~
"Tunggu di sini Hana. Gue mau Ke atas dulu ambil buku-bukunya."
Tasa masuk rumah besar Reyhan. Suasananya, sama seperti di rumahnya, sepi. Tapi menurut nya di sini lebih menenangkan ketimbang di rumahnya yang sangat banyak cekcok dan barang pecah.
Diam-diam, Ia mengikuti Reyhan ke kamarnya. Dan ketika akan mengintip, Reyhan sudah selesai mengambil buku dan membuka pintu, akan keluar. Tasa yang tertangkap basah, hanya memberikan cengiran tak berdosa. "Hehe, Rey. Maaf ya."
Reyhan terkekeh pelan. Ia kemudian membuka lebar pintunya. Memperlihatkan betapa rapihnya kamar seorang Reyhan. "Rapih kan." Ucapnya bangga.
Tasa mengangguk antusias. Ia menatap takjub kamar Reyhan. Walaupun hanya berdiri di depan pintu, tapi Ia bisa melihat betapa rapihnya kamar cowok ini. "Kok bisa?"
Reyhan tertawa. Ia kemudian menutup pintu kamarnya. "Kan dirapihin."
Kemudian keduanya menuruni tangga. Duduk di ruang tamu, dan mulai mengerjakan tugas kelompoknya.
"Rey." Panggil Tasa ditengah-tengah mengerjakan tugas. Matanya menatap Reyhan yang serius menulis.
Reyhan hanya berdeham singkat. Ia masih fokus menulis.
"Orang tua lo, kemana? Kok sepi banget rumahnya." Tanya Tasa polos. Ia masih setia menatap wajah tampan Reyhan dari samping.
Reyhan menghentikan acara menulisnya. Wajah serius nya berubah sendu. Tapi Ia segera menormalkan kembali, Ia lanjut menulis. "Papa kerja."
Tasa mengangguk - angguk. Ia tak menyadari perubahan ekspresi Reyhan. "Mama?" Tanyanya bingung.
Reyhan menghela nafas pelan sebelum menjawab. "Pergi." Ucapnya dengan senyum miris.
Tasa mengerutkan keningnya. Tentang Reyhan, Ia masih belum tahu apapun. Berbeda dengan Reyhan yang sudah tahu banyak tentang Tasa. "Pergi kemana?" Tanyanya penasaran.
Reyhan menghentikan tulisannya. Ia menatap Tasa, kemudian menyerahkan tulisannya tadi.
"Ini pendapat gue. Kalo punya lo gimana?" Reyhan sengaja mengalihkan pembicaraan, karena Ia tidak suka topik ini.
Tasa kemudian menerimanya, Ia merasa aneh pada Reyhan yang mengalihkan pembicaraan. Tapi Ia tetap melihat tulisan Reyhan. Ia melirik Reyhan sekilas. Hanya wajah tampan dan sedikit pucat yang Ia lihat, maklum saja Ia tidak pintar membaca ekspresi.
"Bagus Rey. Tinggal disatuin sama punya gue aja." Ucap Tasa kemudian.
Reyhan mengangguk. Kemudian Ia mengambil tugas Tasa dan menggabungkan keduannya.
Suara telfon mengalihkan atensi keduanya. Tasa mengambil ponselnya yang berdering. Nama Fendi terpampang di sana. Sebelum mengangkat, Ia menoleh pada Reyhan dulu meminta izin.
Reyhan mengangguk.
Kemudian Tasa mengangkat telfonnya.
"Halo Fen?" Sapa Tasa.
"Nona manis dimana? Ini prince udah di depan rumah tapi ngga ada siapa-siapa. Nona manis ngga lupa kan?"
Plak!
Tasa memukul jidatnya. Sial! Ia lupa. Ia kemudian menatap Reyhan yang fokus menulis pada bukunya. Sedang menyatukan ide kerja sama tadi.
"Maaf Fen." Hanya itu yang bisa Tasa ucapkan. Ia menggigit ibu jarinya sendiri.
Mendengar Tasa meminta maaf, Reyhan menghentikan aktifitasnya. Ia beralih menatap Tasa yang menggigit jari. Tangannya terulur untuk menarik tangan Tasa yang digigit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope Not
Novela JuvenilTidak ada yang mudah didunia ini, semuanya sangat sulit. Jika ingin yang mudah dan menyenangkan, maka kamu harus berjuang dulu. -Sun, Jun 26-22 -6.36 End -Mon, Oct 24-22 -8.10
