"Apa kau akan pergi lagi?"
Setelah berusaha mengingat ingat. Akhirnya Rifat bisa mengingatnya ketika menyusuri jalan yang dilalui mereka. Saat sampai di tempat tujuan, ada pasukan polisi yang sedang melakukan penyelidikan.
"Pak, ada kejadian apa ya pak?" tanya Pian kepada salah satu warga.
"Lagi nyari korban dek, dikabarkan tenggelam, " jelasnya.
Anaya menggenggam erat tangan Lili. Semoga saja bukan Arsya. Semoga bukan dia. Polisi itu mengangkat sesuatu dan memasukkannya ke plastik putih, mereka duga kalau itu barang bukti.
Farul menerobos batas polisi, dia mendatangi polisi tadi. Mereka mengikuti apa yang dilakukan Farul.
"Pak! Itu kuku siapa? Pasti kuku korban" ucap Riza.
"Maaf dek, ini harus segera dibawa ke kantor" ucap polisi tadi.
"Pak! Kita tes DNA aja pakai kuku itu! Karena teman kami juga menghilang disini" jelas Pian.
Polisi itu mengangguk. Pian segera melesat kerumah Arsya. Tidak ada siapapun disana. Tapi rumah Arsya tidak di kunci. Memang dirumah Arsya tidak menggunakan jasa satpam. Jadi memudahkan Pian untuk masuk. Dia langsung membuka lemari piala Arsya. Dia mengambil kotak yang berisikan gigi Arsya. Dia membawanya ke kantor polisi dan memberikannya kepada polisi itu. Mereka hanya bisa menunggu hasil tes DNA keluar.
"Semoga bukan Arsya" ucap Riza pelan.
Dimas mengangguk. "Tenang, Arsya itu orangnya kuat. Pasti dia baik baik aja"
~~~~~~~~~~~
Anaya membuka pintu rumahnya. Dia berlari menuju kamar. Anaya membuang semua yang ada di atas mejanya. Memukul meja belajarnya. Dia kesal, dia sedih, dia merasa kehilangan lagi.
"Arsya lo dimana?!!" Anaya memeluk kakinya sendiri.
Kenapa harus terjadi lagi? Dia hanya tidak ingin seseorang meninggalkannya lagi. Dia tidak ingin ditinggal pergi lagi. Anaya menangis sejadi jadinya. Dadanya terasa sesak, bukan karena tangisannya tapi karena ada sesuatu yang menghilang dari sana.
"Anaya, kamu gak apa apa sayang? " karin mengetuk pintu kamar Anaya.
Anaya tidak menjawab, Karin coba untuk membukanya. Tapi tidak bisa karena dikunci dari dalam. Karin menghela nafas, dia beranjak dari sana.
Anaya menggigit bibir bawanya, berharap isak kan tangis tak akan keluar dari mulutnya. Bukannya isakkan yang keluar. Tapi setetes darah perlahan turun membasahi dagunya. Dia terlalu kuat menggigit bibirnya. Semua itu tidak terasa bagi Anaya. Semua kesedihan itu lebih sakit saat menggerogoti hatinya.
Ceklek
Karin membuka pintu menggunakan kunci cadangan dari kamarnya. Karin terkejut melihat kondisi Anaya. Dia bergulung didalam selimut dan memeluk kakinya sendiri. Semua barang berantakan, gorden ditutup dan lampu dimatikan.
Karin tersenyum, dia sudah tau apa yang terjadi. Kalau dia menangis tidak akan membantu Anaya, lebih baik dia menenangkan keponakannya itu. Karin menyingkapkan kain gorden, membiarkan matahari masuk melalui celah celah jendela.
"Anaya, " ucapnya lembut.
Karin mendekati Anaya, dia mengusap pelan kepala gadis itu. Perlahan mata karin tertuju ke dagu keponakannya. Karin beranjak untuk mengambil kotak obat.
Dia tau rasa sakitnya. Karin faham yang dirasakan Anaya. Kehilangan seseorang yang kau cintai, tidak semudah yang kau bayangkan. Ada rasa sakit yang tidak dapat diungkap dengan kata kata dan dunia seolah kehilangann warna saat sesuatu yang penting menghilang.
"Tante, Arsya" Anaya menagis di hadapan Karin.
Karin mengusap air mata keponakannya. "Do'ain yang terbaik buat Arsya" ucapnya lalu perlahan mengobati Anaya.
"Kenapa semua orang pergi dari Anaya? Kenapa semuanya perlahan lahan menghilang? Apa Anaya gak berhak untuk bahagia? Anaya cuman mau orang-orang yang Anaya sayang ada di samping Anaya. Udah cukup semuanya pergi dari Anaya, tapi jangan Arsya juga. Jangan ambil Arsya, jangan Arsya yang pergi. "
Karin diam, dia memilih untuk diam. Anaya terus menangis. Karin menutup kotak obatnya lalu memeluk erat tubuh Anaya. "Semua orang berhak bahagia Anaya. Arsya pasti baik baik aja. Kamu harus percaya" ucap Karin.
Thank's for reading guys
Don't forget to like and coment
Cerita absurd by me
Takdir
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR: Don't left me [END]
Teen Fiction"Seseorang gak akan bisa faham kalau dia gak merasakan penderitaan yang sama!" "Yaudah.. bagi penderitaan lo ke gue, biar gue bisa faham! " ~~~~~ Dunia menjadi sulit bagi Anaya, takdir menjadi tidak adil kepadanya dan bahagia berubah menjadi a...
![TAKDIR: Don't left me [END]](https://img.wattpad.com/cover/307951969-64-k397969.jpg)