Selamat melanjutkan ☺️
Komen dan bintangnya kuy biar makin seru 😉
Putar lagunya juga biar lebih kerasa feelnya✨
Selamat Membaca!
Enjoy!
SLTH; 33
BRAKK!
Sultan Adipati Shazad datang dengan amarah yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Todongan pistol pun tidak membuat ia takut sedikit pun dengan Adipati yang melempar sebuah bingkai yang dengan tepat sasaran mengenai tangan pria tua yang menjadi sasaran utamanya malam ini dan berhasil membuat pistol yang dipegangnya terjatuh.
Adipati pun langsung memukul rahang Refal Kusuma dan menendang perutnya hingga terjatuh di lantai membuat Bunda Dara semakin terkejut. Adipati menarik kerah kemeja yang dipakai pria tua itu dan langsung memberikan bogeman mentah berkali-kali.
"Jangan.sentuh.Ibu.kami." Adipati berujar penuh penekanan dengan aura dingin cowok itu yang sangat mirip dengan mendiang Ayahnya, Agam Shazad.
Namun, saat Adipati akan kembali memberi pukulan seseorang menahannya dan langsung berhadapan dengan Adipati. Jantaka dengan sisa darah yang terdapat pada mulutnya menahan Adipati yang sudah menggelap.
"ADIPATI UDAH!" teriak Jantaka akhirnya dengan sekuat tenaga dan itu rupanya mampu membuat Adipati tersadar dengan mata tajamnya menatap Jantaka yang bulu kudunya sempat meremang.
"Dia yang udah bikin kita menderita!" ujar Adipati.
"Gue tau! Tapi, berhenti! Udah cukup dia udah nggak bisa apa-apa sekarang," balas Jantaka.
"Apa yang bikin gue harus berhenti?"
"Dia bokap gue! Bokap kandung gue, Pati."
Adipati terdiam dengan mata elangnya yang masih menatap Jantaka yang seperti memohon kepadanya. Jujur Adipati tidak habis pikir dengan Jantaka. Refal hampir membunuh cowok itu bahkan membuat Jantaka mengeluarkan darah dari mulutnya pun Adipati yakin karena Refal.
"Lo masih bisa anggap dia bokap lo?" Adipati mengulangi.
"Lihat Bunda Dara, Pat! Fokus kita keluarin Bunda dan semuanya dari sini. Bokap gue udah kalah," ujar Jantaka dengan menunjuk wanita paruh baya yang terkulai lemas dengan beberapa luka lebam di tangan, wajah, dan kakinya.
"Dini hari nanti tempat ini akan meledak dan Bunda harus keluar sekarang juga," kata Jantaka berusaha meredakan amarah Adipati. "Gue yang tunggu di sini dan cuma lo yang bisa bawa Bunda keluar," lanjut Jantaka lagi.
Adipati pun menghela napas beratnya. "Sepuluh menit." Adipati membalas yang diangguki Jantaka dengan senyum lega cowok itu.
Keduanya pun menghampiri Bunda Dara menyadarkan wanita paruh baya yang sangat mereka hormati sudah seperti ibu kandung mereka sendiri yang setelahnya kedua mata wanita paruh baya itu terbuka dan kedua tangannya yang sedikit bergetar terulur mengusap pipi Adipati dan Jantaka bersamaan.
"Jagoan-jagoan, Bunda," ujar Bunda Dara dengan linangan air matanya sebelum memeluk Adipati dan Jantaka yang membalas pelukkan hangat tersebut.
"Kita keluar, ya, Bunda," kata Adipati yang diangguki Bunda Dara.
Bunda Dara dibantu Adipati dan Jantaka yang berada di kanan-kirinya untuk kembali berdiri. Mereka bertiga berjalan hanya sampai ambang pintu karena Jantaka yang tak bisa ikut turun. Ada hal yang harus cowok itu lakukan membuat ia memilih untuk tetap tinggal.
"Bunda nggak bakal turun kalau Jantaka nggak ikut sama Bunda dan Adipati," ujar Bunda Dara.
"Jantaka bakal pulang, Bun," balas Jantaka dengan senyum hangatnya. "Terima kasih Bunda Dara udah mau besarin Jantaka dan rawat Jantaka dengan baik. Maaf kalau Jantaka sering bikin Bunda kecewa dan belum bisa jadi anak yang baik buat Bunda," lanjut Jantaka.
KAMU SEDANG MEMBACA
SULTHAN
Fiksi Remaja"Tergantung. Lo nurut lo aman," ujar Adipati dengan senyum penuh kemenangan. "Asli benci banget gue sama lo, Adipati!" teriak Aristha kesal. Sultan Adipati Shazad namanya. Cowok alim yang kini mendapat julukan Raja Pascal atau Raja Tarung yang sanga...
