Semua beranggapan bahwa tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Namun bukan berarti hal itu berlaku bagi semua orang. Bahkan hanya karena satu kekurangan - berkata tanpa suara dan melalui aksara adalah bagaimana cara Gael berinteraksi. Seakan semu...
Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di benak Gael. Ia kira-kira kata-kata itu hanya sebuah pelampiasan emosi Zean seusai di-bully oleh teman-temannya di sekolah karena memiliki kakak yang bisu. Esok harinya pasti akan baik-baik saja seperti sedia kala. Nyatanya kata-kata itu adalah ucapan yang nyata. Zean benar-benar membenci dirinya. Sudah beberapa tahun ini Zean menjauhi dan membenci Gael.
"Gael sepertinya memang pantas dibenci dan Gael tak seharusnya dilahirkan ke dunia." batinnya dan kemudian menangis tanpa suara. Ia hanya bisa meluapkan emosinya lewat air mata.
"Ya Allah, kenapa Gael harus dilahirkan dalam kondisi seperti ini?!!! Bisu, tak bisa berbicara! Hanya bisa membuat malu adik-adik dan orang tua Gael!"
"Kak Gael?" panggil Zein ketika membuka pintu kamar Gael, kakak pertamanya.
"Kakak kenapa menangis?" tanyanya lalu menghampiri Gael dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Gael.
"Zein, Kakak ..." Gael semakin terisak hingga tak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya pada adik bungsunya.
Zein memeluk erat tubuh kakaknya dan membiarkan kakaknya menangis di pelukannya "Menangislah Kak, jika itu membuat Kakak menjadi tenang."
"Zein mengerti apa yang Kakak rasakan. Tak mudah bagi Kakak untuk menghadapi semua ini. Semuanya juga ingin sempurna. Terlahir sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun dalam diri. Tetapi, sebagus-bagusnya harapan kita, planning kita, semuanya itu tergantung restu dan takdir-Nya. Allah memberikan kita kekurangan tetapi Allah juga yang memberikan kelebihan pada kita. Semuanya tergantung cara kita sebagai hamba-Nya mensyukuri semua nikmat dan pemberian dari-Nya." Tanpa sadar, Zein meneteskan air mata saat menenangkan Gael.
"Jangan merasa diri Kakak tak berguna. Jangan merasa diri Kakak tak memiliki apa-apa. Sesempurnanya fisik seseorang pasti ada kekurangannya. Allah memberikan kita kekurangan sekaligus memberikan kelebihan pada kita. Allah adil 'kan?"
"Ah! Air mata Zein ikut menetes. Rembes 'kan jadinya." Mendengar ucapan Zein, Gael yang tadinya menangis menjadi sedikit terkekeh karena ucapan Zein.
"Kakak tertawa atau menangis?"
Gael melepaskan pelukannya. "Keduanya. Menangis kemudian tertawa karena kamu, Zein." Gael kemudian tersenyum lebar.
"Ini baru, Gael Haydar Guinandra, kakak pertama Zein yang tampan. Selalu menebarkan senyum yang manis."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekolah Menengah Pertama Khusus Harapan Bangsa
Jasmine dan Gael mendatangi ruang guru sekolah menengah pertama tempat Gael menuntut ilmu.