"Ini adalah awal yang akan membuktikan kepada mereka yang selalu menganggapku rendah."
"Gimana Rul?" Satrio melipat tangannya.
"Gak kak, gue gak niat jadi ketos." Tolak Farul dengan ekspresi yang masih sama.
Sudah 1 jam mereka berada di ruangan OSIS ini, sudah lelah juga Satrio menjelaskan panjang lebar manfaat ikut dalam organisasi. Tapi Farul masih kekeuh dengan pendiriannya, dia menolak.
Satrio memijit pelipisnya, bagaimana lagi caranya agar Farul mengerti? Bukankah lebih baik jika OSIS dipegang oleh kedua siswa yang berprestasi? Tampak Satrio sedang berfikir keras untuk ini.
"Tapi Rul, kan bagus kalau OSIS dipegang sama siswa yang berprestasi! " jelas Satrio lagi.
"Siswa berprestasi di sekolah ini bukan cuman gue sama Anaya doang," sanggah Farul.
Sekarang malah Satrio yang diam, Anaya masih fokus memperhatikan perdebatan mereka. Sekilas Satrio melirik Anaya, bantuin kek Nay. Telepati nya dan Anaya menaikkan bahunya. Oke Satrio pasrah.
"Lo gimana Nay?" David si wakil ketua OSIS membuka suara.
"Gue terserah kak" jelas Anaya singkat.
~~~~~~~~~
"Sya! Lo gak mau jadi ketos?"
Setelah dari mading sekolah, Pian langsung menghampiri Arsya. Membahas apa yang dilihatnya di mading.
"Gak, males gue" ucap Arsya tak tertarik sama sekali.
"Lo gimana sih, lo kan lagi PDKT sama Anaya"
"Ha?! PDKT? Siapa bilang?!" protes Arsya tak terima.
"Gue lihat pake mata kaki gue sendiri!" jelas Pian.
"dasar penguntit! " ucap Arsya dan Pian nyengir.
"Jadi gimana Sya?! Udah ikut aja, biar Anaya suka sama lo" Pian memainkan alisnya membuat Arsya bergidik ngeri.
"Makin gak mau gue, masa iya lakuin itu cuman buat narik perhatian cewek" ujarnya.
Pian memegang dagunya seolah berfikir. "Hmm... Yaudah. Kalau gitu, lo lakuin itu untuk ngebuktiin ke kakak sama bokap lo, kalau lo gak seburuk yang mereka fikirin."
Nah, kali ini malah Arsya yang berfikir. Seperti disambar petir di siang bolong, perkataan Pian Sagara bak perkataan Mario Teguh yang bisa membuat Arsya termotivasi. Sungguh pengaruh yang luar biasa. Akhirnya, Pian mampu mengeluarkan bakatnya yang terpendam. Walaupun bisa dibilang sangat jarang hingga bisa masuk keajaiban dunia.
Jauh dari ujung lapangan Farul memperhatikan kedua sahabatnya itu. Ya, dia tidak heran lagi kalau Arsya dan Pian melakukan hal yang membuatnya ingin mengurung mereka agar tidak membuat mereka malu. Bagaimana tidak, hanya mereka berdua yang berdiri di tengah lapangan itu. Yang satu nyengir nyengir yang satu lagi malah bengong.
"Kalau mau daftar jadi anggota pasien RSJ jangan di sini" Farul mendekati mereka.
"Rul, ngapain di ruang OSIS?" tanya Pian antusias.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR: Don't left me [END]
Novela Juvenil"Seseorang gak akan bisa faham kalau dia gak merasakan penderitaan yang sama!" "Yaudah.. bagi penderitaan lo ke gue, biar gue bisa faham! " ~~~~~ Dunia menjadi sulit bagi Anaya, takdir menjadi tidak adil kepadanya dan bahagia berubah menjadi a...
![TAKDIR: Don't left me [END]](https://img.wattpad.com/cover/307951969-64-k397969.jpg)