..............
"Nih kak, gue bawa Pian" Arsya menyodorkan Pian.
"Sini, belajar bareng" ucap Arya seraya turun dari tangga.
"Yhaaa... Sya! Lo bilang main PS!" keluh Pian dengan wajah memelas.
Arsya nyengir dan menarik Pian untuk ikut duduk bersamanya. Arya melangkah ke dapur dan membuat segelas kopi hitam untuk Andra. Ya, Andra memang sedang berada di rumah.
"Kak! Untuk papa kan?" tanya Arsya lalu berdiri.
"Iya"
"Gue aja yang antar!" Arsya mengambil gelas dari tangan Arya.
Arsya langsung pergi keruangan kerja Andra. Dia mengetuk pintu lalu membukanya. Andra tidak melirik Arsya, dia masih fokus ke laptopnya. Arsya menaruh gelas itu di sebelah Andra.
"Ini, pa"
"ARYAAAA" teriak Andra tanpa menoleh kearah Arsya.
Tak lama Arya datang. "Ya, pa?"
"Kopi papa mana?" tanya Andra dan tersenyum.
"Tapi itu-"
Arya menghentikan ucapannya ketika Arsya tersenyum ke arahnya. Seperti telepati Arya mengerti maksud Arsya.
Arya kembali ke dapur untuk membuat kopi lagi.
"Arsya keluar ya, pa" ucap Arsya dan menutup pintu perlahan.
~~~~~~~~~~
Anaya menutup pintu rumahnya, dia ingin pergi ke makam Faryn. Sudah lama dia tidak kesana. Saat sampai di pemakaman Anaya bertemu Gafa.
"Hai, Nay" sapanya.
"Kak Gafa? Sering kemari?"
"Lumayan"
Anaya mengangguk. Gafa menarik lengan Anaya.
"Mau ikut gue?"
"Kemana kak?" tanya Anaya bingung dan Gafa tersenyum.
~~~~~~~~~~
"Pa, kapan papa bisa Terima Arsya?" Arya membuka gorden.
"Papa sudah nerima dia, kalau enggak udah pasti papa usir. "
"Pa, Arsya juga Anak papa. Mau berapa tahun lagi papa kayak gini sama Arsya? Kita keluarga pa. Kita bertiga."
"Arya, papa sibuk. Jangan ganggu papa" Andra beranjak kemudian mengambil tumpukan kertas di atas meja.
"Pa! Kepergian mama itu udah takdir pa! Cukup terjebak di masa lalu, papa harus bisa nerima semuanya" jelas Arya.
"Arya, kamu bisa keluar kan?"
"Udah cukup mama yang pergi, Arya gak mau kehilangan lagi. Papa mungkin masih belum bisa Terima. Tapi percuma pa, bersikap kayak gini ke Arsya gak akan mengembalikan mama."
~~~~~~~~~~
"Sialan!!!" cepat-cepat Dimas mengambil ponselnya. Dia mengetik seuatu disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR: Don't left me [END]
Teen Fiction"Seseorang gak akan bisa faham kalau dia gak merasakan penderitaan yang sama!" "Yaudah.. bagi penderitaan lo ke gue, biar gue bisa faham! " ~~~~~ Dunia menjadi sulit bagi Anaya, takdir menjadi tidak adil kepadanya dan bahagia berubah menjadi a...
![TAKDIR: Don't left me [END]](https://img.wattpad.com/cover/307951969-64-k397969.jpg)