"Kalah bukan berarti menyerah dan menang bukan berarti segalanya"
-
-
-
-
-
-
-
Tinggal 3 nomor urut yang tersisa, mereka mulai fokus. Bertanding secara sehat tanpa menjatuhkan dan berusaha memberikan yang terbaik. Membuat para siswa kebingungan memilih mereka.
"Lo parah Nay, diajak ngumpul gak pernah bisa. OSIS mulu" Lili memanyunkan bibirnya.
"Maaf"
Anaya, Lili dan Faryn tengah berkumpul ditaman sekolah. Baru saja jam istirahat berbunyi, mereka sudah melesat cepat menuju ke taman ini. Hingga kedatangan Silfi yang tiba-tiba membuat mereka berhenti cerita.
"SILFI!!!!"
Silfi panik, dia langsung berpindah ke belakang kursi yang diduduki Anaya. Mereka kebingungan, Rifat lewat sambil menatap tajam kearah mereka. mereka pun ikut tegang sambil melirik satu sama lain.
"Lihat Silfi?"
Mereka menggeleng dengan serempak.
Rifat menatap mereka satu persatu, sempat Rifat tidak percaya. Tapi sudahlah, sekarang dia harus mencari Silfi dulu. Setelah dirasa Rifat sudah jauh, Silfi keluar dari persembunyiannya.
"Lo kenapa?" Faryn memutar kepala kebelakang.
"Huhhh... Gue capek! Masa iya setiap detik harus bahas OSIS mulu." keluh Silfi.
"Oh, jadi si Rifat nyariin lo buat bahas OSIS?" ujar Lili.
"Rifat itu, kalau punya keinginan, pasti gigih banget" timpal Silfi lagi dan menampilkan senyuman.
"Suka sama Rifat lo?!" ledek Faryn.
"Kagakkk!!!" elak Silfi.
~~~~~~~~~
"Pi, lo kenapa?" Arsya bingung dengan Pian.
Bagaimana tidak, dia lebih banyak diam hari ini. Itu kan aneh. Bayangkan saja, seseorang yang sangat aktif dan banyak bicara ini mendadak cosplay jadi Farul. Bagaimana bisa Arsya merasa biasa saja. Arsya dan Pian sekarang berada di rooftop sekolah.
"Pi?" Arsya melambaikan tangan tepat di depan wajah Pian.
"Maafin gue ya, Sya"
"Maksud lo?"
Pian tersenyum dan memukul pundak Arsya pelan. Perlahan ia berdiri, menepuk nepuk bajunya yang kotor dan pergi. Arsya berbalik kebelakang memperhatikan Pian yang berjalan menjahuinya. beribu pertanyaan ada dibenak Arsya. Ada apa dengan sahabatnya?
Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid SMA sudah berhambur keluar kelas. Ada yang piket, ada yang nongkrong sebentar dikantin dan seorang Arsya sedang berdiri dipinggir jalan. Dia tidak membawa junior hari ini, karena pergi kesekolah bareng Farul. Lumayan, hemat bensin.
Tak sengaja matanya melihat Anaya, Anaya masuk ke sebuah toko bunga. Ngapain dia? Anaya keluar dari toko itu dengan setangkai mawar putih. Apa yang dilakukannya?
~~~~~~~~~~
Dengan kepala menunduk, Anaya melangkahkan kakinya saat memasuki area pemakaman. Bunga itu hampir remuk karena genggaman tangannya. Seolah tuli, dia mencoba tidak mendengar isak tangis seorang anak kecil didekatnya. Langkahnya terasa berat. Angin menerpa rambut hitamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR: Don't left me [END]
Novela Juvenil"Seseorang gak akan bisa faham kalau dia gak merasakan penderitaan yang sama!" "Yaudah.. bagi penderitaan lo ke gue, biar gue bisa faham! " ~~~~~ Dunia menjadi sulit bagi Anaya, takdir menjadi tidak adil kepadanya dan bahagia berubah menjadi a...
![TAKDIR: Don't left me [END]](https://img.wattpad.com/cover/307951969-64-k397969.jpg)