14. we found you

16 18 0
                                        

"Karena kebahagiaan pasti akan datang"
-

-
-
-
-
-
-
-

Anaya berhenti di sebuah danau, tempatnya dulu sering menghabiskan waktu. Matanya sibuk mencari cari sesuatu. Akankah dia disini? Mungkin saja. Langit sudah berwarna jingga tapi Anaya belum beranjak dari tempat itu.

Seseorang keluar dari air, Anaya melihat ke tepi danau. Seorang laki laki menggunakan jaket hoodie dan celana berwarna hitam melangkah keluar dari air sambil membuka penutup kepala jaketnya.

Rambut dan bajunya basah, tetesan air keluar dari tubuhnya. Kebahagiaan itu kini lengkap. Anaya menggapainya, melingkarkan tangannya di leher Arsya. Memeluknya erat seolah tak ingin kehilangan dirinya.

"Nay, nanti baju lo ikutan basah" ucapnya lembut seolah tak terjadi hal berat dalam hidupnya.

"Jangan pergi lagi, Arsya. Maafin gue sekarang gue faham apa yang lo maksud."

Anaya menangis dalam pelukan Arsya. Arsya memeluk Anaya erat. Mengusap pelan rambut Anaya. Matanya melihat langit senja.

"Maaf" Arsya memejamkan matanya.

~~~~~~~~~~

"Kenapa lo bilang takdir adil? Padahalkan kehidupan yang lo jalani lebih berat"

Hembusan angin menemani Anaya dan Arsya yang sedang duduk di tepi danau sambil menikmati cahaya matahari yang perlahan mulai menghilang.

"Darimana lo dapat kebahagiaan itu?" tanya Anaya lagi.

Arsya tampak berfikir sejenak. "Hm... Dari lo?"

Anaya mengalihkan pandangannya, pipinya bersemu merah. "Gue nanya serius Arsya, " ucap Anaya.

Arsya terkekeh pelan. "Gue serius Nay. Tapi bukan cuman dari lo doang, Dari semuanya, Nay. Dari sahabatgue , dan bahkan saat gue menangin game lawan Farul aja, gue bahagia banget" jelas Arsya.

Dia coba mengingat ingat. Arsya memang tak pernah menang melawan Farul. Seandainya Arsya memenangkan satu game melawan Farul, dia pasti sangat senang karena bisa meledek habis habisan manusia kutub itu.

Anaya memiringkan kepalanya hingga bersandar di pundak Arsya. Matanya terpejam, Lo benar, Ar. Bersama lo, gue bahagia.

Anaya membuka matanya, dia memandang langit. Sudah gelap sekarang. "Ar, kabari mereka diri lo dimana. Bukan hanya gue, mereka juga pusing nyariin lo"

Arsya terkekeh kemudian mengambil ponselnya yang berada dibawah akar pohon. Dia membuka grup, begitu banyak pesan yang belum dibacanya. Jarinya bergerak menekan layar ponsel dan mengirim sebuah pesan.

Arsya mematikan layar ponselnya. Tak lama setelahnya, ponsel Arsya bergetar hebat. Banyak pesan yang masuk membuatnya tersenyum kecil.

"Jangan pergi lagi" Anaya tidak melihat Arsya. Dia kembali memejamkan matanya.

"Kenapa?" Arsya melihat Anaya.

Anaya diam lalu tersenyum. Arsya mendaratkan kepalanya di puncak kepala Anaya. Menikmati hembusan angin malam dan deru suara air yang menenangkan.

TAKDIR: Don't left me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang