Bab 12

2 0 0
                                        


~

"Tante pulang dulu ya, baik-baik kalian berdua. Jaga adiknya ya Rey. Kalo ada apa-apa langsung telfon tante." Stevani berjalan sambil menuruni tangga. Reyhan mengantarnya sampai kedepan pintu.

Reyhan mengangguki semua yang diucapkan Stevani.

"Sehat-sehat ya Rey. Tante pamit." Stevani menyempatkan mengusap pelan rambut Reyhan, kemudian membalas salaman anak itu. Setelah itu Ia pergi dari rumah Reyhan.

Pintu tertutup, Reyhan menghela nafas. Lelah sekali hari ini. Ia memijit kepalanya yang sedikit pening. Kemudian masuk kembali kekamar Raina.

Raina sudah tidur setelah tadi sempat ditenangkan. Dan semua cerita tentang munculnya Nanda pun diceritakan semua malam ini. Dari Reyhan yang ketemuan di cafe dan Raina yang bertemu di jalan.

Reyhan masuk, dan duduk di pinggir kasur Raina. Raina tidur membelakanginya. Reyhan mengusap lembut rambut Raina. Ia mengecup pelan puncak rambut Raina.

Ia tersenyum miris. Nanda adalah trauma berat bagi Raina.

Semua dimulai ketika Nanda ketahuan selingkuh oleh Bamz. Dengan paksa Bamz menyeret Nanda masuk kedalam rumah dan memarahinya habis-habissan.

Nanda melawan. Ia melawan semua kemarahan Bamz. Tak hanya itu, Ia juga membanting barang-barang yang ada disekitarnya waktu itu.

Reyhan sampai menjadi korbannya. Dilengannya terdapat luka gores yang lumayan dalam. Itu bekas kaca gelas yang terlempar saat Reyhan melindungi Raina yang waktu itu baru berumur empat tahun.

Raina menangis kencang saat itu. Ia berlindung dipelukan Reyhan. Sedangkan kedua orang tuanya tidak peduli sama sekali. Mereka mementingkan ego sendiri.

Dua anak kecil yang tidak tahu apa-apa waktu itu, dipaksa harus tahu. Apa yang terjadi pada orang tua mereka berdua harus tahu.

Lalu, karena disini Nanda yang salah, maka Nanda lah yang paling dibenci.

Dan munculnya Nanda membuat luka lama itu tertoreh lagi. Apalagi Raina yang masih ketakutan setiap melihat Nanda. Saat itu benar-benar seperti bukan Mamanya.

Mereka memang menyelidiki, tapi Reyhan tak tahu jika bertemu langsung dengan Nanda akibatnya sampai seperti ini di Raina.

Mata Reyhan berkaca-kaca melihat wajah Raina yang tenang. Terlintas dalam pikirnya, bagaimana jika Ia pergi nanti?

Bukan bermaksud berfikiran negatif. Hanya saja Ia juga punya rasa lelah. Lelah setiap malam, setiap Ia beraktifitas banyak, rasa sakit itu mengganggu.

Reyhan menjadi merasa bersalah melihat kekurangannya. Ia lemah jika sakit itu datang. Dan harus segera meminta pertolongan.

Padahal, Ia posisinya disini sebagai abang. Abang yang harus melindungi adiknya. Tapi, jika rasa sakit itu datang, Raina lah yang melindunginya. Menolongnya bangkit dan membawanya ke rumah sakit.

Reyhan tersenyum kecut melihat kenyataan itu. Seandainya Ia bisa menjaga kesehatannya, pasti Ia tidak akan sakit. Nasi sudah menjadi bubur, dan waktu tidak bisa diulang.

Semoga saja, Reyhan bisa bertahan lama. Atau bahkan sembuh. Ya, semoga.

~

Prang!

Plak!

Piring Tasa pecah menjadi beberapa bagian. Ia memejamkan matanya, menggenggam erat sendok yang Ia pegang. Wajahnya pun tertoleh ke kanan akibat tamparan.

"Maksut Papa apa si?" Tanya Tasa dengan suara rendah. Ia berdiri menatap Galang yang menatapnya nyalang.

"PAPA INI NGOMONG SAMA KAMU! HARUSNYA KAMU PERHATIKAN! DIMANA SOPAN SANTUN KAMU?!" Bentak Galang. Ia dalam keadaan sadar kali ini. Laki-laki dengan perusahaan yang sukses itu menatap anaknya tak percaya.

Tasa terkekeh miris. Ia menatap tajam Papanya. Walaupun Ia satu darah dengan Papanya, Ia sangat tidak ingin mewarisi sifat Papanya.

"Lagi-lagi sopan santun ya?" Tasa semakin terkekeh, kemudian tertawa kencang. Membuat Galang menatapnya bingung.

"PAPA SAMA MAMA AJA NGGAK PERNAH AJARIN AKU SOPAN SANTUN!" Bentakan Tasa setelah tertawa kencang mengejutkan Galang. Ia tidak menyangka anak ini akan melawannya. Galang tak bisa menyangkal lagi. Ia diam mematung.

"Apa yang papa ajari sama Tasa? APAAA!!" Teriak Tasa pilu. Air matanya menetes begitu saja. Walaupun rasa marah yang dominan, rasa sesak itu tetap terasa ketika Tasa mengatakan apa yang Ia rasakan.

"Papa sama Mama itu cuma gila kerja! Ngga pernah ngajarin Tasa apa-apa." Ucap Tasa dengan nafas yang naik turun. Ia mengalihkan pandangan sambil mengusap air matanya kasar.

"Heran sama kalian berdua. Beneran orang tua kandung Tasa bukan si!" Sarkas Tasa. Kemudian Ia mengambil tas nya dan pergi begitu saja. Tanpa menyalami Galang, yang masih saja mematung. Mencerna apa yang anaknya katakan.

"Shit! Lagi-lagi udah bikin emosi!" Gerutu Tasa.

Ia berjalan menelusuri jalanan komplek, tangannya mengotak-atik ponsel guna memesan taksi online.

Pagi-pagi sekali Tasa sudah bangun, kemudian Ia memasak dua porsi nasi goreng untuknya dan Galang. Tapi malah dibuang dengan enteng oleh Galang. Hanya karena Ia tidak merespon dengan baik setiap semua pertanyaan Galang untuknya.

Julia? Ia sudah tidak pulang sejak dua hari lalu.

Taksi datang. Tasa segera masuk kedalamnya.

"Damn!" Tasa mengumpat pelan saat mendengar lagu yang dimainkan oleh supir taksi tersebut.

Diary depresiku-last child

Anjing! Kenapa lagu ini si! Mana relate banget lagi sama hidup gue! Ucap Raina dalam tweeter.

~

Sampainya di kelas, suasana sudah ramai. Namun, orang yang menjadi semangat Tasa belum datang.

Tasa menghela nafas lelah. Padahal Ia berharap Reyhan sudah datang. Ia tebak Reyhan tidak berangkat, karena Reyhan itu selalu berangkat pagi sekali.

Lalu Tasa menelungkupkan kepalanya pada meja. Ia lelah dengan hidupnya yang seperti ini. Ingin rasanya Ia rubah. Tapi bagaimana caranya? Jangan lupakan, Ia hanyalah seorang anak tunggal yang masih perlu diberi kasih sayang.

"Hana."

Suara seseorang yang Tasa harapkan terdengar. Jantung Tasa berpacu lebih cepat. Perlahan Ia mendongakkan kepalanya.

Dan benar saja, Reyhan telah datang. Senyuman cerah yang cowok itu pancarkan bertambah tampan ketika angin dan sinar matahari menyapu wajahnya. Sangat tampan. Sampai Tasa lupa caranya berkedip.

Senyum Reyhan luntur begitu saja, ketika Ia menyadari merah di pipi kiri Tasa. Ia lantas menyentuhnya lembut. "Ini kenapa Han?"

Tasa yang sadar langsung menepisnya kasar. Ia menunduk dan menutupinya dengan rambut panjang nya. Kemudian menggeleng. "Engga, bukan apa-apa." Ucapnya dengan panik.

Reyhan ini murid pinter, jelas saja Ia tidak mudah dibohongi. Tapi Ia memilih diam. Mungkin memang gadis ini tidak mau menceritakannya.

Tasa memiringkan duduknya, mempersilahkan Reyhan masuk. "Silahkan."

"Terimakasih, Hana." Ucap Reyhan sambil tersenyum tipis. Ia menaruh tas nya dibawah meja.

"Hana, gue harap kita bisa jadi temen deket. Biar lo bisa bagi masalah lo ke gue." Kata Reyhan dengan tiba-tiba.

Tasa hanya bisa mematung, dan mengangguk kaku.

Ucapannya sungguh berdamage.

~

Sun, Jun 5-22
11.23
-at night, I menggalau sendiri.

Hope NotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang