10. Tugas pertama

15 18 1
                                        

"Rencanakan kerjamu, kerjakan rencanamu"
-
-
-
-
-
-
-

"REMAAAAAA!!!!"

Farul menghembuskan nafas gusar kala mendengar teriakan melengking dari Faryn. Farul menaikkan bukunya hingga menutupi wajah padahal awalnya dia membaca dengan buku yang sejajar di dada.

"Fans lo tuh," Pian cekikikan

"Rema! Ajarin gue soal Fisika tadi donk, gak ngerti nih!" Keluh Faryn membuat Farul terpaksa menutup bukunya. Anaya dan Lili ikut bergabung dan duduk di depan pian dan Arsya.

"Apa kabar, Ar?" Tanya Anaya dengan sedikit senyum di bibirnya.

Arsya balas senyum. "Baik"

Pian melipat tangannya dimeja, fiks dia jadi nyamuk disini. "Sya! Bangunin gue kalau lo mau beliin gue nasi goreng bu Siti" tutur Pian sebelum masuk ke alam mimpi.

"Rugi!" Balas Arsya.

Bagaimana tidak, nasi goreng bu siti memang terkenal enak di SMA angkasa. Bahkan tak jarang kepala sekolah juga ikutan membelinya dan bagi para siswa kalau tidak mau kehabisan harus memesan sebelum bel masuk jam pertama.

Farul memijit pelipisnya. "Nih, pena gue. Pake ini aja," ucap Faryn.

"Bisa panggil dengan sebutan yang benar?" Ujar Farul.

Faryn hanya menaikkan bahu tanda tak acuh. Dia melirik Lili yang hanya diam. Hanya Faryn, Anaya, Lili dan Tuhan lah yang tau kalau Lili tengah terbakar api cemburu tapi berlagak kalem. Faryn menahan tawa gelinya.

Farul menerima pena dari Faryn dan mulai menjelaskannya. Terkadang Farul tidak habis Fikir. Bagaimana bisa kedua gadis ini merubah nama panggilannya?. Walaupun Rema juga bisa disebut singkatan namanya. Farul Relian Rama.

"Gak pesen makanan, Nay?" Tanya Arsya.

Anaya menggeleng. "Udah makan tadi"

"Kak Farul" seorang siswi menyodorkan sebatang coklat pada Farul. "Untuk kakak" ucapnya.

Farul menerimabya. "Makasih" ucapnya ramah. Seorang siswi tersebut mengembangkan senyumnya sebelum pergi dengan raut bahagia.

"Susahnya yang punya fans" ledek Arsya sambil memainkan alisnya.

Farul tersenyum kecil menanggapi perkataan arsya lalu kembali menjelaskan soal kepada Faryn. Sedangkan Lili? Lili mengalihkan perhatiannya dengan memasang headset dan memainkan ponsel. Anaya diam dan memilih tidak ikut campur dalam urusan cinta segitiga kedua sahabatnya. "Oke! Gue udah faham. Makasih Rema ganteng" Faryn mengedipkan sebelah matanya.

"Sama-sama". Farul tidak menanggapi kedipan Faryn. Dia hanya mengangguk. Farul ramah terhadap orang yang menyukainya. Dia menghargai itu. Tak jarang pula tas Farul penuh saat pulang sekolah. Bukan hanya coklat yang mengisi tasnya. Tapi permen dan minuman berbotol juga ada. Terutama saat jam olahraga atau jadwal ekskul basket. Minuman berbotol pasti lebih dari lima ada di lacinya. Tekadang, Farul heran juga. Dari mana mereka tau jadwal Farul bahkan ketika jadwal latihannya berbeda. Farul menghargainya dengan membawanya pulang atau memakannya saat jam istirahat.

Farul berdiri lalu mencopot headset Lili. Lili memasang wajah protes, "Volumenya dikecilin" suruh Farul dan Lili berdeham. "Ke ruangan OSIS sekarang, kita harus rapat." Ucap Farul sebelum pergi duluan.

TAKDIR: Don't left me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang