18. kejamnya Arya

11 18 0
                                        

"Kesempatan tidak datang dua kali untuk setiap orang"

"Kerjain soal ini, kalau salah satu aja.... Gue bakar PS lo!" ancam Arya.

Arsya menelan ludahnya. Kak Arya gak serius kan? PS itu dia beli dengan penuh perjuangan lho. Dia memecahkan tabungan ayam dari hasil usahanya sendiri. Arsya sempat berjualan saat masih duduk di bangku SD. Biar tau susahnya cari uang, fikir nya saat itu.

Arya memberikan selembar kertas yang berisikan soal. Arsya menerimanya lalu mulai mengerjakan dengan sangat sangat sangat teliti. PS nya jadi taruhan!

"Jadi, lo mau pindah ke kelas IPA 1?" Arya meninggalkan Arsya dan duduk di sofa.

Arsya diam.

"Mau?"

Masih tetap diam.

"Mau gak!" tanya Arya yang mulai gemas.

Arsya masih diam.

"Woi!!"

"Ssstttt" Arsya menaruh jari telunjuk di depan mulutnya.

Sekarang malah Arya diam. Speechless lebih tepatnya. Waktu berlalu, tidak terasa sudah satu jam Arsya mengerjakan soal yang notabenya untuk Einstein ini. Apa-apaan Arya ini! Sebelas duabelas sama Farul.

"Nih" Arsya memberikan selembar kertas tadi.

Arya menerimanya. Dia melihat secara teliti. Namun saat dia mengalihkan pandangan ke Arsya, anak itu sudah hilang. Arya menyunggingkan senyumnya. Dasar Arsya.

~~~~~~~~~~~~

"Lo ngapain di mari?" Tanya Pian kaget.

Arsya terlihat mengatur nafasnya. "Lari dari kak Arya." Jelasnya.

"Siapa itu Pian?" Tanya mama Pian atau lebih tepatnya tante sarah.

"Si Arsya nih, nyakkk!!" Teriak Pian karena Sarah masih berada di dapur.

Sarah menoyor kepala putra tersayangnya. "Panggilan mami udah keren ya Pian! Kok diganti sama enyak! Mami balikin lagi nih ke perut!"

"Yeeee, si en- maksudnya mami... mami" Pian langsung mengganti panggilan ibunya ketika Sarah melototinya.

"Arsya masuk aja, nak." Ucap Sarah ramah. "Arsya udah makan? Mau makan apa? Biar mami masakin!"

"Em.... Arsya kepingin brownis buatan mami" ucap Arsya semangat.

"Oke Arsya sayang. Tunggu ya" ucap Sarah lebih semangat lagi.

"Lha... kemarin Pian mau itu tapi gak dibuatin. Ini si Arsya kok langsung di iyain mi!!!" Protes Pian.

"Lo anak tiri" hardik regan, adek laki-laki Pian.

"Lo anak pungut!" Balas Pian tak terima.

Arsya hanya bisa menahan tawa disini. Tak lama dari itu, Sarah kembali dengan membawa sepiring brownis coklat. Pian menjulurkan tangannya ingin mencomot brownis tadi. Namun tangannya langsung ditepis Sarah.

TAKDIR: Don't left me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang