Bab 19

1 0 0
                                        


~

"Lo sakit? Wajah lo pucat banget Rey."

Reyhan tetap mempertahankan senyumnya ketika mendengar pertanyaan itu. Ia sudah dapat menduga kondisinya saat ini. Ia diam menatap Tasa yang kawatir padanya.

"Hana." Panggil Reyhan tiba-tiba. Masih dengan posisi saling menghadap dengan kepala di atas meja.

"Apa?"

Reyhan menatap mata indah Tasa. Ia terpukau dengan keindahan itu. Kemudian matanya turun pada hidungnya, itu juga tidak kalah bagus. Dan terakhir bibir. Stop! Pikiran Reyhan mulai kemana-mana, lantas Ia kembalikan fokusnya pada mata indah Tasa.

"Mau ke dermaga?" Ajaknya mengalihkan pembicaraan.

Mata Tasa berbinar dengan senyum lebar. Ia lantas mengangguk antusias. "Mau!"

Reyhan terkekeh melihatnya. Tangannya terangkat merapihkan rambut Tasa yang menghalangi wajahnya untuk Ia pandang.

Dua orang ini sama-sama mempunyai luka. Namun enggan ditunjukan. Bersikap seolah selalu ceria dan bahagia. Seolah tak pernah mendapat luka.

Dengan bahagia yang sederhana, keduanya bersama.

~

Duakh!

Benturan keras yang dihasilkan oleh kepala Raina dengan tembok toilet.

"Anjing!" Umpat Raina. Ia berbalik badan. Tadi dirinya sangat tidak siap saat mendapat serangan tersebut.

"Ini yang lo dapet karena kesalahan lo kemarin! Gue ngga main-main sama ucapan gue." Fendi menatapnya tajam.

Kini dua orang itu berselisih di dalam toilet wanita. Fendi yang menyelonong masuk. Entah bagaimana Ia bisa tahu bahwa Raina berada di toilet sekarang.

Dahi Raina tergores. Tidak, Ia tidak berdarah karena tangannya sempat melindungi kepalanya. Hanya lecet dikit saja dibagian pelipisnya.

"Banci lo! Balas kok di kamar mandi. Ayo keluar, kita selesain di lapangan." Raina menarik tangan Fendi keras untuk keluar. Di kamar mandi tempatnya sempit, Ia jadi tidak bisa leluasa untuk menghajar Fendi habis-habissan.

Fendi tak bisa menolak, melepas cengkeraman saja susah. Tenaga Raina sangat kuat.

Cengkeraman itu terlepas kasar begitu mereka benar-benar berada di lapangan sekolah. Raina menggulung rambutnya asal. Ia mahir dalam hal ini.

Fendi menatapnya sinis. Ia ingin mengetahui seberapa kuatnya gadis di hadapannya ini. Mau bagaimana pun Raina ini tetaplah seorang gadis biasa, yang tenaganya akan kalah dengan laki-laki.

Raina tidak suka basa basi. Ia langsung memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang.

Fendi menangkis semua serangan yang diberikan Raina. Ia kualahan, tenaganya sangat kuat. "Sialan!"

Raina tersenyum setelah mencetak satu luka diwajah Fendi. Sedetik kemudian, Ia kembali fokus, Ia tidak boleh lengah. Luka kecil itu pasti tidak berarti apa-apa untuk Fendi.

Bugh!

Benar saja, Raina lengah dan Fendi mengambil kesempatan menendang perutnya. Raina mundur beberapa langkah. Ia memegang perutnya yang sakit. Karena rasa sakit itu, fokus nya kembali dan bertambah.

Ia membiarkan Fendi melayangkan kakinya lagi, kemudian Ia ambil. Raina memegangnya erat.

Fendi yang hilang keseimbangan terbanting begitu saja dengan kaki yang digantung Raina. "Shit!"

Raina tersenyum. Saat Fendi akan bangun dan menarik kakinya, Ia buru-buru menyeret kaki Fendi memutari lapangan.

"Sialan! Lepasin anjing!" Teriak Fendi kesakitan. Ia merasa kakinya benar-benar akan lepas.

Hope NotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang