Semua beranggapan bahwa tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Namun bukan berarti hal itu berlaku bagi semua orang. Bahkan hanya karena satu kekurangan - berkata tanpa suara dan melalui aksara adalah bagaimana cara Gael berinteraksi. Seakan semu...
"A!" panggil Gael pada sang ibunda yang sedang menyapu teras depan. Jasmine menaruh sapu dan berjalan menghampiri anaknya.
"Kenapa pulang cepat? Bukankah ada perkumpulan basket sepulang sekolah?" Gael tak menjawab kemudian memeluk ibunya dan menangis di pelukan ibunya.
Jasmine bingung apa yang sebenarnya terjadi pada anak sulungnya. Kemudian ia mengusap-usap kepala belakang Gael.
"Ada apa Nak?"
"Kamu di-bully? Siapa yang mem-bully-mu?" Tangis Gael semakin deras. Jasmine diam sejenak memberikan waktu untuk Gael meluapkan emosinya.
"Tak apa jika Kakak ingin menangis. Menangislah. Bunda tahu pasti ada sesuatu yang membuat Kakak seperti ini."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perkumpulan telah selesai. Seluruh calon anggota dan anggota basket membubarkan diri meninggalkan lapangan basket dan sekolah.
Ryota dan teman-temannya duduk di halte bus menunggu kendaraan umum yang lewat.
"Aku masih kepikiran Gael yang tiba-tiba mengundurkan diri. Kira-kira apa alasan yang membuatnya mengundurkan diri?"
"Entahlah Zhafran. Kurasa, ada yang tak menyetujui Gael bergabung dengan tim basket sekolah." timpal Joshua.
"Apa kira-kira alasannya Joshua sehingga kau berpikiran seperti itu?" Ryota penasaran.
"Maaf. Kekurangan Gael. Mungkin ada yang tak setuju Gael bergabung dan Gael mengetahuinya. Daripada sakit hati ditendang dengan cara halus lebih baik dia, mengundurkan diri. Ini benar-benar sensitif bagi Gael."
"Shua, kau jangan ber-suudzhan! Tak baik!"
"Kak Jans, aku mengatakan itu karena pikiranku mengarah ke sana. Tak mungkin Gael mengundurkan diri kalau tak ada yang membuatnya tersinggung dan sakit hati."
"Apa salah Gael? Dia manusia sama seperti kita. Hanya karena dia bisu, langsung memandangnya dengan rendah. Apa salahnya dia bergabung dan bersosialisasi dengan orang yang normal? Cih! Yang fisiknya normal juga terkadang kurang hati nurani dan akhlak!" kesal Ryota.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.