"Tergantung. Lo nurut lo aman," ujar Adipati dengan senyum penuh kemenangan.
"Asli benci banget gue sama lo, Adipati!" teriak Aristha kesal.
Sultan Adipati Shazad namanya. Cowok alim yang kini mendapat julukan Raja Pascal atau Raja Tarung yang sanga...
Happy Eid Mubarak✨🤍 Selamat lebaran semua mohon maaf lahir dan batin 🙏
Gimana lebaran kali ini udah maafan sama mantan? Wkwk
Okay! Thr nya yaa tapii jangan lupa komen sama bintangnya biar makin semangat 😉
Putar lagunya juga biar makin uwu✨
Selamat Membaca! Enjoy!
SLTH; 27
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di sebuah taman milik salah satu Pondok Pesantren seorang gadis mungil nan cantik berada atau lebih tepatnya di dekat bunga-bunga cantik berwarna ungu yang menjadi kesukaannya.
Myosotis Flowers salah satu bunga yang memiliki makna indah didalamnya. Bunga yang melambangkan sebuah cinta sejati dan menghargai dimana jika ada seseorang yang memberikannya itu bagaikan janji bahwa ia tidak akan melupakan orang tersebut dan akan selalu bersama.
Dan, itu yang membuat gadis cantik bernama Aristha sangat menyukainya. Terlebih gadis kecil yang memiliki hati lembut dan tulus sama seperti gambaran bunga kesukaannya.
Tangan mungilnya berusaha meraih bunga itu tapi rupanya tangannya yang belum sampai pun membuatnya berdecak pelan.
"Aduh!" Aristha kecil mengaduh.
"Makanya kalau nggak bisa minta tolong," ujar seorang anak laki-laki yang lebih tinggi darinya dan memiliki umur yang sepertinya dua tahun lebih tua dari Aristha.
"Boleh minta tolong?" pinta Aristha dengan bola mata bulatnya yang menggemaskan membuat anak lelaki tersebut yang tak lain adalah Adipati pun akhirnya mengangguk pelan sebelum memetikkan bunga yang ada di belakang Aristha sebelum memberikannya pada gadis kecil tersebut.
"Terima kasih, Kakak," ujar Aristha kecil.
"Aku bukan kakak kamu," balas Adipati datar tapi justru membuat Aristha tertawa.
Aristha kecil yang waktu itu masih berusia lima tahun dan Adipati yang berusia tujuh tahun itu pun setelahnya asik bermain bersama. Canda dan tawa terdengar mewarnai Pondok Pesantren tersebut membuat orang dewasa yang menyaksikan keduanya mengukir senyum hangat mereka.
Hingga tidak terasa waktu Aristha untuk pulang bersama kakek dan neneknya pun tiba. Ada rasa tidak rela pada Adipati saat itu membiarkan Aristha pergi bersama kakek dan nenek gadis itu, tapi apa boleh buat Adipati yang sudah bisa bersikap lebih dewasa di umurnya yang terbilang masih dini itu hanya diam menatap Aristha yang kedua matanya sudah berkaca-kaca dan siap untuk menangis.