Bab 33

0 0 0
                                        


~

Reyhan menatap atap rumah sakit dengan pandangan kosong. Lagi, Ia sendiri di ruangan ini. Sebenarnya, waktu Raina menemaninya kemarin, Ia sangat senang. Karena adiknya itu sangat jarang mau menemani di saat dirinya cuci darah. Katanya, Ia bosan karena prosesnya terlalu lama.

Hembusan nafas lelah, entah sudah berapa kali Reyhan keluarkan. Ia menatap sekitar, banyak dari pasien lain yang datang bersama keluarga dan teman mereka. Tak seperti dirinya. Sendiri. Rasa mual dan sesak pun Ia rasakan sendiri di sini.

Selesai cuci darah, Ia keluar ruangan itu dengan lemas. Efek samping dari cuci darahnya. Ia duduk pada kursi di depan ruangan. Menyandarkan kepalanya di sana, dan memejamkan mata. Wajah pucatnya sangat ketara, bercampur dengan tubuhnya yang lelah.

"Rey." Suara itu berhasil membangunkannya. Ia menatap gadis yang memanggilnya tadi. Jujur, Ia terkejut namun tetap berusaha biasa saja. "Lo habis cuci darah?"

Deg

Reyhan panik. Gadis ini mengetahui rahasianya, yang hanya Ia dan adiknya saja yang tahu. Reyhan sudah tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang kelewat panik. Ragu, Ia mengangguk.

"Ngga perlu panik Rey, gue janji ngga akan bilang siapa-siapa kok. Jadi bener?" Tanya gadis itu berusaha meyakinkan.

Reyhan menatapnya ragu. Lantas Ia mengangguk. Mau mengelak pun Ia sudah tertangkap basah sekarang.

Gadis itu kemudian menatap tempat kosong di samping Reyhan. "Boleh, gue duduk di situ?"

Lagi, Reyhan hanya mengangguk. Ingin rasanya langsung pergi, karena malu ada seseorang yang mengetahui bahwa dirinya lemah. Namun, rasa lemas di tubuhnya belum sepenuhnya hilang. Apalagi, Ia naik motor sendiri.

"Sejak kapan? Kalau gue boleh tau." Gadis itu bertanya. Matanya menatap lurus kedepan.

"Udah lama." Jawab Reyhan. Ia menunduk, menatap sepatunya.

"Jadi ini, alasan lo sering ngga masuk sekolah. Ngga ikut upacara, dan bolos pelajaran olahraga?" Tanya gadis itu, kini Ia menoleh, menatap Reyhan.

Reyhan mengangguk mengiyakan. "Lo sendiri, ngapain di sini?"

Wajah gadis itu berubah sendu. Ia tersenyum kecut. "Nemenin mama."

"Sakit ginjal juga?" Tanya Reyhan.

Gadis itu mengangguk. Ia menunduk. "Tapi mama udah parah. Udah ngga ada harapan lagi buat sembuh."

Reflek saja, Reyhan mendekat dan merangkul gadis itu menenangkan. Ia bisa bayangkan betapa rapuh nya gadis ini sekarang. Tangannya mengusap pundak gadis itu. "Tenang. Mama lo pasti baik-baik aja."

Gadis itu mendongak. Menatap Reyhan dengan mata berkaca-kaca. Kemudian tersenyum miris. "Ngga akan Rey. Sekarang aja mama ngga sadar. Kata dokter kalo sampai besok tetep ngga ada perubahan, maka alat-alat medisnya bakalan dicabut."

Reyhan tersentak. Ia jadi membayangkan dirinya yang berada di posisi itu. Pasti akan sangat sakit rasanya. Menjalankan HD saja rasa mual dan sesaknya bertahan lama, apalagi itu.

Akhirnya gadis itu terisak juga. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jujur, Ia malu terlihat lemah di depan teman sekelasnya ini. Tapi, semua seolah takdir, yang sengaja mempertemukan mereka. Membagikan rasa sakit yang sama di posisi yang berbeda.

Reyhan merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Jika gadis itu bisa mendengar, kini jantung Reyhan berdetak kencang. Ia takut berada di posisi Ibu gadis ini. Seperti apa rasa sakit yang akan Ia hadapi jika sampai di posisi itu? Dan apakah akan ada orang yang menangisinya seperti, gadis ini yang menangisi ibunya?

Hope NotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang