7. kompetisi

22 18 3
                                        

"Dirimu yang selalu berusaha membuatku faham akan takdir yang kejam."
-
-
-
-
-
-

"ARSYAAAAAA!!!!"

Sayup-sayup Arsya mendengar seseorang berteriak memanggil namanya. Arsya mengarahkan seluruh fokusnya ke telinga. Suara tadi sudah hilang, Arsya menaikkan bahunya acuh dan kembali membaca buku. Tiba-tiba suara tadi muncul lagi, semakin dekat dan semakin dekat.

"ARSYAAAAA!!!!!" Pian berhenti tepat di depan Arsya.

"Apa?" tanya Arsya bingung.

"Gawat Sya!! GAWAT!!" ujarnya setelah meminum air yang ada di atas meja Arsya.

"Apanya?"

"Dimas sama Rizanti!!! Ngasih sesuatu ke siswa SMA Angkasa!!! Gue gak mau tau Sya!! Kita harus kasih sesuatu yang lebih besar!!! Mobil, rumah... Oh gue tau!! Roket aja!!!" cerocos Pian.

"Buat apa?" Arsya mengerutkan dahinya.

"Biar kita gak kalah lah Sya! Tapi mau jadi ketos baru!" Pian menyenggol lengan Arsya dengan siku.

"Kemarin gak mau, sekarang mau. Labil lo! "

Arsya melirik sekilas keluar pintu, Rifat dan Silfi lewat sambil berlari, disusul Farul dan juga Anaya. Merasa ada yang aneh, Arsya memutuskan mengikuti mereka. Ternyata arahnya menuju kantor kepala sekolah. Mereka semua berhenti di depan sana.

"Rul, siapa di dalam?" Arsya melirik pintu yang tertutup rapat itu.

"Dimas sama Rizanti"

Tak lama setelahnya, Dimas dan Rizanti keluar. Rifat melirik kantong plastik hitam yang ada di tangan Rizanti.

"DIMASSSSS!!!!!" Rizanti merapatkan giginya. Untung saja Rifat cepat bertindak. Kalau dia telat, Dimas pasti sudah habis diterkam oleh Riza.

"Lepasin gue!!! Mau gue cakar mukanya!!!!"

"Tenang Za!! Lo kenapa?" Silfi ikut membantu Rifat menahan Rizanti.

"LEPASIN GUE ANJING!!!"

"Gak diem, Gue sembur lo!!!" ancam Pian sambil mengumpulkan air di mulutnya.

Rizanti mengatur nafas, dia sudah kembali tenang. Air tadi juga sudah dimuntah kan Pian, mana mungkin diminumnya, itu adalah air mentah yang baru diambilnya dari wastafel yang ada didekat mereka.

"Lo gimana sih Dim! Untung cuman didiskualifikasi!! BUKAN DI DO!! Memang bangs*t lo!!"

Rifat sudah siap siaga, takut takut Riza kembali kesurupan. Kan bisa repot kalau Dimas masuk UKS.

"Salah lo, kenapa kasih gue teka-teki yang rumit!"

"Rumit! Jalan hidup lo yang rumit!!!"

"Lo berdua kalau sama sama jadi api! Gue jadi air.. Mau gue sembur! " ancam Pian lagi.

"Masalahnya apa?" Anaya yang sedari tadi diam ikut membuka suara.

"Lo tanya aja TUYUL satu ini!" jawab Riza penuh penekanan.

Mereka semua melirik Dimas. Dimas nyengir dan mengangkat tinggi plastik hitam tadi.

TAKDIR: Don't left me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang