27. melepas gelar

12 18 0
                                        

"Waktu itu terasa cepat, ketika melewatinya bersama orang yang kau sayang"
-


-
-
-
-
-

Farul menutup pidatonya, tidak terasa amanah yang selama ini harus mereka pegang sudah dilepaskan. Ya, mereka harus turun jabatan. Mengingat kelas XII yang juga harus mengikuti ujian.

"Hahhh.... Akhirnya, lepas juga gue dari rapat rapat OSIS" Dimas meneguk es jeruknya.

Pian datang dan menjitak Dimas. "Sejak kapan lo ikutan rapat OSIS?, datang aja jarang" hardik Pian dan duduk disebelah Farul.

Farul membuka penutup botol mineralnya. "Lo juga, Pi" ucap Farul dan meneguk airnya.

"Gak nyangka, udah kelas XII aja kita. Mana bentar lagi tamat" Silfi tersenyum kecil.

"Sebentar lagi ujian kan?" tanya Riza dan seketika wajah Dimas jadi memelas.

"Hmn" Arsya menjawab dengan dehaman.

"Eh, gimana kalau kita adain party setelah ujian!" usul Silfi semangat.

"Party apaan? " Lili memiringkan kepala.

"Hmmm" Silfi menepuk dagu dengan telunjuknya.

"Lomba makan!" seketika Dimas menjadi semangat.

"Party woii!!bukan lomba!" ujar Pian dan menoyor Dimas.

"Y- ya kan sekalian lomba aja, biar seru" ucap Dimas.

"Lomba ya?" Anaya menganggukkan kepala.

"Boleh tuh, tapi adain lomba lain juga, biar makin seru" Rifat menaik turunkan alisnya.

"Okehhh, gue catat! Lomba pertama apa nih?!!" Pian merobek selembar kertas.

"Dimana kita ngadainnya?" tanya Anaya kemudian.

"Rumah gue aja" jawab Pian.

"Dananya?" tanya Rifat.

"Patungan lah, gocap gocap" ucap Pian.

"Gocap! Mau beli apa gocap? Dua ratus satu orang, biar bisa beli hadiah yang keren" kata Dimas.

"Kemahalan!" ujar Pian.

"Biar semangat lombanya" sambung Dimas.

"Udah, seratus aja" ujar Silfi.

"Nah setuju" ucap Pian.

"pian catat!, lomba pertama lomba makan" ucap Lili.

"Okehh" Pian mencatatnya.

"Lomba apalagi?!" tanya Riza.

"Hmm...panjat tebing" ucap Rifat.

"Buset, ya kali dinding rumah si Pian kita panjat" cerocos Dimas

"Angkat beban" ujar Silfi

"Beban hidup udah banyak" ujar Dimas.

"Berenang?" Riza mengusulkan.

"Kolam dirumah Pian kolam bebek" jawab Dimas.

"KAGAKK!" Pian tak Terima.

"Lomba buat motor energi surya" Farul yang sedari tadi diam membuka suara.

Mereka jadi speechless, orang jenius pemikirannya berbeda ya?.

"Gimana buatnya? Entar yang ada, lombanya malah gak kelar-kelar!" Dimas melongo.

"Lagian, ujian aja belum selesai, udah bahas party, fokus dulu sama ujian" ucap Farul.

"Arul, sekali kali refresing" ucap Pian.

Tidak butuh waktu lama, mereka telah menyiapkan nama nama lomba dan kegiatan yang akan mereka rencanakan. Pian menyodorkan kertas tersebut. Mereka membacanya.

Catatan lomba.

~ lomba makan
~ lomba fashion show
~ lomba karung
~ lomba makan kerupuk
~ lomba panjat pinang
~ lomba makan kuaci
~ lomba lari
~ lomba cosplay jadi mermaid

"Seenak jidat lo nambahin lomba! Mana gak jelas" hardik Dimas.

"Siniin" Silfi mengambilnya.

"Lo catat gak sesuai sama yang kita diskusiin! " cerocos Lili.

Catatan nama lomba yang baru.

~ lomba makan
~ lomba lari
~ lomba hula hop
~ lomba yel yel
~ lomba merias wajah
~ lomba barang ajaib
~ lomba pantun
~ lomba teka teki

"Nih" Silfi memberikan kertas tadi.

"Nah, ini baru setuju" ujar Lili.

~~~~~~~~~~~

"ARSYAAAAA!!! FARULLLL!!!! KEPALA GUE MAU PECAH!!! GIMANA SIH KALIAN KOK BISA BACA BUKU SELAMA DUA JAM TANPA NGERASAIN BOSEN SEDIKITPUN!!!!" Pian guling guling gak jelas.

Mereka sedang berada di rumah Arsya. Belajar tentunya. Arya izin pamit keluar membeli beberapa jajanan untuk mereka. Hitung hitung hadiah karena udah mau belajar dengan fokusnya.

"Tauk ah!" Pian melempar bantal yang ada di dekatnya.

Farul menghela nafas, "kalau lo susah hafal teori, kita langsung praktek aja" Farul menutup bukunya dan mendekati Pian.

"HEHH! HOMO!! gila lo! Gue masih NORMAL! " Pian menyilangkan tangannya di depan dada.

Farul mengernyitkan alisnya.

"Gue barusan ngafal bab reproduksi! Gila lo apa?! Kagak mau gue!" Pian menutup badannya dengan bantal.

Farul mendelikkan matanya. "Ya mana gue tau lo hafalin bab itu"

"Arul, " Arsya merangkul Farul dari samping. "Gue tau, lo kelamaan jomlo. Tapi, Pian bukanlah pasangan yang tepat." ujar Arsya yang di iringi cekikikan.

"GUE NORMAL!" jelas Farul tak
Terima.

~~~~~~

"Papa.. Arsya menang turnamen lagi!" Seru Arsya kepada Andra yang masih sibuk dengan makan malamnya.

"Hmn" balas Andra tanpa menatap Arsya. " Arya, kata guru kamu. Kamu menang olimpiade IPA kan? Kok gak bilang ke papa?" Tanya Andra.

Arya menghentikan makan malamnya. "Papa sibuk terus" balas Arya.

"Ambil sertifikat kamu, biar kita pajang di lemari. Papa ke ruang kerja dulu. " ucap Andara lalu tersenyum ke arah Dara. Dara balas senyum.

"Ma, Arya ke atas ya" ujar Arya dan Dara mengangguk.

"Ma, apa papa masih marah ya karena Arsya gak sengaja rusakin kertas papa?" Keluh Arsya kepada mamanya.

Dara tersenyum sembari mengelus kepala putranya. Dia masih ingat ketika Andra marah saat Arsya mengubah semua kumpulan berkas kerja Andra menjadi pesawat kertas dan menerbangkannya.

"Arsya harus ingat! Walaupun papa marah, papa masih tetap sayang sama Arsya! Jangan sedih lagi, Ar" jelas Dara kemudian memeluk Arsya.

Arsya tersenyum kecut. Dia bersandar di pagar balkon dengan tangan yang bertumpu di depannya.

"Lo yang goblok Arsya! Gimana bisa papa sayang sama lo kalau tingkah yang lo buat selalu salah. Gak berguna! Lo gak berprestasi di sekolah. Cuman bisa mukulin orang kalau lagi turnamen" Arsya menegakkan tubuhnnya dan menatap bintang. "Dan lo juga yang buat mama pergi."


Cerita absurd by me..

Thanks for reading

Don't forget to like and coment, satu vote sangat berarti bagi penulis.

Takdir



TAKDIR: Don't left me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang