"Berubah itu sulit. Namun, itu adalah langkah menuju jalan yang baru. "
-
-
-
-
-
-
"Cukup Farul, CUKUP!. Lo mau bunuh gue? Kepala gue udah mau meledak!"
Pian sudah hampir gila karena mengerjakan tugas ini. Tolong, sekarang juga bawa pian menuju rumah sakit. Kepalanya harus dirawat intensif karena sudah terbakar sedari tadi. Bagaimana tidak, Farul memberikan soal olimpiade kepada Pian yang baru ingin belajar matematika.
"Ini mudah Pi! Lo tinggal eliminasi Y nya aja" jelas Farul sambil memutar pena.
"Panas!! KEPALA GUE PANAS!!!" Pian mendramatisir keadaan.
Gyurrr
Air mengalir dari atas kepala pian, menciptakan sensasi dingin. Bukannya marah Pian malah tersenyum senang, seolah semua beban dikepalanya hanyut terbawa guyuran air tadi.
"Tuh, biar dingin" Arsya menaruh gelas dan kembali duduk.
"Sya!!! Makasih! Kepala gue jadi adem," Pian memeluk Arsya erat.
"Geli! Pergi lo!" Arsya mendorong wajah Pian agar menjauh darinya, oh ayolah Arsya masih normal.
"Sinting" gumam Farul pelan.
Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu, tampak Lili dan Anaya berjalan kearah mereka. Lili berkacak pinggang dan tampak jelas raut kesal di wajahnya. Nah, siap siap Farul kena sembur.
"Lo niat Terima tamu gak? Gue udah manggil seribu kali tapi lo gak keluar!!" hiperbola nya.
"Sorry" ucap Farul singkat, padat dan jelas.
Jantung Anaya seakan berhenti, tubuhnya mendadak kaku dan diam di tempat. Laki-laki itu sedang sibuk dengan bukunya tampak fokus membaca setiap kata yang tertera. Tanpa menghiraukan mereka datang. Sebenarnya laki-laki itu siapa?
Lili menarik lengan Anaya, mengajaknya duduk dibawah bersama yang lain. Sial, dia berada tepat di depan Arsya dan hanya meja yang menjadi penghalang antara mereka berdua. Anaya memperhatikan Arsya, entah apa yang dipikirkannya tetapi Anaya sangat penasaran dengan laki-laki itu.
Arsya yang sadar dilihat memalingkan fokusnya dari buku dan tersenyum kepada Anaya. Anaya mengalihkan pandangannya, tak berani menatap Arsya. Percayalah, jantung Anaya tidak aman sekarang. Arsya kembali membaca bukunya. Lili heran melihat tingkah Anaya dan Arsya, seakan ada gerak gerik aneh dari keduanya.
"Kalian... Saling kenal?" tanya Lili sambil memiringkan kepala.
Anaya dan Arsya menoleh. Dengan kecepatan kilat, mereka menggelengkan kepala.
~~~~~~~~~~
"Satu satu satu satu"
"Satu satu mulu Pak! Dua nya kapan?!" protes Pian yang sudah dibanjiri keringat.
Push up. Pian terpaksa push up karena tidak ingin mengikuti pelajaran dan memilih nongkrong. Bukan dikantin, melainkan di lab komputer. Alasannya karena ada AC.
"Makanya, push up yang bener!" ucap Pak Gio.
Pian menghembuskan nafas lelah. "Sya! Beliin gue es,"ucap Pian sambil menunjukkan puppy eyes nya tanpa berhenti push up.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR: Don't left me [END]
Dla nastolatków"Seseorang gak akan bisa faham kalau dia gak merasakan penderitaan yang sama!" "Yaudah.. bagi penderitaan lo ke gue, biar gue bisa faham! " ~~~~~ Dunia menjadi sulit bagi Anaya, takdir menjadi tidak adil kepadanya dan bahagia berubah menjadi a...
![TAKDIR: Don't left me [END]](https://img.wattpad.com/cover/307951969-64-k397969.jpg)