41. Ayah yang akan menjadi kaki Kakak

449 22 7
                                        

Di rumah sakit Fahadh tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan kedua anaknya. Di dalam sana, Gael dan Zean tengah berjuang antara hidup dan mati.

Mereka saat ini tengah menjalani operasi darurat untuk mengangkat proyektil peluru yang bersarang di tubuh mereka.

"Mas!" Dengan suara terisak Jasmine memanggil suaminya. Jasmine juga datang bersama kedua orang tuanya.

"Bagaimana keadaan Zean dan Gael?" Jasmine semakin terisak.

"Insyaallah anak-anak kita baik-baik saja, Jasmine."

Seorang perawat keluar dari ruangan tersebut, "Maaf pasien atas nama Zean, kehilangan banyak darah. Dan kami memerlukan sekiranya 2 kantong darah golongan A." ucap perawat tersebut.

"Saya bersedia mendonorkan darah saya." ucap Daniyal.

"Saya juga siap mendonorkan darah untuk anak saya. Golongan darah saya A." ucap Jasmine.

"Baik. Kalau begitu ikut saya ke ruang donor darah." ucap perawat tersebut dan kemudian mereka mengikuti perawat tersebut.

•••

"Kak Gael, Abang Zean ..." Zein tak henti-hentinya meneteskan air mata melihat kedua saudara terbaring tak berdaya di atas ranjang pesakitan. Banyak alat-alat yang terpasang di tubuh mereka yang saat ini menjadi penunjang kehidupan mereka.

Zein sedikit mengerutuki ulahnya yang sengaja meninggalkan Zean sendirian di kelas dan ia pulang sendiri. Awalnya ia hanya ingin menjahili saudara kembarnya, nyatanya ulahnya itu berakhir dengan naas.

"Jasmine, Fahadh, sudah Mami katakan untuk menjaga anak-anak kalian! Kalian sudah dua kali lengah. Dan sekarang anak kalian terbaring antara hidup dan mati." Jasmine dan Fahadh memilih diam dan tak membalas ucapan Myah.

"Myah, musibah tak ada yang tahu. Kamu tahu sendiri 'kan kalau orang itu sangatlah licik dan cerdik. Bahkan polisi kesulitan mencari pelakunya." Perkataan Daniyal membela anak dan menantunya.

"Nenek, seandainya Zein tak meninggalkan Zean di sekolah mungkin takkan terjadi hal seperti ini. Ini salah Zein." Zein semakin menangis mengerutuki kesalahannya.

"Mami, Papi, Sean mau pulang. Kasihan Haikal di rumah sendirian. Rifa masih belum diperbolehkan pulang. Dan anak kembar Sean keadaannya mulai stabil. Esok lusa baru diizinkan pulang jika kondisinya membaik." pamit Sean.

•••

Tak terasa seminggu telah berlalu. Zean dan Gael belum sadarkan diri pasca kejadian itu. Syukurlah mereka sudah melewati masa kritisnya.

"Zean, Gael, lekas sadar Nak. Bunda sangat merindukan kalian." Jasmine menangis di depan ruang ICU melihat keadaan kedua anaknya yang masih tak sadarkan diri.

"Bunda, seandainya Zein tak jahil, Abang dan Kak Gael takkan seperti ini."

"Ini juga salah Bunda Nak. Bunda lengah sekali hari itu."

"Orang itu jahat sekali. Kejam. Tak punya hati nurani. Kak Gael sudah beberapa kali menjadi korban dia."

"Apa salah Ayah, Bunda sehingga dia membalaskan dendamnya pada kami?" Zein meneteskan air mata.

"Entahlah Nak, Bunda tak tahu."

•••

Fahadh dan Daniyal datang ke kantor polisi untuk menjadi saksi atas kejadian yang menimpa Gael dan Zean.

Aksara Yang Berbicara (Terbit)✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang