......................
-
-
-
"Tidak terasa ini sudah hari kedua kita mengadakan lomba. Pak Karto!!! MUSIKKKKK"
Rifat melangkah dan mengambil selembar kertas.
"Hari ini, kita akan mengadakan lomba lari dan pantun. Tanpa banyak basa basi, silahkan pilih utusan dari setiap kelompok"
Arsya maju dan ternyata Pian juga maju.
"Woah woahhh, gak nyangka malah kalian berdua, okeh langsung kita mulai aja lombanya... Satu, dua, tiga!"
Pian dan Arsya melesat cepat, bagaikan kilat mereka semua takjub melihatnya. Yak, hanya tinggal menunggu mereka kembali kemari. Rifat juga mengikuti mereka menggunakan sepeda dari belakang.
"YEEEYYYYYY!!!! ARSYAAAAAAAA" Lili memberikan minuman itu pada Arsya, Arsya menerimanya.
"Gila! Lo belajar lari dari cheetah apa?" Pian mengusap keringatnya.
"MINUMMM! GAK KUAT GUE!"
Seketika Rifat KO karena lelah menggoes sepedanya. Rifat saja yang naik sepeda bisa tepar, gimana bisa dua sejoli itu masih kuat?
"Skip skip! Juri pingsan!" ucap Riza sambil mengipas Rifat.
"Padahal, lu bawa sepeda" ucap silfi.
~~~~~~~~~~~~
Hari berjalan dan berganti. Setiap lomba sudah mereka jalani, ini hari terakhir untuk lomba. Kini mereka tengah mengerjakan lomba terakhir. Yaitu barang ajaib.
"Lomba yang ini adalah, kalian harus membuat sesuatu dengan barang yang gue bilang. Dan barang kali ini adalah, TALI" jelas Rifat.
Pian, Riza, Silfi dan Dimas sudah masuk kedalam rumah Pian untuk mencari tali. Sedangkan sisanya menyiapkan lem, gunting dan beberapa keperluan yang mereka butuhkan.
Tak lama dari itu. Mereka keluar dengan membawa tali. Mulai dari tali plastik hingga tali kapal pun ada. Awalnya speechless, kenapa rumah Pian ada tali sampai sebanyak ini?.
~~~~~~~~~~
Party sesungguhnya di adakan tepat pukul 20:00 malam. Riza dan Dimas mengambil mic. Mereka mengumpulkan ponsel dan meletakkannya di atas meja. Tidak ada yang boleh memainkan nya.
"Request mau lagu apa?" tanya Riza.
"Rewrite the star!" Seru Rifat.
"Dangdut aja!" seru Dimas.
Musik berdentum membuat mereka bergoyang. Arsya pun ikut ikutan. Farul masih diam di tempatnya, sudah cukup dia malu karena bermain hula hop itu, jangan lagi. Jangan merusak imagenya lagi dengan joget joget begitu. Lili menarik Anaya membuat gadis itu ikut bergabung bersama mereka.
"Ooooooo.... Suka sukaaaaaa, joget di pinggir jalan.. Suka sukaaa nyanyi di pinggir jalan" Dimas melantunkan nada dengan semangat.
Rifat menarik Farul. "Ayo ikutan!" serunya.
"Enggak" ucap nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR: Don't left me [END]
Teen Fiction"Seseorang gak akan bisa faham kalau dia gak merasakan penderitaan yang sama!" "Yaudah.. bagi penderitaan lo ke gue, biar gue bisa faham! " ~~~~~ Dunia menjadi sulit bagi Anaya, takdir menjadi tidak adil kepadanya dan bahagia berubah menjadi a...
![TAKDIR: Don't left me [END]](https://img.wattpad.com/cover/307951969-64-k397969.jpg)