"Kau mungkin bisa memaksa seseorang untuk pergi tapi kau tak mungkin bisa memaksa seseorang untuk tinggal"
Waktu berlalu, pertempuran dengan soal soal ujian sudah di mulai. Hari demi hari berjalan, kalau ditanya apakah mereka lelah, jawabannya pasti iya. Pian mengacak rambutnya frustasi. Pasalnya dia lupa mengerjakan soal yang ada di balik kertas.
Dimas tertawa ngakak sambil sesekali menyeruput es teh nya. Farul menutup buku, dia juga perlu mengistirahatkan otaknya, lagipula hari ini adalah hari terakhir ujian.
"Nih" Arsya menaruh 3 botol air mineral dingin diatas meja.
"Thanks" Farul mengambil satu, membukanya dan langsung meneguk nya.
"Haus apa doyan?" tanya Rifat karena air itu langsung habis diminum Farul.
"Laper" jawabnya dan membuang botol itu ke tong sampah dengan cara melemparnya.
"Buset dah, laper" celetuk Rifat.
"Mentang-mentang anak basket inti. Semua barang lo lempar, Rul" hardik Pian.
"Mager" ucap Farul.
"Cocok nih, masuk imama" kata Pian.
"Apaan tu?" tanya Dimas polos.
"Ikatan manusia mager" ledek Pian dan tertawa ngakak.
"Btw, itu dadu buat apaan?" Arsya mengambil dadu dari Dimas.
"Kunci jawaban" jawab Dimas enteng.
Pian tenganga. Dia fikir cara seperti itu sudah menjadi sejarah. Ternyata masih ada manusia yang menggunakannya.
"Oh iya, sya!. Gimana hubungan lo sama Anaya?" ujar Pian.
Rifat melirik Arsya, Farul tampak cuek, Dimas tersenyum jahil sedangkan Arsya terdiam sejenak mencerna maksud dari perkataan Pian.
"Emang hubungan gue sama Anaya kenapa?" Arsya memiringkan kepalanya.
Pian memukul jidatnya. "Bego! Kapan lo mau nembak dia?!"
"Ngaco lo, Pi!" Arsya tersenyum lalu meneguk air di botolnya.
"Eh! Anaknya om Direk!!! Lupa lo, gue udah berapa lama jadi sahabat lo? Gak usah banyak bacot lo! Udah keliatan kali kalau lo suka sama Anaya!" jelas Pian.
"Om Direk? Bukannya papa Arsya itu... Om Andra ya?" Dimas menggaruk kepalanya.
"Direktur maksudnya" jelas Pian lagi.
Dimas mengangguk.
"Jadi kapan, Sya!"
"Apanya?"
"Nembak Anaya!!!!" Pian mulai geram.
"Ada-ada aja lo, Pi. Udahlah gue balik" Arsya berdiri.
"Lo gak bisa boongin gue!!! Suka kan lo sama Anaya!!" ujar Pian lagi.
"Terserah lo" Arsya sudah menjauhi perkarangan kantin.
Pian menyeringai. "Liat aja lo nanti"
~~~~~~~~
Farul singgah sebentar di ruang osis lalu mengambil sebuah kertas di mejanya dia duduk sebentar lalu mengambil sebuah minuman berbotol dari tasnya. Salah satu pemberian dari fansnya. Lili berdiri diambang pintu. Memperhatikan Farul dan tersenyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR: Don't left me [END]
Fiksi Remaja"Seseorang gak akan bisa faham kalau dia gak merasakan penderitaan yang sama!" "Yaudah.. bagi penderitaan lo ke gue, biar gue bisa faham! " ~~~~~ Dunia menjadi sulit bagi Anaya, takdir menjadi tidak adil kepadanya dan bahagia berubah menjadi a...
![TAKDIR: Don't left me [END]](https://img.wattpad.com/cover/307951969-64-k397969.jpg)