17. perginya Faryn

12 18 0
                                        

................

"ANAYAAAAA!!! ARSYAAAAA!!!" Lili berteriak kencang

mereka keluar dari persembunyian. Anaya dan Arsya reflek berdiri ketika melihat raut wajah panik dari teman-temannya.

"Kenapa?" tanya Anaya bingung.

"Faryn!!! Faryn, Nay!!"

"Faryn kenapa?!!"

"FARYN MASUK RUMAH SAKIT!!!"

Anaya membulatkan matanya, perasaan semalam dia baik-baik saja. Apa yang terjadi pada Faryn.

~~~~~~~~

Setelah bertanya ke resepsionis, mereka buru-buru menuju ruangan Faryn. Belum lagi mereka membukanya. Mereka sudah terpaku melihat keadaan Farul. Mengapa baju Farul penuh dengan darah? Apa yang sebenarnya terjadi.

Mata Farul tidak memancarkan aura dinginnya. Melainkan kekosongan, tidak ada apa-apa di sana. Lili mengguncang tubuh Farul.

"Rul! Faryn kenapa? Rul!" lili sudah panik, air matanya sudah merembes dari tadi.

Pintu ruangan Faryn terbuka dan mereka ingin melangkah masuk. Namun, suster sudah mendorong brankar itu keluar. Seseorang terbaring kaku di balik kain yang menutupi kaki hingga kepalanya.

Silfi memberanikan diri untuk membukanya. Perlahan tangannya menyingkap kain itu. Silfi menutup mulutnya rapat-rapat agar teriakannya tidak terdengar. Arsya memalingkan wajahnya. Anaya terkulai lemas. Dimas dan Rifat hanya bisa menunduk. Lili teriak membuat Riza memeluknya erat.

"FARYNNNN!!!!"

~~~~~~~

Proses pemakaman Faryn sudah selesai. Hanya tinggal teman-temannya disini. Kedua orangtua Faryn sudah pergi sedari tadi. Lili masih memeluk erat nisan yang bertuliskan nama sahabatnya. Hanya terdengar teriakan dari Lili. Anaya memeluk Lili erat, mengusap usap pundak Lili agar dia tenang.

Farul meninggalkan area pemakaman tanpa mengeluarkan suara. Bahkan dia tidak pamit kepada teman-temannya. Anaya juga melakukan hal yang sama. Arsya mengikuti Anaya dari belakang.

Anaya bersandar di pintu mobil sambil memandang langit. Perlahan raut wajah Anaya berubah, air matanya lolos begitu saja. Anaya menangis tanpa suara.

Arsya menghampiri Anaya. Mendekap gadis itu dalam pelukannya. Mengusap pelan surai hitam yang menghiasi dirinya. Anaya masih menangis, namun Arsya menepuk pelan pundak Anaya. Tidak peduli kemeja hitamnya sudah basah karena air mata Anaya. Yang terpenting, gadis itu harus kembali tenang.

"Arsya.... Faryn," Anaya tercekat, tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

"Sstt... Faryn udah tenang di sana, Nay"
Arsya mengeratkan pelukannya. Menyalurkan kehangatan yang membuat Anaya kembali tenang.

"Kenapa cerita pahit selalu hadir di hidup gue" ucap Anaya lirih.

"Karena Tuhan tau lo kuat"

Anaya melepaskan dekapan Arsya. Dia menghapus air matanya. Matanya sudah memerah. Arsya merapikan rambut Anaya dan menepuk pelan puncak kepala gadis itu.

"Lo tau... Hidup itu seperti langit. Gak selamanya bakal hujan. Ya, walau sehabis hujan akan ada badai. Tapi setelah itu muncul matahari kan?"

TAKDIR: Don't left me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang