Jasmine menangis dalam kesendirian. Ia masih belum bisa menerima takdir yang begitu kejam menimpa anak sulungnya. Di benaknya ia terus mengerutuki takdir.
Sedari kecil Gael harus menerima takdir terlahir dengan kondisi prematur dan bahkan nyaris meregang nyawa. Di umur 2 tahun Gael divonis tunawicara. Dan di umur Gael yang berusia 18 tahun, Gael harus menerima vonis penyakit tumor otak.
Hati orang tua mana yang tak remuk melihat anak sulungnya menerima takdir yang seperti itu?
Takdir memang sulit ditebak.
"YA ALLAH!!! SEBULAN YANG LALU GAEL HARUS OPERASI DARURAT KARENA ADANYA GUMPALAN DARAH DI OTAK! SEKARANG, DI OTAK GAEL ADA TUMOR! KENAPA KAU TEGA YAA RABB?!! TAK CUKUPKAH GAEL DITAKDIRKAN BISU? UJIAN YANG DITERIMA GAEL TAK CUKUPKAH?!! DIA SUDAH MENDERITA YA RABBI!!!" Jasmine menangis meraung-raung dan terus menyalahkan takdir Tuhan yang menurutnya begitu kejam pada Gael.
"Jasmine selalu berusaha menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak Jasmine. Terutama Gael. Mas Fahadh juga sempat membencinya dan tak mengakui Gael sebagai anaknya karena terlahir bisu."
"4 tahun Jasmine menanti seorang anak. Sampai Jasmine dikatai mandul karena tak bisa memberikan keturunan. Ketika sudah diamanahkan seorang anak, anak yang Jasmine kandung harus terlahir prematur. Usia Gael 2 tahun, dia divonis bisu. Ayahnya tak menganggapnya sebagai seorang anak selama 16 tahun. Sekarang, kau malah memberikan takdir yang begitu kejam!"
"Apa setelah ini kau akan mengambil Gael dari Jasmine?"
●●●
Malam harinya Jasmine pergi ke kamar anak sulungnya. Dan mengusap lembut kepala Gael yang mulai ditumbuhi rambut.
Jasmine meneteskan air mata saat tangannya menyentuh bekas jahitan operasi Gael. Jika Gael menyetujui untuk dioperasi, akan ada dua luka bekas Jahitan di kepalanya.
"Takdir sungguh kejam terhadapmu, Nak. Gael, kamu pasti sembuh. Bunda akan berikhtiar semaksimal mungkin untuk kesembuhanmu."
"Jasmine?" panggil Fahadh.
"Kenapa kamu menangis sayang? Ada apa?" tanya Fahadh dengan penasaran.
"Mas ..." Fahadh mengajak Jasmine untuk keluar dari kamar Gael.
Di kamarnya Jasmine masih menangis. Ia belum siap mengatakan ucapan pamannya pada suaminya.
"Ada apa? Ceritalah pada Mas!"
"Gael Mas ..., dia sakit. Sakit tumor otak jinak." ucap Jasmine. Dan tanpa sadar air mata Fahadh juga ikut menetes.
"Bagaimana bisa, Jasmine? Anakku selalu hidup sehat. Tak mungkin menderita penyakit itu."
"Ya Allah ... Kakak."
"Mas, Jasmine takut. Minggu depan Gael sudah mulai kemoterapi dan radioterapi. Jika dioperasi, Gael akan lumpuh permanen. Dikarenakan tumor itu terletak dekat dengan saraf gerak. Jika diangkat, saraf itu akan putus dan rusak permanen." jelas Jasmine.
"Jasmine tak mau Gael lumpuh."
"Lakukan saja kemoterapi dan radioterapi asal jangan operasi. Mas belum siap untuk itu. Mas tak tega, Jasmine."
●●●
Gael terbangun karena suara alarm dari ponsel pintarnya. Kemudian ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mandi dan shalat Subuh, ia memakai baju seragam olahraganya dan bersiap untuk sarapan bersama keluarganya.
"A ... i U...a." sapanya pada ibunda yang sedang menyiapkan sarapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aksara Yang Berbicara (Terbit)✓
Roman pour AdolescentsSemua beranggapan bahwa tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Namun bukan berarti hal itu berlaku bagi semua orang. Bahkan hanya karena satu kekurangan - berkata tanpa suara dan melalui aksara adalah bagaimana cara Gael berinteraksi. Seakan semu...
