34. prom night

9 18 0
                                        

.
.
.
.
.
.

Anaya mencari cari keberadaan Arsya. Dimana dia? Bukankah sudah janji mau datang? Anaya membuka ponselnya, pesannya belum juga di balas Arsya. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak.

"Nay, ngapain mojok! Sini gabung" Silfi menarik Anaya untuk ikut bersamanya.

"Pi, ada lihat Arsya?" tanya Anaya to the point

"Gak ada, gue bareng sama Rifat tadi" jelas Pian.

"Coba telfon aja, nay" Riza memberikan segelas minuman ke Anaya.

Anaya menerimanya, dia menekan layar ponselnya untuk menelfon Arsya. "Gak diangkat" ucap Anaya.

"Mungkin di jalan" ucap Lili.

"Hai semua"

"Kak Rio?! " mereka kaget.

Satrio tersenyum menunjukkan sederet gigi putihnya.

"Ngapain bang sat?" tanya Pian.

Senyuman yang mengembang kini luntur karena panggilan lucknut dari Pian. "Ya ikutan acara kalian" ucap Satrio jujur.

"Lho, boleh emang?" tanya Pian.

"Ya boleh, kan gue MC nya" ucap Satrio.

"Di undang kepsek kak?" tanya Riza.

"Paling kak Rio yang maksa kepsek" cerocos Dimas.

Satrio memaksakan senyumnya. Ternyata Pian dan Dimas tidak berubah. Mereka masih sama. Masih orang yang sama yang suka menguji kesabarannya.

"Ya, itu ada benernya sih" ujar Satrio jujur.

"Udah ada pasangan dansa?" tanya Satrio

"Aman kak, " jawab mereka kompak.

"Farul sama Anaya mana?" tanya Satrio karena tidak melihat mereka.

"Si Arul lagi di toilet, si Anaya lagi mojok tuh kak, " jelas Rifat.

"Eh, kak Rio lulus jurusan apa nih?!" Tanya Silfi semangat.

"Bisnis" jawab Satrio

"Eh, Kirain kk Rio bakalan ambil kedokteran. Kan, Kak Rio aktif di PMR" ucap Riza yang sedikit heran.

"Ya, PMR sekedar suka aja kok." Jelasnya. " oke deh, kakak duluan ya. Udah di panggil tuh" ucapnya sembari pergi meninggalkan mereka.

Acara berjalan sangat meriah. Kini sudah sampai di puncak acaranya, dimana mereka harus berdansa dengan berpasangan. Cukup banyak yang berpartisipasi. Hanya beberapa orang yang tidak ikutan. Salah satunya Anaya dan Farul.

Anaya duduk tak jauh dari tempat mereka berdansa. Tiba tiba Farul datang dan menjulurkan tangannya.

"Dansa sama gue? Mau? " tanyanya.

Anaya melirik Lili yang hanya diam. Lili mengulas senyum kecil. Ya memang sampai detik ini, Farul belum menyadari kalau Lili menyukainya. Entah karena Lili yang terlalu pintar menutupi atau karena Farul yang tak kunjung peka.

"Ga pa-pa kali Nay, gue mah santuy" bisik Lili membuat Anaya menghembuskan nafas gusar. "Lagian itu si Pian nganggur... hehehe" ucapnya setengah berbisik.

Anaya tersenyum kecil dan mengangguk. Anaya menggapai tangan Farul lalu mulai berjalan ke tengah tengah. Percuma juga dia menunggu Arsya karena setela acara ini prom night sudah selesai.

"Tumben mau beginian?" ucap Anaya.

Mereka masih berdansa dengan alunan musik yang ada. Farul tersenyum kecil.

"Ya, banyak yang ngajak tadi. Tapi saat gue tolak, ada yang nangis" jelasnya.

Anaya tertawa kecil. "Makanya, muka jangan ganteng, sikap jangan cool, otak jangan pinter kalau gak mau di gituin" cerocos Anaya.

"Ya, gimana lagi. Gue juga gak enak kali nolak mereka terus, tapi kalau nerima ajakkan mereka, gue gak mau. " jelas Farul.

"Apa? Mereka? Berapa orang yang ajakin lo dansa?" Anaya speechless jadinya.

"Dua belas mungkin, gue ngak ngira" jawab Farul jujur.

Musik masih mengiringi, semua pasangan tampak menikmatinya. Lain dengan Farul dan Anaya. Mereka masih sibuk mengobrol meskipun masih dalam posisi berdansa.

"Kalau lo? Lo kan lumayan famous" tanya Farul.

"Enam" jawab Anaya jujur.

Musik berhenti di mainkan. Acara sudah selesai. Anaya pulang dengan di antar Farul. Sesampainya di rumah, karin menyuruh Farul untuk singgah sebentar.

"Ambil jurusan apa Farul?" tanya Karin dan menaruh segelas teh hangat di meja.

"Astronomi tante" ucapnya

"Tante fikir kamu mau jadi hakim," ucap Karin di selingi tawa.

"Itu cita cita Farul pas masih kecil, tante." Jelas Farul diselingi tawa kecil. Tandain! TAWA KECIL! CUMAN SEMUT YANG BISA DENGAR!

"Tante masih ingat aja," Anaya melirik Farul sekilas.

"Haha, iya kan dulu tante sering kemari. Dan kamu sering bawa Lili, Farul sama Arkan kan?," jelas Karin.

"Iya, sama Arkan juga" Farul berkata pelan dan mendadak murung.

"Lo tau Arsya masuk jurusan apa? Dan kuliah dimana?" tanya Anaya yang harus segera mengubah topik pembicaraan. Membahas Arkan bukan hal yang tepat untuk mereka.

"Enggak" jawab Farul.

"Eh Farul, diminum dulu" kata Karin.

"Iya tan" Farul meneguk minumannya.

Anaya kembali mengecek ponselnya. Nihil, tidak ada jawaban apa pun dari Arsya.

Don't forget to like and coment

Cerita absurd by me

Mulai pusinggg

Thanks for reading guys

Takdir

TAKDIR: Don't left me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang