12. hancur

19 17 0
                                        

"Lo akan merasa itu penting, ketika lo kehilangan sosoknya"

-
-
-
-
-
-
-
 

Hari ini pensi dimulai. Mereka tampak puas dengan hasil kerja yg mereka lakukan. 4 jam berlalu dan acara sukses besar.

"Ri, sini lo! Mojok mulu sama Silfi!" Teriak Pian yang sudah lelah menumpukkan kursi kursi.

"Gue gak mojok!" Jelas Rifat.

"Akhirnya tugas kita selesai juga.." Lili merenggangkan otot ototnya.

"Dimas mana?" Tanya Arsya yang baru saja turun dari atas panggung.

Pian yang sadar Dimas tidak ada langsung berteriak. "DIMASSSS!" Pian berlari seolah tau dimana Dimas berada.

Mereka tertawa melihat tingkah Pian. Tak lama ponsel Anaya berdering. Dia sedikit menjauh untuk menerima panggilan itu. Seketika dunia terasa sunyi baginya. Waktu seakan berhenti. Anaya melangkahkan kakinya dan berlari keluar sekolah. Farul, Lili dan Arsya melihatnya. Mereka juga ikut berlari mengikuti Anaya.

~~~~~~~~

Mereka berhenti di ujung lorong ketika melihat Anaya yang duduk dengan memeluk kakinya sendiri. Lili mendekat dan menggenggam erat tangan sahabatnya.

"Takdir baik kan?" Anaya menatap Arsya.

Arsya diam. Anaya tidak mengeluarkan air mata tapi mata itu mampu membuat semua orang merasakan hal yang sama. Rasa benci dan takut kehilangan. Semua menjadi satu.

Farul melihat sekilas kaca dari pintu ruangan itu. Terdapat Karin terbaring lemah dengan alat medis menempel di tubuhnya.

"Lo liat kan?" Anaya tersenyum getir. "Gue coba berdamai dengan takdir tapi liat apa yang takdir kasih buat gue?"

"Nay, tante lo pasti baik baik aja." Jelas Arsya.

Anaya menggeram." Kenapa Ar?! Kenapa?! Mungkin takdir adil buat lo tapi gak buat gue! Mungkin bahagia mudah buat lo tapi sulit buat gue!!" Anaya mendorong tubuh Arsya sebelum berlari meninggalkan mereka.

Arsya sempat terdiam beberapa saat sebelum memutuskan berlari mengejar Anaya. Lili juga mengikuti Arsya sedangkan Farul lebih memilih menunggu sambil bersandar di dinding.

Disinilah Anaya dengan semua rasa sakit yang ada di hatinya. Tekad nya sudah bulat. Dia lelah dengan hidup ini. Dia ingin seperti dulu, dimana dia selalu bahagia bersama orang orang yang disayanginya. Mengapa
Semua menjadi sulit bagi Anaya.

"Ma, pa. Anaya capek. Boleh kan kalau Anaya ke tempat papa sama mama?" Kaki Anaya menaiki tembok pembatas. Dia melihat kebawah dan tersenyum kecil. Setetes air mata jatuh dari pipinya.

Anaya memejamkan matanya, perlahan dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia berharap semua bisa berakhir dengan cara ini. Tapi lagi lagi dunia seolah menyuruhnya bertahan. Bertahan dengan segala hal yang menyakiti dirinya.

"Apa yang lo lakuin, Nay! Buka mata lo! Dunia emang kejam tapi lo bisa bangkit! Banyak orang yang sayang sama lo"

Untung saja Arsya dengan sigap menarik tubuh Anaya kebelakang hingga membuat gadis itu berada dipelukannya. Tubuh Anaya bergetar membuat Arsya semakin mengeratkan pelukannya.

"Lepasin gue, Ar! Gue mau ketemu mama sama papa" Anaya berusaha melepaskan pelukan Arsya.

"Sadar! Orangtua lo gak akan senang kalau lo nemuin mereka dengan cara kayak gini!" Arsya memegang pundak Anaya dengan kedua tangannya.

Lili terpaku ditempatnya berdiri. Dia ikut menangis melihat Anaya. Anaya menatap Arsya lama. Dia tersenyum miring.

"Lo gak akan pernah faham sama gue. Karena hidup kita beda. Semua terlalu sulit buat gue. Takdir gak sebaik itu buat gue. Kita beda, apa yg kita rasain beda. Bahagia mudah buat lo tapi ga pernah hadir buat gue lagi! "

TAKDIR: Don't left me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang