"Seungwan." Seungwan yang sedang asyik membaca sebuah majalah menjadi teralihkan atensinya. Ia menoleh ke arah samping, tepat suara panggilan tersebut datang.
"Uhm, aku ingin minta maaf, Seungwan," ucap Joohyun membuat Seungwan menaikkan sebelah alisnya.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Untuk yang kemarin. Aku masih merasa bersalah karena telah menolakmu," jawab Joohyun.
Seungwan pun terkekeh pelan. "Hee~ itu, kan, hakmu. Toh, aku sudah siap dengan apapun jawabanmu. Itu juga risikoku telah mengungkapkan perasaanku padamu," kata Seungwan dengan senyumannya.
"Tapi aku cukup terkejut kau sudah bertunangan," celetuk si gadis Son.
Joohyun dengan canggung mendudukkan dirinya di samping Seungwan. Ia menoleh dan mendapati tatapan tenang dari Seungwan.
"Eng... apa aku masih bisa menjadi temanmu, Seungwan?" tanya Joohyun pada Seungwan. Sedari kemarin pertanyaan itu terus saja menghantuinya hingga membuatnya cemas.
"Jangan bercanda!" Joohyun mengerutkan keningnya mendengar tanggapan tersebut. Apa Seungwan sudah membencinya sekarang?
"Tentu saja kau bisa! Kenapa juga kau bertanya seperti itu?" kata Seungwan melanjutkan kalimatnya tadi. Seketika napas lega keluar dari mulut Joohyun. Ternyata Seungwan tak membencinya.
"Aku takut hubungan kita menjadi canggung. Ya, kau tahu, kan? Banyak hubungan pertemanan yang menjadi canggung karena keduanya tak memiliki perasaan yang sama," ujar Joohyun.
"Tenanglah, kita tidak akan termasuk ke dalam kategori tersebut. Dan sudah kukatakan, bukan? Itu hakmu untuk menolak. Aku juga menghargai apapun perasaanmu," balas Seungwan. Secara tak sadar tangannya terulur menggengam lembut tangan sang lawan bicara.
"Eh, maaf!" Seungwan yang sadar atas perlakuannya segera melepaskan genggaman tangannya.
"Kenapa meminta maaf?" heran Joohyun. Dirinya meraih tangan Seungwan untuk kembali digenggam.
"Hee~ kau tidak berniat untuk menjadikanku selingkuhamu, kan?" canda Seungwan.
Joohyun tertawa. Tangannya yang semula menggengam tangan Seungwan berpindah menjadi memukul pelan lengan itu. Seungwan pun menyengir lebar melihat Joohyun tertawa.
Setelah tawa Joohyun reda, mereka saling bertukar pandangan. Hingga tak lama, keduanya saling melempar senyum.
"Omong-omong... jika kau tertarik, aku ada satu teman yang bisa kau ajak berkencan. Ia cantik, kau tahu," celetuk Joohyun.
"Kapan-kapan saja. Ah ya, aku harus pergi. Ada hal yang harus aku urus." Setelah berkata begitu, Seungwan bangkit dan membawa majalah yang ia baca tadi. Ia berbalik melambaikan tangannya ke arah Joohyun dan melenggang pergi dari sana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.