28. Nia dan bintang

10 18 0
                                        

"Tidur tidur dahulu, pusing ujian kemudian"
-
-
-
-
-
-

"Gimana ujian lo, Pi?" tanya Dimas karena melihat Pian yang sedari tadi diam.

"Gawat" ucap Pian pelan.

"Makanya, belajar" hardik Lili.

"Udah belajar gue, tapi pas sampe sekolah ngantuk. Jadinya, tidur dulu. Eh ternyata semua yang gue hafal hilang." Pian nyengir.

"Tidur tidur dahulu, pusing ujian kemudian" Silfi tertawa ngakak.

"Eh, dana nya udah di kumpulin belum?" tanya Rifat.

"Udah, udah semua kok" Lili tersenyum.

Arsya dan Anaya datang membawa bakso yang mereka pesan. Setelah pulang sekolah, mereka pergi untuk makan bakso di pinggir jalan, lumayan makan bakso dulu mumpung di traktir sama Rifat.

"Kalau ujian lo gimana Rul?" tanya Silfi.

Farul melirik sekilas kemudian mematikan ponselnya. "Susah juga" ucapnya.

Gubrakk

"ASTAGFIRULLAH" Silfi terlonjak kaget karena Dimas dan Pian kompak memukul meja.

Rifat menoyor Dimas dan Pian. "Kalau rusak, kalian yang TRAKTIR dan GANTI RUGI!" Cerocos Rifat gemas karena si abang tukang bakso melirik mereka.

"Hehehe maaf ya bang, gak rusak kokk.... Amannnn" Ucap Dimas dan Pian kompak sambil mengelus elus meja bekas pukulan mereka. "Peace" sambung mereka.

"Seorang Farul Relian Rama kesulitan menghadapi UJIAN!!! serius aja lo!" Lili masih tidak percaya

Anaya dan Arsya menaruh bakso itu di depan mereka. Mereka langsung mengambilnya dan menyantapnya. Anaya dan Arsya kembali duduk untuk bergabung bersama mereka.

"Iya, ada satu soal yang buat gue pusing" ucap Farul jujur.

"Dimas, gue speechles." adu Pian dan dibalas anggukan dari Dimas.

"Trus lo sekarang lagi ngapain?" tanya Arsya karena Farul kembali sibuk dengan ponselnya.

"Cari jawaban dari soal tadi" ucap Farul.

~~~~~~~~~~~

Anaya menutup pintu rumahnya. Dia menaruh tas di meja dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Karin keluar dari kamar mandi dan menghampiri Anaya.

"Anaya, tante nemuin kotak sama jepit rambut di kamar kamu" ujarnya sambil mencuci tangan.

Anaya hampir tersedak. "Oh... Itu tante, itu- "

"Punya mama kamu kan?" ucap Karin.

"Tante, tau darimana?" tanya Anaya.

"Kan itu hadiah dari tante" jawab karin.

"Oh, gitu"

"Tapi bukan itu yang mau tante tanya" Karin mengusap tangannya dengan serbet. "Surat yang ada disana. Kamu ngapain selama tante pergi?" tanyanya.

"Itu.. "

Anaya terdiam sejenak. Dia lupa membuang surat itu, bisa jadi gawat kalau tante Karin tau yang sebenarnya. Apakah Anaya harus menceritakannya?.

"Hm?" karin menunggu jawaban dari Anaya.

"Itu, si Lili iseng tan. Hehe" Anaya nyengir.

Karin menghela nafas. "Nay, jangan bohong sama tante" ucapnya.

Anaya menghela nafas, tidak ada pilihan selain menceritakannya. Anaya mengajak karin untuk duduk di sofa dan menceritakan semua tanpa ada yang di tutupi sedikitpun.

~~~~~~~~~

Seminggu telah berlalu, ujian masih berjalan. Mereka juga sudah berkonsultasi kepada guru untuk menentukan jurusan.

"Lo pilih apa, Dim?" tanya Pian.

"Rahasia" ucap Dimas.

"Buset"

"Nanti kalau keterima gue kasih tau" ucapnya.

"Eh, berarti lomba kita bentar lagi kan?" Riza mendadak semangat.

"Iya,"

"Eh eh Arsya! Mau kemana?!!" Teriak Riza ketika melihat Arsya melewati mereka. Arsya tidak menjawab. "Mungkin dia buru-buru" jelas Dimas.

~~~~~~~~

Anaya tidak dapat membendung air matanya. Arsya ikut menunduk di sebelah Hana. Farul hanya menatap kosong batu nisan di depannya.

"Nia.. nia jangan sedih, kami disini akan baik baik aja.. nia yang tenang ya. Hana pasti bakalan sering kemari," ucap Hana lirih sambil mengusap pipinya. Hana sudah tidak menggunakan kursi roda. Kondisinya mulai membaik.

Farul menunduk diseberang Hana. Dia mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Nia. Rasanya baru kemarin dia menceritakan tentang bintang kepada gadis kecil ini. Tapi sekarang, dia sudah lebih dulu menemui Tuhan.

Arsya menggendong Hana dan membiarkannya menangis dalam dekapannya. "Hana jangan sedih, sekarang Nia udah gak ngerasain sakit lagi. Bahkan sekarang Nia bisa liat bintang-bintang yang dia suka"

"Hana tau Nia suka sama bintang. Tapi Hana gak mau Nia jadi pergi buat liat bintang!" Balaas Hana yang masih menangis.

Cerita absurd by me

Don't forget to like and comet

Takdir



TAKDIR: Don't left me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang