Bab 16

2 0 0
                                        


~

Tok tok tok

Ceklek

Stevani membelakkan mata kala melihat siapa yang datang. Seorang Ibu hamil cantik berdiri di depan pintu. Stevani lantas menutup pintu lagi.

Namun tertahan karena tangan Nanda menahannya. "Aku mohon sekali ini aja Van."

Stevani diam. Ia membuka pintu lebih lebar. Membiarkan Nanda masuk. Ia tak tega juga membiarkan Nanda di luar.

Stevani kemudian mengajak Nanda duduk di ruang tamunya. Ia tidak ingin menyuguhkan apapun. Rasa benci ini masih menempel lekat di hati.

"Aku pengen ketemu anak-anak, kamu bisa ban-"

"Engga!" Stevani tahu tujuan Nanda kesini untuk apa. Dan dengan jelas Ia juga tahu apa yang harus Ia lakukan. Ia tidak mungkin lupa kejadian beberapa hari yang lalu, ketika Raina menangis setelah tak sengaja bertemu dengan Nanda.

"Van, aku mohon."

"Gue bilang engga! Ya engga! Temuin aja sendiri." Ia tidak peduli pada Nanda yang tampak melas di depannya. Ibu hamil itu menyatukan kedua tangan, bentuk memohon. Tapi Stevani tidak akan luluh. Bahkan sampai wanita ini menangis darah sekali pun.

"Tapi Van, mereka ngga akan mau nemuin aku. Jadi ple-"

"Itu udah tahu. Ngapain maksa. Dulu juga siapa yang ninggalin mereka?!" Stevani berkata dingin. Ia malas sekali meladeni mantan kakak iparnya ini.

"Van, maafin aku. Ak-"

"Ngapain minta maaf ke gue?" Stevani sudah tidak tahan lagi berbicara dengan wanita ini. "Waktu lo udah habis. Pergi."

Nanda kalap. Ia tidak tahu apa lagi yang harus Ia lakukan. Keinginannya untuk bertemu anak-anak sangat besar. Sampai melupakan Ia yang dulu mempunyai kesalahan besar.

"Van, gue mohon!" Nanda mendekat kearah Stevani. Akan menyentuh kakinya, namun Stevani cepat-cepat berdiri dan menjauh.

"Pergi gue bilang!" Bentak Vani. Ia kemudian berjalan kearah pintu, membukanya lebar-lebar. Mengisyaratkan Nanda supaya cepat pergi dari rumahnya.

Nanda pasrah. Ia berdiri dan berjalan kearah pintu. Keluar dari rumah Stevani dengan perasaan sedih. Ia sadar Ia salah, dan Ia ingin meminta maaf. Tapi Ia tidak tahu maaf yang bagaimana yang bisa mereka terima.

Brak!

Stevani tak ingin menunggu Nanda pergi. Ia menutup kencang pintu dan menguncinya. "Ganggu aja!"

~

"Jay! Gue bosen. Ayo bolos." Ajak Raina. Ia menggoyangkan tangan Jaya yang menopang wajahnya.

"Tanggung Rai, bentar lagi pulang. Lagian bentar lagi ujian kenaikan kelas. Nanti kalo kita ngga naik gimana?" Jaya menolak. Ia menyingkirkan tangan Raina pelan. Kembali fokus memperhatikan seisi kelas.

"Kan kita pinter Jay, pasti naik kok." Raina tetap memaksa. Ia menangkup wajah Jaya agar menatapnya. "Ya?"

"Engga." Jaya tetap kokoh pada pendirian nya. Ia melepas tangan Raina pelan.

Raina berdecak. Ia benci Jaya jika mode ambis seperti ini. Selalu seperti ini setiap mama Jaya pulang. Raina yakin, pasti Mama Jaya mempengaruhi Jaya agar terus belajar, tanpa mempersilahkan tubuhnya untuk istirahat.

"Ngga asik lo Jay!" Raina kemudian berdiri. Ia berniat membolos sendiri saja.

"Mau kemana Rai? Bentar lagi masuk." Tanya Jaya. Ia mengalihkan atensi nya dari buku.

"Bolos!" Jawab Raina enteng. Kemudian pergi meninggalkan Jaya.

Jaya menghembuskan nafas lelah. Ia terpaksa ikut. Ia lalu membereskan barangnya dan juga barang Raina, sebelum menyusul Raina yang sudah jauh.

Hope NotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang