Terlebih Tuan Warwood dan Tuan Phillipe telah menunggunya di sana. Ia tidak pernah menyukai ruang makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unwanted (END)
Narrativa StoricaTerlahir sebagai seorang Budak Perkebunan Kapas, Tom tahu tugas dan posisinya hanya untuk melayani Sang Tuan Muda yang masih berusia 12 tahun. Dengan hanya berjarak usia 4 tahun, Tom menyayangi Terrence seperti kepada adik yang tidak pernah ia mili...
