Yeay akhirnya bisa update :)
Vote komennya dungs supaya aku semangat ^.^Siap untuk mengisi semua paragraf dengan komentar?
Btw, ada gak ya yang nungguin cerita ini update?😭
Maaf yaa telat update, banyak di kejar tugas wkwk. Kenapa hrs tugas si? Kenapa ga crush aja? Kn rela gtu dikejar2 :(🛀👰🤴💃👨👩👧👦👨👩👧👦
♡ ALBIRU ♡
Sementara Bella hanya meringis kecil, memegangi detak jantungnya yang nyaris berhenti. Sesak napas semakin dirasakan oleh Bella, semakin tak beraturan hingga membuatnya sulit untuk sekadar menghirup oksigen di sekitarnya.
Sekujur tubuhnya semakin terasa tak nyaman. Bella masih tidak gentar walau dirinya berada di ujung kematian, Bella mencegah langkah kaki Albiru yang hendak pergi dengan cepat.
Tanpa diprediksi, Albiru yang gagal menjaga keseimbangan sehingga tubuhnya terjatuh menindih Bella dengan tangan Albiru yang tanpa sadar menahan kepala Bella agar tidak terbentur dengan lantai.
Dor!
Bertepatan dengan suara keras ledakan timah panas itu, terdengar bunyi pintu yang di dobrak dengan sangat brutal. "KAN BENER APA KATA SAYA, ADA YANG BERZINA DI KAMPUNG KITA!" teriakan melengking dari seorang ibu buncit yang merupakan warga Kampung Sabreh.
Di sisi lain.
Seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian seksi mulai melangkahkan kakinya pelan menghampiri meja. Wanita itu mengenakan rok mini, lututnya terlihat halus, belahan dadanya rendah, lengan tak tertutup dan punggungnya terbuka – wanita yang bernama Beby Princses itu merupakan sekrestaris di kantor itu.
Beby mendekati meja, meletakkan botol-botol wiski yang baru setelah tuannya menghabiskan puluhan botol wiski yang sudah berserak di atas meja. Beby menunduk setengah derajat. Tampak sangat hormat terhadap tuannya.
"Thanks." ucap pria brewok itu datar, tak menatap sekrestarinya melainkan memandangi Menara Eiffel yang terpampang begitu dekat dan jelas lantaran di lantai empat puluh.
Tiga detik sudah kepergian Beby dari dalam ruangan. Pria dengan perawakan tinggi besar dan memiliki rupa wajah yang tergolong begitu kejam, lengkap dengan setelan jas serba hitamnya, merubah posisinya bersandar santai di punggung kursi dengan kaki memanjang menyilang di dekat pembatas jendela kaca.
Dalam satu tegukkan minuman keras itu sudah tandas di gelasnya dan berpindah tempat ke lambungnya. Bertepatan dengan getaran ponsel yang tergeletak di atas meja lantas membuatnya mendengus kasar.
"Oh shit!" Pria itu memutar kursinya hingga menghadap meja kerja, meraih ponselnya dan mendapati nama yang terpampang di layar ponsel.
Dengan gerakan malas, dia mengangkatnya. "Ck, kenapa? saya sibuk." sentaknya kasar.
[Pak Bos hm anu anu Pak Bos hm nganu – ]
Pria itu memutar bola matanya ketika mendengar suara gemetar salah satu pengawalnya. Dia mengisap kuat-kuat cerutunya, disusul embusan asap yang dilemparkan ke udara. "Katakan dengan cepat!" sentaknya lagi lebih kasar.
[Maaf Pak Bos sa-ya ga-gal lag—]
Pria itu memotongnya cepat, gelojak emosi sudah memenuhi raga dan jiwa. "Lalu sebagai gantinya nyawa kau? Mau di mulai dari bagian mana dulu di cabik-cabik? Jantung, ginjal, paru – "

KAMU SEDANG MEMBACA
ALBIRU | MY HUSBAND IS CLASS PRESIDENT
Teen Fiction⚠️PART TERBARU AKAN MUNCUL KALAU KALIAN SUDAH FOLLOW⚠️ "𝓢𝓮𝓹𝓪𝓼𝓪𝓷𝓰 𝓵𝓾𝓴𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓹𝓪𝓷𝓭𝓪𝓲 𝓶𝓮𝓷𝓾𝓽𝓾𝓹𝓲 𝓭𝓾𝓴𝓪." - 𝓢𝓪𝓯𝓲𝓻𝓪 𝓡𝓜, 𝓐𝓵𝓫𝓲𝓻𝓾 "Ah ya gue punya istri buat diajak mati bareng." "Ayang Al kenapa ngomong gitu? Kok...