35. jangan lagi

11 18 0
                                        



Mereka kumpul di rumah Anaya. Tidak ada acara, hanya kumpul kumpul biasa. Semua ada di rumah Anaya kecuali Arsya.

"Lo dimana?! Acara prom night gak datang. Ini juga di telfon baru angkat" Pian memakan wafer yang ada di meja.

"Sorry, bokap gue masuk rumah sakit" ucap Arsya dari seberang sana.

"Lho, pak direk bisa sakit juga?" ucap Dimas ngasal.

Pian memang men speaker kan handphone nya agar mereka bisa ikutan dengar. Riza menoyor Dimas.

"Ya bisalah, om Andra kan manusia juga" kata Riza.

"Sakit apa bokap lo? " tanya Rifat.

"Tifus" jawab Arsya lagi.

"Kita kesana ya, Sya!" Ucap Lili.

"Iya"

Pian mematikan panggilannya. Mereka bergegas menuju Rumah Sakit yang sudah di beritahu Arsya. Sekarang pukul 20:00, masih sempat untuk membesuk orang sakit.

~~~~~~~~~~~~

"Kak Arya mana, Sya?" Pian menaruh buah diatas nakas.

"Otw kemari" ucap Arsya.

Andra masih terlelap karena efek obat. Mereka mencari posisi ternyaman untuk duduk.

"Oh iya, lo ambil jurusan apa sya? " tanya Lili kemudian.

"Matematika" ucap Arsya jujur.

Buuurrrrr

Dimas menyemburkan air yang baru saja di minumnya.

"Hah!" mereka kompak kaget.

Arsya menutup telinga.

"Ternyata, sudah serius dengan matematika" ujar Pian.

Tak lama Arya masuk dan menaruh tasnya, dia baru saja pulang kuliah.

"Ar, pulang sana gih. Lo belum ambil baju ganti kan? Lo juga belum mandi. Sekalian gue nitip bawain laptop" ucap Arya.

Arsya mengangguk. "Oke"

"Ihhhh belum mandi lo?!" Dimas histeris tiba tiba.

Lagi lagi Riza menoyor kepala Dimas. "Diem lu! Namanya juga jagain orang sakit! Lagian si Arsya gak mandi juga lebih wangi daripada lu yang mandi 5 kali sehari!"

Ucapan Riza membuat mereka tertawa sebelum akhirnya berhenti karena Arya menaruh jari telunjukknya di depan mulut. "Ingat, Rumah Sakit," Ujar Arya.

Arsya berdiri lalu pamit sebelum akhirnya dia melangkah keluar. Sudah 5 menit Arsya keluar, Rifat langsung menyusulnya.

"Mau kemana, Ri?" tanya Silfi.

"beli makan malam untuk kita." jelasnya.

Arya baru ingat sesuatu, dia lupa meminta Arsya untuk membawakan charger. Arya menelfon Arsya tapi handphone Arsya malah ketinggalan. Mau gak mau Arya jadi ikut menyusul Arsya.

~~~~~~~~~~

"Siapa disana?"

Rifat mendap mendap. Dia sembunyi dibalik pohon. Itu, Arsya! Tiga lawan satu. Arsya di serang? Tapi seketika Arsya limbung karena seseorang memukulnya menggunakan balok kayu.

Arsya pingsan seketika dan langsung dimasukkan ke mobil oleh mereka.Rifat membuka ponselnya dan mengirimkan pesan disana. Dia melihat motor Arsya tergeletak ditengah jalan. Rifat memang tidak membawa motor sengaja karena tempatnya lumayan dekat.

Arsya diculik

Dia menyimpan ponselnya dan berlari untuk mendirikan motor Arsya. Mobil itu berhenti di sebuah tempat. Lebih tepatnya berhenti di bawah jembatan. Rifat tidak tau ini dimana, dia langsung share lock ke grup.

Rifat masih bersembunyi. Kali ini lebih banyak orang yang ada disana. Kalau dia ikutan, malah nyari mati namanya. Tapi dia gak bisa biarin Arsya gitu aja.

"Hai! Selamat malam" ucap seseorang dari belakang Rifat.

Setelahnya, Rifat tidak tau apa pun, semuanya gelap dan saat dia sadar, dia sudah berada di rumah sakit.

"Arsya!" ucap Rifat.

"Arsya dimana, Ri?! " Anaya panik.

"Gue kok bisa disini?" tanya Rifat.

"pian sama Farul nemuin lo tergeletak di tengah jalan" jelas Lili.

"Lo kemana?! Lo ikutin Arsya kan?! ARSYA DIMANA?! " Pian mencengkram kuat kerah baju Rifat.

Rifat mengernyitkan alisnya. "Kan gue udah share lock! " ucapnya.

"GAK ADA! " jawab mereka kompak.

Rifat mengecek ponselnya. "Sialan" umpatnya. Pasti para bedebah itu yang menghapus pesan yang sudah dikirim Rifat.

"Kita harus cari Arsya!" ucap Farul.

"Ya tapi kemana, Rul?" tanya Riza.

"Terakhir kali lo ingat tempatnya dimana?" tanya Anaya.

Rifat menggeleng. "Gue sama sekali gak tau itu tempat apa" jawab Rifat jujur.

Mata Anaya berkaca-kaca. Apakah dia harus merasa kehilangan lagi? Apakah Arsya akan pergi darinya? Apakah semua akan terulang. Terulang lagi ketika semua sumber kebahagiaan direnggut-Nya. Setelah semua yang sudah dia lalui bersama Arsya? Apakah akan sia-sia?. Pian menggeram. "Rul, cari Arsya." Pian mengepalkan tangannya erat.

Farul mengangguk, tampak wajahnya berubah. Begitupula Anaya. Matanya menyiratkan sesuatu. Jangan lagi,  jangan pergi lagi.

Thank's for reading guys

Don't forget to like and coment

Cerita absurd by me

Takdir

TAKDIR: Don't left me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang