37. tunggu aku {end?}

11 18 0
                                        

"Mungkin kisah terbaik buat kita adalah perpisahan"


Hasil tes DNA sudah keluar dan itu membuat hati Anaya semakin hancur. Hasilnya 99% akurat. Mereka semua kompak tidak percaya. Bagaimana bisa?.

"Pak! Cari teman saya pak!" Pian menangis dan masih terus menggoyangkan bahu pak polisi itu.

"Kami akan berusaha untuk menemukannya" ucap Pak polisi tadi.

Mereka menjauh dari TKP takut mengganggu pekerjaan pak Polisi tadi. Pian sudah tampak putus asa. Arsya sangat berarti baginya. Arsya sahabatnya dari kecil, Arsya yang selalu ada untuk dia. Tapi sekarang, dia bahkan tidak bisa berbuat apa apa ketika Arsya hilang.

Dia harus apa? Dia harus apa ketika Arsya pergi tanpa pamit padanya. Ketika Arsya menghilang tanpa bisa dia temukan. Pian frustasi. Kenapa selalu Arsya? Kenapa selalu Arsya yang dapat cerita pahit dari kehidupan? Bukan kah semuanya diciptakan beriringan? Lalu kenapa hanya kisah pahit yang dihadirkan untuk Arsya.

"Arsya pasti baik baik aja" Rifat tersenyum kecil.

Ya, mereka semua berharap seperti itu. Semoga saja Arsya baik baik disana. Entah itu dimana, mereka berharap dia masih ada.

Hari mulai gelap dan mereka memutuskan untuk pulang. Seketika Pian terdiam.

"Tunggu, bokapnya Arsya masih di Rumah Sakit kan?! " ucap Pian tiba tiba.

Semua sontak tersadar. Benar, masih ada Andra dan Arya. Mereka pasti tau apa yang terjadi dengan Arsya. Mungkin mereka juga sudah menemukan Arsya, mungkin. Bergegas mereka menuju rumah sakit. Tapi ketika mereka sampai disana.

"Maaf dek, pasien dengan nama tersebut sudah dibawa oleh keluarganya. " jelasnya.

"Dibawa sama keluarga yang mana Sus?!" Pian mendadak semangat.

"Cowo kan Sus?!" sambung Farul.

Setitik harapan muncul di hati mereka. Pasti Arsya atau Arya? Setidaknya mereka harus menemukan salah satu keluarga Arsya. Itu akan membantu mereka mengetahui Arsya dimana.

"Bukan dek, yang jemput perempuan" jelas suster tadi.

Senyum tadi hilang dan mereka kembali merasa putus asa. habis sudah, lo dimana Arsya?!

"Kalian ada yang punya nomor kak Arya?" tanya Dimas.

Seketika Pian teringat sesuatu. Bahkan Arya tidak tau kejadian ini. Dia harus cepat cepat mengabari laki-laki itu. Bagaimana pun juga, adeknya sendiri menghilang.

"Halo kak Arya?"

~~~~~~~~~~

Mereka duduk di rumah Arya. Arya tampak murung berbeda dari biasanya.

"Kakak tau dimana Arsya?" tanya Pian.

Arya menggeleng. "Gue udah berusaha cari dia. Gue sama sekali gak nemuin dia" ucap Arya.

"Jadi selama ini, kakak cari Arsya seorang diri? " kata Silfi.

"Iya, gue berusaha cari dia. Kemanapun. Gue gak mau kehilangan lagi. Gue tau gue pernah jahat sama Arsya. Tapi gue gak mau hukumannya dengan dia yang pergi ninggalin gue!" Papar Arya.

"Kakak tau dari mana Arsya hilang?" tanya Anaya.

"Grup kalian. Handphone Arsya ketinggalan saat itu" ucap Arya lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya.

"Kak, udah coba cek isi handphone Arsya? Mungkin kita bisa dapat petunjuk dari sana! Atau, pasti ada pesan teror atau semacamnya" Silfi menatap Arya lekat.

"Kakak udah cek, gak ada hal yang mencurigakan dari sini." Arya menaruh ponsel Arsya di meja.


"Om Andra dijemput siapa kak?!" Tanya silfi

"Dijemput sama oma. Kondisi papa udah mulai membaik tapi Papa tetap butuh istirahat cukup dan kata oma papa juga butuh udara segar di puncak" jelas Arya.

"Gue pulang duluan" Anaya beranjak dari tempatnya.

~~~~~~~~~

Bohong kalau Anaya bilang dia ingin pulang. Karena nyatanya dia kembali ke lokasi TKP, tidak peduli hari sudah malam. Dia duduk di tepi sungai.

Seketika Anaya menangis, entah kenapa semua memori saat dia bersama Arsya kembali terputar di kepalanya.

"Arsya, lo dimana? Pulang, Arsya" ucapnya lirih.

Anaya melempar sebuah batu yang ada di dekatnya. "Arsya pulang!. Apa yang buat lo gak ingin kembali? Kalau  gak ada apa pun yang bisa lo jadikan alasan. setidaknya liat kami! Dan  jadi kan kami alasan buat lo pulang. Kembali, Ar. Gue tau gak ada yang abadi di dunia ini, tapi setidaknya jangan pergi secepat ini. Tetap disisi gue lebih lama lagi." Anaya menutup wajahnya. Dadanya terasa sesak, hanya ada suara air dan tangisannya yang terdengar.

~~~~~~

Tiga bulan sudah berlalu setelah kejadian itu, Arsya dinyatakan hilang. Setiap hari Anaya selalu duduk di tepi sungai. Berharap Arsya memunculkan kepalanya seperti kejadian saat di danau dulu.

"Arsya, lo yang tenang disana. Kalau lo ketemu sama Faryn, sabar sabar sama dia. Gue tau dia cerewet. Kalau lo ketemu orangtua gue, sampai kan ke mereka, kalau gue rindu. Dan kalau lo ketemu Arkan. Bilang ke dia, gue udah bisa lupain rasa suka gue ke dia karena kehadiran lo yang buat itu berubah. Arkan, mungkin lo bakalan cocok sama Arsya" ucap Anaya lirih.

Anaya sebenarnya tidak bisa menerima kenyataan ketika Arsya dinyatakan meninggal. Semua memang terasa berat tapi kehidupan harus tetap berjalan karena Waktu tidak sebaik itu untuk berputar kembali.

"Kalau lo benci sama takdir lagi karena kepergian Arsya, berarti seluruh usaha Arsya untuk ngerubah pandangan lo sia-sia! "

Anaya tersenyum. "Tunggu gue disana,"




Thanks for reading...

Hampir tamat euyyyy

Don't forget to like and coment

Cerita absurd by me

Takdir

TAKDIR: Don't left me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang