BAB 28. LARANGAN EDRIC

376 41 108
                                    

HALOO SEMUANYA, SAFII DATANG

----------------

Selalu hargai penulis, hanya dengan memberikan vote serta comment. Cerita ini nanti juga mengandung beberapa unsur kekerasan yang tidak patut untuk ditiru.

Follow Wattpad Safii ya karena beberapa bab bakal Safii private

So, happy reading

***

DI MOHON JANGAN SIDERS YA GENGS.

RAMEIN KOLOM KOMENTAR SETIAP PARAGRAFNYA BIAR ALBIRU UPDATENYA SERING DAN SAFII JUGA SEMANGAT BUAT UPDATE: ()

BTW, DUKUNG TERUS CERITA INI YA SAMPE TAMAT HUHU

BANTU RAMEIN, BANTU PROMOSI HIHI

TINGGALIN JEJAK KALIAN DISINI SBLM BACA. BACA KOMEN KALIAN ITU PALING MOOD!

WARNING!

50 KOMEN & 50 VOTE

KALO BELUM TEMBUS TARGET, SAFII GAK AKAN NEXT DULU 🙏🏻

****

"Huft, rasanya kayak di neraka broo, panas gitu ngeliat ada yang berantem. Tapi gak dulu deh, di neraka nggak ada kopi dingin bro."

Alsaki meninggikan suaranya sembari menopang kepalanya dengan menggunakan satu tangan. Alsaki menghembuskan napas berat, menatapi jus jeruk di depan mata dan juga memandangi penjuru kantin yang membludak dipenuhi siswa-siswi SMA Hartahta. Mulai muak memperhatikan dinding tinggi perperangan yang dibangun oleh Jendra dan Albiru.

Tulus ikut merasakan kejenggahan juga. Cowok itu bosan memandangi Albiru yang dibaluti pakaian serba hitam dan Jendra yang berpakaian baju olahraga sekolah super lengkap meskipun wajahnya acak-acakan, yang membuang muka satu sama lain.

Tulus meronggangkan kerah bajunya yang mencekik leher hingga kusut.

"Yang ada kopi rasa bara, bro." sambung Tulus tak kalah tingginya. Membuat mereka menjadi pusat perhatian seisi kantin.

"Lo berdua gak mau baikan gitu? Capek dah gue, biasanya nih kasus beda agama tapi saling cinta yang dihalangi sama dinding tinggi gak bisa ditembus, lah ini udah seiman tapi masih aja berantem." lanjut Tulus mendumel sembari menggeleng-geleng kepala lalu menyeruput minuman kesukaannya dengan nikmat.

Sontak, Alsaki memukul kepala Tulus dengan gregetan. "Gak nyambung, bego. Diem deh, lo ngomong makin pusing gue." Lalu, Alsaki mengacak-acak rambutnya dengan penuh frustasi.

Alsaki menatap Jendra dan Albiru secara bergantian. Wajah Alsaki tampak memelas sekali. "Al ... Dra lo beneran gak mau maap-maapan? Udah 24 jam lo berdua berantem gak mau ngomong lagi dari tadi. Gue pusing liat lo pada, gara-gara cewek jadi kayak gini. Cuma gara-gara cewek cuy. Gak ada yang lebih keren gitu?"

"Lo kira lebaran maap-maapan." Semprot Tulus seraya menatap Alsaki dengan tatapan aneh.

"Diem lo." Alsaki melayangkan tatapan tajam kearah Tulus membuat Tulus menciut dan kembali focus pada makanan dan minumannya yang sudah setengah habis.

Alsaki memijit kepalanya yang mendadak pusing menggunakan tangan. "Lo berdua kenapa sih harus kayak gini? Kenapa harus balapan segala? Padahal lo tau sendiri Al kalau Janda eh Jendra nggak bisa balapan. Noh liat muka lo sekarang makin jelek aja. Luka-luka semua, udah lo obatin, Dra?" ujar Alsaki panjang kali lebar.

ALBIRU | MY HUSBAND IS CLASS PRESIDENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang