9. Naluri seorang ayah

619 37 3
                                        

Vote sebelum membaca!

🌱

Selepas menunaikan shalat Maghrib, Zein mengobati luka Gael. Ia mengolesi salep ke luka memar yang ada di tubuh Gael.

Gael merintih kesakitan tanpa suara saat Zein tak sengaja menekan lukanya.

"A!"

"Sakit?" tanya Zean dan Gael mengangguk.

"Ini semua karena Abang! Zein benci Abang!" Zein menangis ketika mengingat Gael, kakak sulungnya dipukuli oleh sang ayah hingga meninggalkan luka memar. Ya, semua itu karena ulah saudara kembarnya, Zean.

Gael menghadap sang adik dan menenangkannya.

"Jangan menangis Zein. Ayah hanya menghukum Kakak, karena Kakak tak bisa menjadi kakak yang baik. Kakak ikhlas dihukum oleh Ayah. Jangan menangis!" Gael menghapus air mata Zein.

"Kakak sudah menjadi seorang kakak yang baik untuk Zein. Ayah yang salah menilai."

"Ini semua karena Abang Zean hiks  ..."

"Karena dia, Kak Gael yang kena hukuman dari Ayah!"

"Jangan menangis! Ini sudah tak sakit. Kamu memang pintar mengobati Kakak. 4 jempol untuk kamu, Zein."

"Kak Gael bohong!"

"Kakak tak bohong. Kakak 'kan kuat!" Gael menyakinkan Zein.

Di kamar Zean, Zean tengah asik bermain game Play Station miliknya. Ia bermain beberapa game untuk mengusir rasa jenuhnya.

"Kukira, Ayah tadi hanya memarahi Si Bisu. Ternyata, memukulnya juga sampai memar menggunakan stik golf."

"Senang sekali aku melihat Si Bisu disiksa oleh Ayah."

Apa yang diucapkan oleh anak kelas 1 menengah pertama itu, kata-katanya tergolong kejam dan menyakitkan. Mungkin, Zean memang sudah membenci Gael hingga lubuk hatinya yang terdalam.

Entahlah sampai kapan ia seperti ini. Gael dan Zein selalu berharap Zean berubah seperti dulu, seorang adik yang sangat menyayangi kakak sulungnya walaupun kakak sulungnya bisu.

Tengah malam, Gael terserang demam tinggi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tengah malam, Gael terserang demam tinggi. Zein terbangun karena ingin buang air kecil. Ketika kembali dari kamar dan hendak kembali tidur, ia melihat kakaknya seperti menggigil kedinginan.

Zein menyentuh dahi kakaknya dan terkejut kakaknya terserang demam tinggi. "Kak Gael sakit?" gumamnya.

"Kak Gael?"

"Kak Gael?"

Zein dengan sigap mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuh.

"39.5° C? Tinggi sekali."

Aksara Yang Berbicara (Terbit)✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang