"Kehadiranmu disetiap luka ku, membuatku ingin mengenalmu"
"Baru pulang lo? Udah puas mainnya?! " ucap seorang lelaki yang baru saja turun dari tangga.
"Gue sekolah, bukan main." ujar Arsya.
"Yang ada, lo main di sekolah. Bukan belajar, percuma lo sekolah tapi gak pernah dapat ranking 10 besar! Jangan jadi benalu," hardik nya lagi.
Selalu begini dan masih tetap begini. Sampai kapan Arsya diperlakukan seperti ini? Arsya hanya diam dan terus mendengar hinaan dari Arya Andara, kakak kandungnya sendiri.
Tak lama setelahnya, pintu depan terbuka. Muncullah pria paruh baya yang menggunakan jas lengkap dengan berkas berkas penting ditangannya.
Siapa lagi kalau bukan Andra, papanya Arsya.
"Minggir kamu! "
Arsya bergeser memberikan jalan pada Andra. Perlakuan dingin selalu didapatkan Arsya dari kakak dan papanya. Arsya tidak pernah merasakan jadi seorang adik dan anak semenjak kejadian itu.
"Arsya awas!!"
Arsya terdorong ke pinggir jalan, mobil itu melaju cepat menghantam tubuh wanita tadi hingga terpental beberapa meter dari tempat dia berdiri. Kejadian itu terlalu cepat, Arsya tidak mampu berkata kata.
Tanpa perasaan mobil tadi malah pergi melarikan diri.
Orang orang berdatangan mengerubuni wanita tadi. Arsya berjalan gontai, tak perduli rasa sakit yang ada di lututnya. Semakin Arsya mendekat semakin jelas terlihat, banyak orang berkumpul dan mengerubuni wanita itu. Arsya tak bisa berkata kata. Air matanya terus menetes, dia berharap keajaiban datang dan menyelamatkan ibunya.
"Mama, bangun!" ucap Arsya tak kuasa menahan tangis.
"Mau sampai kapan kayak gini?" ujar Arsya tanpa menatap mereka berdua.
Andra menghentikan langkahnya. "Bisa kamu kembalikan Dara lagi?" ucap Andra dan Arsya diam.
"Kenapa harus mama yang pergi? Kenapa gak lo aja!" sambung Arya.
~~~~~~~~~~~
Entah sudah berapa banyak batu yang masuk ke dalam air karena lemparan Arsya. Semakin dia mengingatnya semakin sakit rasanya.
Arsya memutuskan melompat ke dalam danau, dia menyukai air, Apalagi berenang. Selalu bisa membuatnya tenang. Tapi ketika Arsya muncul ke permukaan dia melihat gadis itu lagi. Duduk sambil menatap datar ke depan.
"Jangan melamun, ntar kesambet" kata Arsya yang kini sudah berada di depan Anaya.
Anaya menatap Arsya sekilas lalu kembali memandang indahnya danau, Arsya berpindah posisi dan jadi duduk di sebelah Anaya sambil sesekali mengusap rambutnya yang basah. Air yang mengalir dari rambutnya sungguh merepotkan.
"Lo kenapa? Setiap liat gue langsung pergi, emang gue setan?" kata Arsya dan Anaya yang baru saja ingin pergi langsung menghentikan langkahnya.
"Jangan banyak bengong, emang lo mikirin apa sampai setiap saat wajah lo datar mulu." Sambung Arsya lagi.
"Kalau lo gak tau, lebih baik diam!" ucap Anaya dan kali ini benar benar pergi meninggalkan Arsya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR: Don't left me [END]
Teen Fiction"Seseorang gak akan bisa faham kalau dia gak merasakan penderitaan yang sama!" "Yaudah.. bagi penderitaan lo ke gue, biar gue bisa faham! " ~~~~~ Dunia menjadi sulit bagi Anaya, takdir menjadi tidak adil kepadanya dan bahagia berubah menjadi a...
![TAKDIR: Don't left me [END]](https://img.wattpad.com/cover/307951969-64-k397969.jpg)