18. Siuman

351 26 5
                                        

Vote!

●●●●

Ryota terus membuka kartu "kekejaman" Frans di hadapan guru, kepala sekolah, dan juga wali kelas mereka. Ryota seperti benar-benar dendam dan kesal kepada Frans karena sudah membuat teman karibnya celaka hingga koma.

Guru, kepala sekolah, dan wali kelas di sana dibuat tercengang dan tak percaya oleh perbuatan Frans. Perundungan yang dilakukannya sudah tingkat parah. Para guru yang berada di sana mengira bahwa Frans hanya melakukan perundungan kemarin saja, ternyata berkali-kali. Gael juga memilih diam dan tak melaporkan kasus ini ke wali kelasnya.

"Pak Yusuf, tolong hubungi orang tua Gael dan suruh ke sini, hari ini juga. Begitupun sebaliknya, Bu Hanna!"

"Baik Pak!" ucap Bu Hanna dan Pak Yusuf serentak.

Kasus ini benar-benar serius. Seorang anak remaja berusia 15 tahun merundungi seorang teman disabilitas hingga terluka, bahkan hingga koma. Ryota dan Sultan dipanggil untuk menjadi saksi atas kejadian ini.

●●●

Satu tamparan mendarat di pipi Frans. Tamparan keras itu ia dapatkan dari Jasmine, ibunda Gael.

"Apa salah anakku? Kamu benar-benar tega dan tak punya hati nurani. Anak saya sekarat di rumah sakit karenamu!" Jasmine berurai air mata mengatakan itu semua. Orang tua mana yang tak sakit hati melihat anaknya dicelakai orang.

"Apa alasanmu mencelakai anak saya? Asal kamu tahu, anak saya tak pernah berbuat jahat pada orang lain termasuk dirimu!"

Suasana ruang BK benar-benar tegang tak ada yang bersuara selain Jasmine. Jasmine mengintrogasi Frans dengan tekanan. Frans, dia hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Jasmine.

"JAWAB!" Jasmine meninggikan suaranya.

"Hai Dek, jawablah! Kau tak bisu 'kan? Jika kau tak jujur, kasus ini akan kami seriuskan!" ucap Sean.

Hanya Jasmine dan Sean yang datang ke sekolah Gael. Kakek dan nenek Gael, mereka sedang berada di luar kota. Sedangkan Fahadh, menunggu Gael di rumah sakit.

"A-aku, merundungi Gael karena, iri. Baru seminggu masuk sekolah dia sudah terpilih lomba piano mewakili sekolah."

"Aku yang membuat jari Gael terluka. Agar dia batal mengikuti perlombaan dan aku yang menggantikannya."

Semua yang mendengar penjelasan Frans terkejut.

"Keterlaluan kamu!" Jasmine ingin kembali menghajar Frans, tetapi ditahan oleh Sean.

"Istighfar Kak!"

"Orang tua mana Sean yang tak emosi seperti ini! Ya Allah ..." Jasmine meneteskan air matanya.

"Asal kamu tahu Frans, Gael jauh lebih piawai darimu dalam memainkan alat musik termasuk piano. Kamu memang memiliki bakat, tetapi tak kamu asah. Kamu terlalu sombong." jelas Pak Hans, selaku guru seni di sekolah tersebut.

Frans juga menjelaskan alasan ia mencelakai Gael. Alasannya hanya satu, ia iri karena Gael terpilih menjadi tim inti basket. Ia juga ingin dipandang hebat oleh teman-temannya di sekolah.

Frans juga tak berniat untuk membuat Gael koma. Ia hanya ingin Gael cedera. Ternyata, apa yang telah dibuatnya membuat Gael terluka parah hingga koma.

Sepasang suami-istri masuk ke dalam ruang BK. Mereka adalah wali murid atau orang tua dari Frans.

Aksara Yang Berbicara (Terbit)✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang