Semua beranggapan bahwa tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Namun bukan berarti hal itu berlaku bagi semua orang. Bahkan hanya karena satu kekurangan - berkata tanpa suara dan melalui aksara adalah bagaimana cara Gael berinteraksi. Seakan semu...
Seperti biasa, sebelum berangkat kerja Fahadh mengantar Gael ke sekolahnya. Jarak dari kantor tempat Fahadh bekerja dan sekolah Gael hanya memakan waktu 45 menit dan searah.
"Belajar yang rajin Nak! Tunjukkan kepada temanmu yang normal, kamu juga bisa seperti mereka." Fahadh mengusap pucuk kepala Gael dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Baik Ayah!" Gael tersenyum dan penuh semangat. Sebelum keluar dari mobil Gael pamit pada ayahnya.
"El!" panggil Sultan ketika melihat Gael keluar dari mobil dan Gael berlari menghampirinya.
"Kamu bawa formulir basket 'kan?" Gael mengangguk.
"Seharusnya minggu kemarin dikumpulkan. Berhubung Kak Kairav tak masuk beberapa hari ini jadi ditunda. Seharusnya dari minggu kemarin juga kamu sudah bergabung."
"Tak apa. Aku memaklumi itu."
°°°
Di rumah, Jasmine merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Nampaknya, ia sedang tak enak badan. Wajahnya juga sedikit pucat.
"Ya Allah, kenapa badanku tiba-tiba demam seperti ini? Pagi tadi biasa saja."
"Kakak, Sean datang!" ucap Sean ketika memasuki rumah kakak perempuannya.
Jasmine bangun dan bersandar di sofa.
"Kamu datang ke rumah bukannya mengucapkan salam."
"Maaf, Kak." Sean sedikit kikuk.
"Kakak sakit?" Sean duduk di sebelah Jasmine.
"Sedikit kelelahan. Minum obat juga nanti sembuh."
"Ada apa?"
"Mami, membuatkan ini untukmu Kak. Sup iga hangat. Biasanya Mami membuatkan ini kalau Kakak sedang sakit. Ketika Sean ke sini Kakak sedang sakit."
"Batin seorang ibu benar-benar kuat, Kak."
"Rasanya Kakak ingin memeluk Mami. Ingin mengucapkan terima kasih sudah memperhatikan Kakak." Jasmine sedikit meneteskan air mata.
"Peluk Sean saja Kak."
"Ada-ada saja kamu ini, Dek." Jasmine memeluk erat tubuh adiknya dan menangis.
"Ibu tiga anak ini sedang ingin dimanja ternyata. Akhirnya Sean kembali merasakan pelukan seorang kakak kandung yang jaraknya 9 tahun dengan Sean."
"Sean!" kesal Jasmine.
"Memang benar bukan?"
Jasmine kembali menangis karena kejahilan Sean. Seperti kata pepatah, 'Umur bukan patokan seseorang untuk bersikap dewasa'. Sean sebenarnya bukan kali ini saja jahil pada kakaknya. Walaupun kakaknya sudah menikah dan sudah memiliki tiga orang anak, Sean masih suka menjahili kakaknya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.