Vote!
※※※
Suara beside monitor memenuhi ruangan ICU tempat Gael dirawat. Gael masih belum sadarkan diri sejak dua hari yang lalu. Sungguh jahat orang yang sengaja membuat Gael celaka hingga koma.
Di wajah Gael memar masih terlihat. Gips juga masih terpasang di tangan dan juga lehernya. Kepalanya juga terbalut oleh perban.
Pintu ruang ICU terbuka. Jasmine memasuki ruang ICU dengan berpakaian steril. Kedua matanya terlihat sembab. Air matanya semakin menetes saat mendekati brankar Gael.
"Nak," lirihnya. Jasmine benar-benar tak bisa menahan tangisnya.
"Ya Allah. Jasmine benar-benar tak kuat melihat keadaan Gael hiks ..."
"Gael hiks ... bangun Nak!"
"Jika Bunda tahu kamu akan seperti ini, hari itu Bunda pasti melarangmu untuk bersekolah. Jika kamu tak kembali lagi ke sekolah untuk berlatih, kejadian ini takkan terjadi."
Sebelum kejadian itu terjadi, dua jam sebelum latihan Gael sempat pulang untuk mengganti bajunya karena latihan dimulai pukul 4 sore.
"Ini semua karena Mas Fahadh. Karena Mas Fahadh menyetujui Gael untuk bergabung dengan klub basket." Jasmine mulai menyalahkan suaminya.
Bagi Jasmine, basket baginya kesialan untuk anak sulungnya. Ketika SMP Gael pernah cedera sebanyak 5x. Dan Gael juga hampir sakit parah karena kelelahan berlatih basket. Dari situlah Jasmine benar-benar membenci basket.
●●●
Sedari kemarin Ryota merasa ada yang tidak beres dengan kejadian kemarin. Kejadian di mana Gael terjatuh dari tangga hingga menyebabkan sahabatnya itu koma. Hatinya serasa mendorongnya untuk mengungkapkan kasus Gael.
"Jika benar ada orang yang mencelakai Gael, aku akan menghajarnya habis-habisan." geramnya.
"Ryota, kau terlihat kesal." Sultan kemudian duduk di samping Ryota.
"Antar aku ke satpam atau ke penjaga ruang CCTV. Aku merasa yakin ini bukan murni kecelakaan."
"Kau seperti detektif Conan, Ryota."
Mereka pun keluar kelas dan pergi ke ruang CCTV sekolah.
"Ryota apa kita diizinkan masuk?"
"Pasti. Jika tidak, aku akan ungkap kasus ini ke sosial media."
Pintu ruangan CCTV terbuka. Seorang pria dewasa keluar dari ruang CCTV tersebut.
"Ada yang bisa Bapak bantu Nak?" tanyanya.
Ryota membisikan sesuatu di telinga pria tersebut dan pria tersebut mengangguk setuju.
●●●
Di sekolah, Zein tak bersemangat untuk mengikuti pembelajaran hari ini. Pikirannya dipenuhi pertanyaan kondisi kakak sulungnya. Zein sebenarnya tak ingin bersekolah hari ini. Ia ingin bolos sekolah. Ia tak peduli jika nilainya jelek nantinya.
"Minumlah!" Zean menyodorkan sebotol minuman untuk adiknya. Kemudian ia duduk di samping adiknya.
"Kamu kenapa, Zein? Wajahmu terlihat gelisah. Ada masalah?"
"Zein ingin bolos sekolah. Zein ingin ke rumah sakit menjenguk Kak Gael, Abang. Zein khawatir."
"Untuk apa kamu memikirkan kondisinya? Toh dia sudah di rumah sakit. Bunda pasti memberikan pengobatan yang terbaik untuk anak kesayangannya yang bisu itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aksara Yang Berbicara (Terbit)✓
JugendliteraturSemua beranggapan bahwa tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Namun bukan berarti hal itu berlaku bagi semua orang. Bahkan hanya karena satu kekurangan - berkata tanpa suara dan melalui aksara adalah bagaimana cara Gael berinteraksi. Seakan semu...
