HALOO SEMUANYA, SAFII DATANG🤩😱🧟🧟🗿🧟😱🧟🗿🎉🤗😭
----------------
Hargai penulis, hanya dengan memberikan vote serta comment. Cerita ini nanti juga mengandung beberapa unsur kekerasan yang tidak patut untuk ditiru.Follow Wattpad Safii ya karena beberapa bab bakal Safii private🦄
So, happy reading🧟
***
DI MOHON JANGAN SIDERS YA GENGS. RAMEIN KOLOM KOMENTAR SETIAP PARAGRAFNYA BIAR ALBIRU UPDATENYA SERING DAN SAFII JUGA SEMANGAT BUAT UPDATE: ()
BTW, DUKUNG TERUS CERITA INI YA SAMPE TAMAT HUHU
BANTU RAMEIN, BANTU PROMOSI HIHI
TINGGALIN JEJAK KALIAN DISINI SBLM BACA. BACA KOMEN KALIAN ITU PALING MOOD!
WARNING!🧟
200 KOMEN & 200 VOTE✍️
KALO BELUM TEMBUS TARGET, SAFII GAK AKAN NEXT DULU🙏🏻
****
"Kok lama banget ya? apa memang separah itu? Gue jadi khawatir kalau gini. Merasa bersalah banget gue, mewakili suhu gue jadi nggak enak hati." Alsaki menggigit kukunya dengan gusar seraya memandangi pintu kamar rawat Bella yang semenjak tadi juga tak terbuka-buka.
"Bener-bener si suhu udah kelewatan parah, gimana kalau tadi kita nggak yang nemuin si berbie bisa makin berabe, mungkin tinggal nama doang. Ini aja udah parah, masa' dokter lama banget periksa si berbie?" lanjut Alsaki. Cukup khawatir.
Sementara Jendra menatap datar kearah Alsaki. "Ssstt, nggak osah mikir aneh-aneh. Kita doain aja yang terbaik," titah Jendra tak terbantahkan lalu Alsaki hanya mengangguk mematuhi.
"Oke, menurut kepercayaan masing-masing." Alsaki mengujar dengan pelan.
Jendra dan Alsaki pun mulai berdoa segala kebaikan untuk Bella yang berada di dalam sana. Setelah berdoa, pandangan Alsaki teralihkan pada ponsel yang masih menyala di atas pangkuannya. Sorot mata Alsaki berubah sendu ketika memperhatikan kalimat panjang yang tertera dan centang satu dalam aplikasi WhastApp itu.
Alsaki meraih ponselnya ke dalam genggaman. "Chat gue nggak di bales, wa suhu nggak aktif. Dihubungin juga nggak bisa. Kenapa ya suhu suka kali ngilang."
Lalu, Alsaki menghela napas berat. Sungguh, ingin rasanya Alsaki mengatakan semua tentang masalah Albiru pada Jendra tetapi balik lagi Albiru tak suka masalahnya diumbar-umbar maka Alsaki hanya bisa bungkam tak bisa melakukan apapun. Menolong Albiru pun, cowok itu menolak keras. Sempat Alsaki berpikir, Albiru sebenarnya mau apa?
"Gue merasa ada yang beda sama Al," Jendra menatap Alsaki dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Tepat di detik yang sama, Alsaki tertegun sejenak mendengar penuturan Jendra tersebut, jantungnya berdebar begitu kencang. Mengontrol mimik wajah terlebih dahulu, dan mematikan layar ponsel serta menaruhnya ke dalam saku, baru Alsaki mengalihkan tatapannya kearah Jendra.
"Beda gimana?"
"Al kayak nyembunyiin sesuatu sama kita." terang Jendra dingin.
Alsaki menelan salivanya susah payah, matanya mengerjab sekali kemudian memalingkan wajah kearah lain, tepatnya kearah pintu kamar Bella yang masih tertutup rapat. Ah sial, untuk apa juga ia memancing dengan obrolan seperti ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
ALBIRU | MY HUSBAND IS CLASS PRESIDENT
Teen Fiction⚠️PART TERBARU AKAN MUNCUL KALAU KALIAN SUDAH FOLLOW⚠️ "𝓢𝓮𝓹𝓪𝓼𝓪𝓷𝓰 𝓵𝓾𝓴𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓹𝓪𝓷𝓭𝓪𝓲 𝓶𝓮𝓷𝓾𝓽𝓾𝓹𝓲 𝓭𝓾𝓴𝓪." - 𝓢𝓪𝓯𝓲𝓻𝓪 𝓡𝓜, 𝓐𝓵𝓫𝓲𝓻𝓾 "Ah ya gue punya istri buat diajak mati bareng." "Ayang Al kenapa ngomong gitu? Kok...