33. papa sakit?

9 18 0
                                        

"Karena keluarga lebih dari segalanya. "

Sudah pukul 19:00 sedangkan acara dimulai pukul 20:00. Arsya masih sibuk mencari dasinya. Andaikan ada Arya, pasti dasi itu sudah ditemukan sedari tadi. Setelah kepergian Dara, setelah kejadian itu yang mampu merubah Arya, Arya bagaikan Dara dan dia dapat Mengetahui setiap inci dari rumah. Mampu menemukan barang yang bahkan sudah hilang. Kekuatan turun temurun kah?.

"Dimana ya?" ucap Arsya pelan.

Dia besandar di sofa. Oke,dia sudah menyerah. Jam menunjukkan pukul 19:35. Sebentar lagi acara dimulai. Arsya menaiki tangga, memutuskan untuk mengambil kunci motor dan langsung menuju sekolah saja.

Gubrak

Arsya menoleh kebelakang, Andra sudah tersungkur ke bawah. Tampak Andra sangat lelah bahkan untuk membuka mata saja, ia tidak bisa. Dengan langkah cepat Arsya menuruni anak tangga. dia menggapai Andra. Arsya panik, bagaimana ini? Sedangkan Arya  masih berada di kampusnya.

"Papa sakit, Arsya bantu ya" ucapnya.

Dia membawa Andra menuju kamar Andra. Andra tampak kelelahan. Badannya terasa panas saat Arsya memegang dahi Andra. Andra sudah dibaringkan Arsya di kasur. Arsya melesat ke dapur. tidak butuh waktu lama, dia sudah membawa semangkuk bubur dan juga obat.

"Pa, makan dulu" ucapnya dan membantu Andra untuk duduk.

"Saya bisa sendiri" ucap Andra dingin dan mengambil alih bubur yang ada di tangan Arsya.

Arsya mengangguk dan membiarkan Andra makan sendiri. 5 menit kemudian Andra selesai. Arsya membuka sepatu Andra dan jas yang masih melekat di badan Andra. Andra tidak protes, jujur saja kepalanya terasa sangat berat. Hingga dia tidak bisa menolak.

"Minum obat dulu, pa" ucap Arsya dan memberikannya.

Andra meminumnya setelah itu dia berbaring. Tak lama, Andra sudah terlelap. Arsya tersenyum kecil, dia duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur Andra. Pukul 20:15, Arsya tidak lagi memikirkan acara prom nightnya. Satu yang ada di fikirannya, dia harus menjaga papa nya.

Arsya terbangun ketika Andra tampak terganggu dengan tidurnya. Arsya beranjak kemudian mengecek suhu badan Andra yang bahkan tidak turun sama sekali. Mungkin Andra terlalu sering lembur dan tidak memikirkan kesehatannya.

Arsya pergi keluar kemudian kembali dengan membawa semangkuk air hangat. Dia akan mengompres Andra, semoga saja cara ini bisa menurunkan panasnya.

~~~~~~~~~~

"Papa?" Arya membuka pintu kamar Andra.

Arya terkejut, Arsya tertidur dengan kepala yang berada di tepi ranjang Andra. Bukankah Arsya ada acara di sekolahnya? Lalu kenapa dia disini? Arya mendekat dan menggeser kompres yang ada di dahi Andra.

"Lo relain gak ikut acara itu karena papa demam ya, Ar?" Arya tersenyum melihat Arsya. "Kan lo bisa telfon gue, gue bakal langsung pulang kok. Sama seperti waktu itu ya, lo relain gak ikut turnamen karena gue" sambung Arya.

Demam Andra sudah turun, Arya meletakkan kompres itu kembali ke mangkuk. Dia berjalan dan membuka pintu.

"Udah pulang?" Arsya mengucek matanya.

"Iya, " ucap Arya.

"Lo tidur aja kak, papa biar gue yang jaga" ucap Arsya kemudian Arya mengangguk faham.

Pukul 22:00, Arya kembali masuk ke kamar Andra. Dia membawa sepiring nasi kemudian membangunkan Arsya.

"Bangun! Jangan tidur disini. Pindah ke sofa aja" ucap Arya yang masih menggoyangkan pundak Arsya.

"Untuk gue?" tanya Arsya yang melihat sepiring nasi di tangan Arya.

"Gue! Enak aja lu, " hardik nya.

"Tega lo kak, adeknya kelaparan malah gak dikasih makan" sungut Arsya

"Ya untuk lo lah, harus nanya lagi apa? "

"Ya, mana gue tau. Kadang kadang lo kan jahat kak" ceplos Arsya kemudian memakan sepiring nasi goreng itu.

"Adek lucknut juga lo" hardik Arya kemudian tertawa kecil karena takut membangunkan Andra. "Gue ikut tidur disini ya" sambungnya.

Arsya mengangguk dan masih lahap memakan nasi yang ada di piringnya. Arya tersenyum lagi.

"Gimana sama cewe yang kemarin lo taksir?" Tanya Arsya baru teringat sesuatu.

"Bingung gue liat dia. Gue kayak di tarik ulur gitu."

"Pftt... ups- maaf maaf" Arsya menghentikan tawanya ketika melihat ekspresi Arya yang mengenaskan. "Ajak kencan aja kak" usul Arsya.

"Boro-boro ngajak kencan. Chat gue aja gak dibalas sama dia."

Arsya tertawa tanpa suara. Perutnya sangat sakit karena tertawa cukup lama. Ternyata ada juga ya cewe yang menolak dokter ganteng dan tajir ini. "Turut bersuka cita ya" ledek Arsya.

"Lo mau gue setrum pake Defibrillator ya?" Tanya Arya dengan senyum.

"Ohh... tidak perlu bosku.." tolak Arsya mentah



Don't forget to like and coment

Cerita absurd by me

Thanks for reading guys

Takdir





TAKDIR: Don't left me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang