HERE WE GOO~
Komen gemoy sama bintangnya biar makin seru yaaw 😉
Selamat Membaca!
Enjoy!
SLTH; 19
Adipati sampai di Panti Asuhan Aisiyah yang merupakan tempat tinggalnya dulu. Udara Bandung dan suasana panti masih sama meskipun bangunan itu yang berdekatan dengan pondok pesantren tempatnya pernah menaung ilmu sudah terdapat bangunan tambahan dan lebih besar daripada saat Adipati masih disana.
Halaman utama Panti Asuhan Aisiyah langsung membuat Adipati de javu lima belas tahun lalu kala ia akhirnya memiliki teman baru atau Zein yang sebenarnya memiliki panggilan Jantaka. Dimana pada saat itu keduanya masih berumur lima tahun.
Jantaka adalah anak malang yang tinggalkan kedua orang tuanya dan tidak ada kerabat keluarganya yang mau mengurusnya.
Sedangkan Adipati memang sudah dititipkan sejak cowok itu berumur satu tahun karena ketidakmungkinan orang tuanya meninggalkan atau menitipkan Adipati pada kerabat keluarga karena kondisi bisnis mereka yang sedang naik daun dan banyak musuh yang tidak segan-segan menghancurkan keluarga tersebut.
Awalnya Agam dan Liliana hanya berniat menitipkan sebentar dan akan kembali mengambil Adipati hanya saja kecelakaan pesawat tersebut merenggut nyawa kedua orang tua Adipati meninggalkan bocah malang tersebut dengan kebingungan akan siapa orang tuanya.
Namun, kini bocah lelaki itu sudah tumbuh menjadi sosok lelaki jangkung yang siap melindungi siapapun yang ada di sekitarnya. Bahunya yang kokoh tapi sebenarnya memiliki kerapuhan pada punggung tegap tersebut yang nyatanya tak disadari siapapun.
"Mas Adipati, Bunda!" teriak seorang anak kecil dengan peci yang sedikit kebesaran tersebut kepada seorang wanita paruh baya yang sering dipanggil 'Bunda' oleh anak-anak panti termasuk Adipati.
"Assalamualaikum," salam Adipati sembari mengecup punggung tangan wanita yang ia hormati dan yang telah sabar mengurusnya sejak kecil meskipun bukan ibu kandungnya sendiri.
"Waalaikumsalam," jawab Bunda tersenyum hangat dengan pancaran kerinduan pada matanya sebelum ia teringat akan sesuatu membuat Adipati sedikit mengerutkan keningnya. "Sebentar ada titipan dari Jantaka untuk kamu," kata Bunda yang buru-buru masuk dengan meletakkan sapu lidi di dekat tembok.
Adipati pun menunggu sembari duduk di kursi rotan dimana dulu ia dan Jantaka berebut duduk di tempat ini setelah menyelesaikan hukuman mereka dari Ustadz Aziz.
Jangan salah Adipati juga kerap mendapat hukuman meskipun sebenarnya cowok itu menemani Jantaka agar tidak dihukum sendiri. Meskipun begitu keduanya memiliki hafalan Al-Qur'an yang bagus dan banyak Ustadz serta Ustadzah yang memuji dua cowok tampan bersahabat tersebut yang kini justru saling berselisih.
Bunda datang dengan memberikan kotak hitam yang sedikit berdebu tersebut tapi wanita paruh baya itu bersihkan menggunakan tangan sebelum mengambil duduk di samping Adipati dan mengusap kepala cowok itu bagaikan kepada putranya sendiri.
"Di hari yang sama saat kamu dibawa sama Ustadz Aziz, Jantaka juara satu bela diri dan dia dapat pesangon. Jantaka beliin ini buat kamu tapi dia nggak sempat kasih saat tahu kamu ternyata akan tinggal bersama Ustadz Aziz. Jadi, Bunda simpan karena Bunda tahu kamu pasti akan datang kembali ke sini," ujar Bunda dengan memberikan kotak tersebut kepada Adipati.
"Boleh Adipati buka?" tanya Adipati yang diangguki Bunda. Kemudian, cowok itu membuka kotak tersebut yang rupanya sebuah kalung yang tidak asing bagi Adipati karena cowok itu pernah melihatnya kala ia bertarung pertama kalinya dengan Jantaka dan Larung.
KAMU SEDANG MEMBACA
SULTHAN
Genç Kurgu"Tergantung. Lo nurut lo aman," ujar Adipati dengan senyum penuh kemenangan. "Asli benci banget gue sama lo, Adipati!" teriak Aristha kesal. Sultan Adipati Shazad namanya. Cowok alim yang kini mendapat julukan Raja Pascal atau Raja Tarung yang sanga...
